Rasanya aneh dan "deg" juga di hati ini, ketika kita mendengar kabar bahwa seorang yang kita sayangi ternyata dirinya kini telah dilamar oleh orang lain. Rasanya campur aduk terdengar di telinga kita. Entah apa yang terasa, senang atau sedih. Senang karena mendengar kalau si dia akan dibahagiaakan oleh orang lain. Atau justru begitu sedih karena bukan kita yang akan membahagiakan dirinya.

Rasanya seperti baru kemarin saja, ketika kita masih begitu dekat dengannya. Ketika dirinya masih kita harapkan untuk menjadi jodoh kita. Oh, rasanya kabar yang kita dengar itu begitu mengejutkan. Serasa tak ada angin dan tak ada petir, namun tiba-tiba turun hujan yang begitu deras. Hujan penasaran yang mulai merasuk ke dalam fikiran kita. Apakah kabar itu memang benar, atau sekedar kabar angin yang mencoba mengusik telinga kita.

Advertisement

Ketika dia yang sudah dipinang oleh orang lain itu adalah orang yang kita sayangi dan kita harapkan. Entah dia adalah orang yang kita anggap sebagai kekasih, pacar atau gebetan kita, ataupun tidak. Tentu kabar itu membuat kita terdiam sejenak,

“Mengapa engkau sesegera ini menjadi milik orang lain, apakah tak ada waktu bagiku lagi untuk mengejarmu?”

Namun kala kita sadar, sekarang ini kita itu siapa baginya. Ya tak ada hal lain yang mungkin bisa kita lakukan kecuali hanya mencoba menerima dan mengikhlaskan si dia. Kita berusaha mengikhlaskan seseorang yang sudah menjadi milik orang. Tentu kita sadar, mengharapkan orang lain yang telah menjadi milik orang lain adalah sama saja dengan menanam benih kekecewaan sakit hati pada hati sendiri.

Advertisement

Dia memang telah menjadi milik orang lain. Bagi kita yang pernah bersamanya, entah dalam batasan orang yang kita kejar, pernah dalam jalinan pacaran, temen deket atau gebetan istilahnya. Atau orang yang sangat kita harapkan. Jika kita benar-benar mencintainya, maka niscaya kita akan merasa kehilangan harapan untuk bersamanya.

Pudar sudah harapan di hati ini, cinta yang ada rasanya itu sia-sia banget. Apalagi bagi kita yang telah berjuang demi dirinya, atau telah melakukan banyak hal demi mendapatkannya. Tetapi jika kita terlalu berkeluh kesah dalam kesedihan karena kandasnya cinta kita.

Maka justru kita akan terbunuh sepi dalam sakit hati, apalagi saat melihatnya bersama kekasihnya itu. Wow, pasti rasanya begtu jleb menancap di hati. Sakit banget, saat kita tak bisa merelakan apa yang telah di gariskan oleh Allah SWT.

Lalu apa lagi yang bisa kita perbuat, tentu kita bukanlah orang yang bodoh yang masih mencoba merayunya dengan berbagai cara. Atau coba membujuk dirinya, bahwa pilihannya itu salah baginya. Tentu juga hal yang begitu membuat kita malu, saat masih berusaha meyakinkan dirinya untuk berpaling bersama kita.

Rasanya hal itu aneh dan lucu juga jika kita lakukan. Jika seperti itu tentu serasa begitu tak berharganya diri kita ada di dunia ini, hingga mengemis-ngemis cinta kepada seseorang hanya demi supaya dia mau bersama kita. Cinta yang tulus itu kan tanpa paksaan dan juga tanpa diminta-minta seperti pengemis. Apakah kita masih inginkan cinta yang diberikan oleh orang lain itu ternyata adalah karena ia iba pada kita?

“Memang berat rasanya hati melihatmu bersama orang lain, namun apalah dayaku jika memang dirimu digariskan Allah bukan menjadi jodohku”

Lama dan butuh waktu juga bagi kita untuk bisa menerima kenyataan yang ada. Bukan karena kita yang terlanjur patah hati. Bukan pula kita yang sering dikatakan sulit untuk move on. Mungkin lebih tepatnya hal itu karena kita yang benar-benar tulus mencintainya.

Bagi kita, dahulu tumbuhnya perasaan baginya itu pasti butuh waktu. Apalagi ketika harus memaksa membuat perasaan itu hilang, tentulah butuh waktu pula. Semua tak terjadi secepat membalik telapak tangan, atau seperti berbalik badan untuk tak melihatnya lagi. Hal itu karena bagi kita, dia telah berada di tempat yang sering kita lihat dan rasakan. Dia selama ini telah hadir dan bertempat dalam ingatan dan hati kita.

“Selamat ya, kamu telah dapatkan calon pendamping hidupmu. Aku pun turut bahagia, semoga engkau pun lebih bahagia.”

Ada waktunya kita akan tersadar, biarlah ia menjadi milik orang lain. Karena memang bukan dia jodoh kita. Cinta yang ada di hati juga lama-lama akan hilang sendiri, karena hati pun tahu tentang siapa yang tak pantas lagi untuk diharapkan.

Waktunya hati ini tuk percaya, tentu mudah bagi Allah SWT tuk menumbuhkan cinta dan membolak-balik hati. Mungkin saja selama ini, kita saja yang terlalu cepat berharap. Atau terlalu cepat pula mengeksekusi cinta yang ada semau kita. Hingga tak jarang kita tergesa-gesa berdoa meminta agar si dia akan menjadi jodoh kita.

Saat sudah ikhlas, uh rasanya plong dan lega sekali. Kita tak begitu memikirkan dia akan nikah kapan dan bagaimana-bagaimana lagi dia. Kita tahu itulah pilihan dia, ya semoga si dia bahagia saja. Kita tentu sudah enjoy menerima kenyataan. Entah apa yang dibilang orang, bagi kita sudah tak ada masalah atau hal tentang dirinya yang harus dikait-kaitkan dengan kita. Hingga dengan senang hati kita bisa berkata,

“Cie udah lamaran, cie udah nikah, cie cie. Semoga bahagia deh.”

Tak terasa punya beban, akhirnya kita pun kita tersenyum seperti biasanya. Walau ada sebagian orang yang menganggap kita masih memendam sakit hati. Tetapi sebenarnya kita sendiri yang tahu. Betapa kita sudah bisa mengerti bahwa hati kita sudah sadar dan move on.

Semua hal yang ada di masa lalu bisa kita ambil hikmahnya. Semua hal yang ada sekarang harus kita nikmati dan syukuri. Selanjutnya segera kita wujudkan harapan baru untuk masa depan. Kita niscaya bisa menyadari,

“Jika seseorang memang akan menjadi jodohnya hati ini, maka tentu dia tak akan meninggalkan pergi.”

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya