Di waktu lebaran tradisi kita sungkem dari satu rumah ke rumah lainnya sudah sangat mengakar kuat. Kadang sangking banyaknya rumah yang kita sungkemi, kita malah kayak jadi jalan-jalan kelililing kampung. Tapi pernahkah kamu melihat ada mobil mewah yang terpakir di suatu rumah reyot tua, kemudian terlihat satu keluarga dengan wajah perkotaan mengenakan baju rapih berada di dalam rumah berkumpul bareng dengan keluarganya?

Apa yang kalian tangkap?

Well, ini ada hubungannya dengan bahan perbincangan ama Bu Ning, guru SMA gue. Awalnya dia bercerita tentang perkuliahan. Dia bercerita bahwa besok kalau kuliah kita semua bakal merantau dari kampung ke kota. Kita bakal seperti orang-orang yang berbondong-bondong ke kota untuk nyari kerjaan, cuman bedanya kita nyari ilmu. Entah bagaimana cerita Bu Ning melebar ke Jakarta yang macet. Lalu dia berkomentar kalau satu-satunya waktu dimana Jakarta enggak macet adalah waktu lebaran. Kemudian dia bertanya ke kami semua,

"Eh kalian tau kan orang-orang kaya yang mudik dari Jakarta ke kampung?"

*semua murid angguk-angguk.

"Kalian tau enggak, mereka adalah contoh orang-orang berhasil yang berasal dari kampung. Mereka dengan kerja keras merantau dari kampung mencari penghidupan hingga akhirnya sukses di kota."

*Sontak pernyataan itu mem-blow our mind. Satu kelas pada memahami konteks dalam sosial kita.

Iya ya, guepun menmbatin seperti itu. Di Indonesia terkadang kita melihat kenyataan di kampung ada orang-orang kota datang dari berbagai kota membawa mobil mewah bersama keluarganya yang berwajah tampak modern dibanding orang kampung. Kemudian mereka menuju ke suatu rumah reyot tua dan menginap disana. Waktu kecil gue pernah membatin, kok mau sih tidur di sana? Kan mereka kaya kenapa enggak nyari hotel aja?

Advertisement

Tapi, sekarang gue paham kenapa mereka mau tidur di rumah reyot tersebut. Karena di sanalah dia dididik menjadi orang sukses yang bisa kaya seperti sekarang.

Guepun berpikir, bahwa kesuksesan ternyata tidak hanya milik seorang yang hidup di tempat yang serba berkecukupan, hidup di tempat serba modern, fasilitas ditunjang, teknologi disiapkan, dan berbagai kesempurnaan hidup di kota.

Gue pernah mendengar suatu quotes di acara Hitam Putih. Bahwa dalam hidup ini seperti bola yang memantul. Arti hidup bukanlah menjadi bola yang bisa berada di titik tertinggi, tetapi bola yang memiliki daya pantul untuk bisa meraih di titik tertinggi. Jadi bagi orang kampung yang hidup serba susah, mereka ibarat dia berada di titik paling rendah, tapi kemudian dengan berbagai usaha dan kerja keras, akhrinya mereka menjadi orang sukses di posisi atas.

Kemudian ada orang kota yang telah berkecukupan, dia tidak butuh banyak energi dan usaha untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, dan akhirnya dia pun juga bisa sukses sama dengan orang kampung. Jika mereka terukur sama-sama suksesnya, tetapi bagi orang kampung bisa sukses dari level bawah akan membutuhkan banyak pengorbanan. Ini terlihat bagaimana dia memiliki daya pantul yang luar biasa.

Itulah esensi kehidupan. Enggak peduli kalian gagal-gagal-gagal, teruslah berjuang, teruslah meraih mimpi tinggi itu, teruslah memantul setinggi-tingginya. Tuhan tahu mana yang berkorban lebih banyak, mana yang hanya malas-malasan ngopi ngangkring setiap hari. Mindset-kan pikiran kalian bahwa "Yang penting gue usaha terus, mau nanti gagal, mau nanti dihina tetangga gue. Yang penting ada usaha dari gue. Dan, gue tahu Tuhan selalu melihat usaha gue."

Jadi begitulah. Opini gue di atas merupakan salah satu contoh dari pepatah yang mengatakan, kita bisa mendapatkan pelajaran dari segala apapun. Banyak hal di sekitar kita yang bisa petik pelajaran. Tapi kita hanya memetiknya, tanpa menggunakannya. Dan pesan gue yang terakhir, jadilah orang yang seperti di judul artikel.