Akhir-akhir ini banyak sahabat, teman kerja, teman sekampung, teman kuliah, teman sekolah yang memutuskan untuk menikah. Kita semua ikut bahagia saat menerima undangan untuk menghadiri resepsi pernikahan mereka. Akun medsos yang berbahagia karena menikah pun dibanjiri ucapan, doa, harapan hingga wejangan.

Pernikahan menjadi moment yang dinant-nanti kebanyakan orang karena satu tahap baru dalam hidup pun dimulai bersama pasangan. Banyak hal bakal dijalani sebagai pasangan suami-istri. Budgeting pemenuhan kebutuhan keluarga muda pun dirancang bersama.

Advertisement

Sayangnya, ternyata banyak keluarga muda yang abai terkait pentingnya memahami batasan berutang dalam hidup berkeluarga. Banyak yang menyepelekan batas maksimal utang. Secara prinpsip, utang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya tidak bakal terpenuhi dengan dana tabungan seperti untuk membeli rumah.

Membeli rumah dengan cara berutang layak dilakukan karena sulit terpenuhi. Harga rumah itu memiliki karakter kenaikan yang lebih tinggi dari inflasi. Bunga bank pun jelas tak sebanding dengan inflasi. Bunga tabungan jauh di bawah inflasi.

Belum lagi, kenaikan gaji pertahun pun tak sebanding dengan kenaikan harga rumah yang tiap tahunnya melejit bak roket. Kecepatannya tak tertandingi laju kenaikan gaji. Umumnya gaji naik 10 % pertahun, sementara itu kenaikan harga rumah bisa mencapai 35%.

Advertisement

So, kalau pakar keuangan mengatakan batas berutang itu sebaiknya 1/3 dari penghasilan bersih perbulan, itu bukan saran atau wejangan yang isapan jempol semata. Jangan sepelekan wejangan tersebut. 1/3 dari penghasilan bersih perbulan adalah angka yang rasional dan realitis.

Rasional dan realistis karena menyangkut kewajiban atau kemampuan mengembalikan utang alias tidak gagal bayar dan kenyamanan keluarga yang bakal tak tersandera dan terganggu karena dikejar-kejar debt collector alias tukang tagih.

Kata kuncinya; jangan sampai jumlah utang melebihi 1/3 dari penghasilan bersih perbulan. Nalarnya 2/3 dari gaji bersih perbulan adalah angka ideal untuk pemenuhan kebutuhan hidup keluarga. Jumlah ini akan membantu keluarga terbebas dari kejaran tukang tagih.

Bukan rahasia lagi, utang adalah kewajiban yang harus dipenuhi hingga mati. Bahkan, harus dipenuhi ahli waris. So, jangan berutang yang berpotensi dikejar-kejar debt collector hingga membebani ahli waris.

Repot, makan hati dan bikin baper kalau kita sampai dikejar-kejar tukang tagih utang. Belum lagi, malu kita dibuatnya kalau si penagih sampai mendatangi tempat tinggal kita. Apa kata tetangga! Demi nyaman dan amannya hidup keluarga, ingat: maksimal utang 1/3 dari penghasilan bersih, bukan penghasilan kotor.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya