Aku sering bertanya sendiri pada diriku. Menanyakan tentang siapa yang akan mendampingiku kelak. Pendamping yang akan bersamaku menghabiskan sisa waktu yang diberikan Allah padaku di dunia ini. Seseorang yang akan menjadi kekasihku, menjadi jodohku. Aku tahu memang Jodoh itu adalah misteri, suatu yang sangat dirahasiakan oleh Allah terhadapku. Begitu juga bagi semua orang. Hingga aku pun bertanya pada diriku, mungkinkah jika itu dirimu yang akan jadi jodohku?.

Sesekali terbayang dalam fikiranku ketika diriku memperhatikanmu atau tatkala aku mengingatmu. Terbayang bahwa dirimulah yang akan menyelipkan jemari di sela-sela jemariku untuk aku genggam sebagai seorang kekasih. Hingga aku pun jadi tersenyum sendiri ketika bayangan itu muncul. Namun rasanya malu pula terhadap diri sendiri, kenapa aku jadi mengharapkanmu. Mungkin semua ini terasa di hatiku, karena hubungan antara kita yang sudah begitu baik dan akrab.

Tahukah kamu, sungguh bahagia hati ini ketika kurasakan ada kehadiranmu. Entah itu saat bertatap muka, bertebar sapa atau dengan cara apapun yang sekiranya kau memberikan perhatian padaku. Perasaan ini memang tak aku duga. Namun sering kali aku pun berusaha menahannya, karena aku takut jika aku terlalu berharap. Kusadari bahwa harapan yang terlalu besar, namun jika tak terwujud maka akan membuat luka hati yang begitu dalam. Aku taut salah menempatkan harapan yang timbul di hati ini. Tetapi apalah dayaku, aku terlanjur mengagumimu.

Sosokmu memang istimewa, mungkin banyak orang yang suka. Bukan mungkin lagi sih, tentu banyak yang mengagumi dirimu. Ya setidaknya jika tak banyak yang mengagumimu, harusnya kau menyadari bahwa ada aku disini yang dengan mendapatkan sapa senyummu saja sudah sangat bahagia sekali. Sampai saat ini aku pun sering begitu bahagia, kenapa tidak? Karena sekarang kau itu begitu perhatian pada diri ini. Kau telah menjadi sosok yang begitu akrab denganku, tak hanya akrab bahkan kau memang begitu dekat.

Aku merasa senang sekali, ntah bagaimana caranya aku mengungkapkan isi hati ini. Ketika dirimu kini terlihat begitu banyak berikan perhatian. Kau nampak terasa lebih semakin akrab saja denganku. Terkadang aku pun masih ragu juga, tak menyangka apa yang sering terbayang difikiranku kini seolah sedang diberikan jalan oleh Tuhan. Seakan harapan yang sering kutanyakan pada diri sendiri, kini telah diberikan lampu hijau untuk menggemgam jemarimu sebagai jodohku. Ah namun kurasa itu masih terlalu dini untuk aku simpulkan, padahal sekarang antara kita masih dalam jalinan seperti ini. Memang belum ada kepastian yang bisa aku yakini sepenuhnya bahwa kita akan bersama.

Advertisement

Kita memang sekarang sudah begitu dekat, sudah begitu sangat akrab. Namun satu hal yang tak ingin aku lihat dalam hubungan ini. Satu hal yang tak aku harapkan hadir mengisi kedekatan antara kita.

“Jangan agresif ya, mari pantaskan diri dan jalani semua ini dengan nyaman dan membahagiakan.”

Bukannya aku yang kini jadi jual mahal atau sok jaim terhadapmu, karena kini kau sudah begitu dekat denganku. Tak usah lah banyak merayu, karena bukan rayuan-rayuan yang telah membuatku mengaggumimu. Tak usah lah banyak ngegombal aneh-aneh atau mengucapkan banyak kata-kata manis. Karena bukan dari itu aku telah menyukaimu. Apalagi sampai kau jadi genit-genit aneh begitu, aku jadi pengen tersenyum dan menjitak kepalamu dengan gemas sambil berkata.

“Tak usah khawatir, jika aku disuruh memilih. Aku tak menolak kok, jika aku ditakdirkan menjadi jodohmu.”

Tetaplah nikmati proses yang ada, jangan terlalu berambisi walau kita memang saling berharap. Jalani proses ini dengan saling memantaskan diri, itulah yang terbaik bagi kita. Jika aku memang ditakdirkan untukmu, tentulah tanpa kita saling paksa maka aku pun akan bersamamu. Tanpa kita saling bermanis janji dan tergesa-gesa, kita pun akan jadi pasangan juga. Kau tentu juga menyadari kan?. Jodoh yang bahagia itu bukan tentang seberapa cepat ia bisa bersama, namun seberapa siap diri ini untuk bisa saling membahagiakan.

Jadilah pribadi yang baik, niscaya aku pun semakin menyukaimu. Kau bisa kejar cita-citamu, kau bisa wujudkan semua mimpi-mimpi besarmu itu dahulu. Kita bisa wujudkan semua harapkan kita masing-masing. Janganlah membuat perasaan yang ada ini justru menghambatmu tuk semakin menjadi lebih baik. Pokoknya jangan tergesa-gesa, jika jodoh aku yakin pasti kita akan bersama. Jika tidak, ya tentunya kita telah menjadi pribadi yang lebih baik. Mungkin Allah telah menyiapkan sosok lain yang lebih tepat untuk membahagiakan kita. Walau sekarang, kau lah yang masih aku harapkan. Jadi, tetaplah berbaik sangka pada Sang Maha Penentu Jodoh. Dia lah sumber pemberi kebahagiaan dan kemanfaatan atas perasaan yang ada ini.

Ketahuilah, bukanlah karena sekedar dari rupa aku menyukaimu. Bukanlah karena dari sekedar perhatianmu, aku menjadi jatuh hati padamu. Bukanlah hanya sekedar kata orang, aku mempercayaimu. Aku telah mengenalmu sejak lama. Bukan karena hanya cinta, aku mengharapkanmu. Jika ditanya lagi, ketahuilah bahwa aku tak menolak tuk menjadi jodohmu. Hal itu karena aku telah menilai dan meyakini bahwa dirimu dengan segenap apapun yang kau miliki, semua itu akan mampu membuatku hidup bahagia jika bersamamu.