Jembatan merupakan sarana penghubung antar daerah yang dibatasi oleh suatu kondisi alam misalnya saja sungai. Wajib hukumnya bila sarana ini dirawat dengan sebaik-baiknya guna memperlancar dan menjaga keselamatan mobilitas di atasnya. Jika kondisi jembatan sudah tidak atau kurang layak untuk dilalui, sebaiknya perbaikan dan pengecekan berkala segera dilakukan oleh pihak pemerintah. Kita bisa bayangkan bila sarana yang satu ini rusak, berbagai macam kepentingan akan terganggu olehnya.

Seperti halnya yang terjadi di Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Jembatan yang terletak di Desa Leminggir ini kondisinya sangat parah. Jembatan Turi, penghubung antar-kecamatan dan juga jalur alternatif ini sering dilalui oleh banyak pengendara. Hal ini tidak berbanding lurus dengan kondisi yang diharapkan.

Advertisement

“Padahal jembatan ini alternatif juga ke Mojokerto, Bangsal, Mojoanyar serta Mojosari, tapi kondisinya masih kurang seperti ini,” kata Tukijan, warga Desa Leminggir. (Kamis,6/7/17)

Jembatan dengan panjang 200 meter dan lebar 5 meter ini, mendapat perhatian serius dari pihak desa setempat. Melalui Remaja Masjid Baitul Muttaqin, perbaikan mulai dicicil sedikit demi sedikit. Dana perbaikan ini didapat dari sumbangan pengendara yang melintasi jembatan ini. Aksi ini sudah dicetuskan sejak awal 2016 lalu. Hal ini dilakukan karena tidak adanya turun tangan pemerintah.

“Kami sudah berembuk tentang kondisi jembatan ini sejak tahun lalu, tidak lama kemudian kami melakukan aksi ini untuk kelancaran, keselamatan dan juga kepentingan bersama,” kata penasehat Masjid Baitul Muttaqin, H. Sukadi.

Advertisement

Hasil sumbangan yang didapat berkisar antara Rp 600 ribu sampai Rp 700 ribu per harinya. Dana tersebut dialokasikan ke pembangunan Masjid Baitul Muttaqin dan juga Jembatan Turi sendiri. Hingga saat ini perbaikan masih berjalan 75 %. Pelapisan jalan jembatan dengan plat besi dilakukan secara bertahap sampai ke ujung jembatan. Proses ini diperkirakan selesai 4 hingga 5 bulan kedepan. Semua hal ini dilakukan sendiri oleh remaja masjid dan juga masyarakat sekitar dengan bergotong royong.

“Untuk pelapisan plat besi mungkin 4 sampai 5 bulan ini selesai, hanya kurang beberapa plat lagi. Maklum jika pengerjaannya lama, namanya juga dari dana sumbangan,” tuturnya.

Peristiwa ini sudah sampai di telinga pemerintah. Hingga pernah, Pemkab Mojokerto memberikan dana perbaikan. Kerusakan ini sebelumnya juga sudah dilaporkan warga ke pihak desa maupun kecamatan. Tetapi menurut Pemda setempat, jembatan ini adalah hasil keputusan pemerintah pusat. Jadi Pemda juga hanya bisa menunggu keputusan dari pusat untuk melakukan perbaikan.

Jembatan yang berdiri sejak tahun 1997 ini, sudah banyak menyebabkan kerugian bagi pengendara yang melintas. Tidak jarang, kecelakaan kecil sering terjadi di jembatan ini. Meskipun tidak serius atau menyebabkan kehilangan nyawa, tetap saja kondisi jembatan yang kurang baik ini mengancam keselamatan pengendara. Misalnya saja, pedagang telur yang kehilangan keseimbangan dan menyebabkan telur yang dibawa terjatuh lalu pecah. Selanjutnya, dikarenakan kayu alas jembatan yang sudah berlubang menyebabkan hentakan keras pada kendaraan yang merobek karung beras yang dibawa sehingga beras tercecer di atas jembatan. Dari kondisi itu, warga memberi larangan bagi kendaraan bertonase lebih dari 5 ton untuk melintasi jembatan karena kayu jembatan sudah lapuk dan bisa memperburuk keadaan.

Hingga saat ini, turun tangan pemerintah sangatlah diperlukan untuk perbaikan yang lebih mantap. Warga berharap untuk perbaikan dilakukan secara menyeluruh oleh pemerintah.

“Kami berharap perbaikan dilakukan pemerintah secara total, jembatan dibangun kembali dengan struktur beton serta diaspal, bukan kayu lagi dan lagi,” pungkas Sukadi.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya