Aku telah mengagumimu sejak lama, jauh sebelum aku mengenal arti terluka dan meluka. Aku mengagumimu dalam kesendirian aku, dalam tatapan mata aku yang tak sanggup melihat gerak -gerik kamu. Aku mengagumimu senyummu itu, tubuh kamu yang gempul, gerakan-gerakan tangan yang aku tangkap di balik punggungmu.

Aku mengagumimu jauh sebelum aku mengerti makna arti dari sebuah perjalanan. Aku mengagumimu sejak 12 tahun yang lalu, dan aku hanya bisa mampu menangkap senyum-senyummu yang saat ini nyata untuk aku.

Advertisement

Dulu jika aku hanya bisa melihat dari punggungmu saja, saat ini aku bisa langsung merengkuh semua tubuhmu. Entah apa yang saat ini Tuhan takdirkan untuk kita berdua, sekian sudah banyak perjalanan yang sudah kita lalui, berbagai macam perasaan yang sudah kita jamah dan kita singgahi.

Hei, Kamu. Aku tak bisa berkata apa-apa selain menikmati alur ini dari semesta..

Waktu sudah terlalu banyak memberikan kita kesempatan untuk mengenal satu sama lain dan aku percaya bahwa setiap pertanyaan dan jawaban itu satu. Hanya saja kita harus lebih bersabar untuk jawaban itu. Dan sampai di sini, kita sadari tidak akan bisa menjalin sebuah hubungan yang lebih jauh. Keyakinan itu yang disebut beda, meski Tuhan kita satu.

Advertisement

Mencari cara agar kita sama-sama menjaga hati, aku sudah mengerti (semoga) bahwa memiliki perasaan sayang itu tidak harus memiliki.

Saat ini kita cukup saling mendoakan, semoga perjalanan dan pengalaman pada akhirnya membuat sebuah keputusan sebijak dan sedewasa mungkin. Saling mengingatlah lagu ini jika kerinduan menyapa lembut hati. Dan tetap menjadi dan selalu melakukan hal baik apapun yang kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan..

Mudahkan hidupnya hiasi dengan belaimu..

Sucikan tangan-tangan yang memegang erat harta..

Terangi harinya dengan lembut mentarimu..

Buka genggaman yang telah menjadi hak mereka..

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya