Indonesia 'Lucu' dan Kritik Tanpa Solusinya

Indonesia, negara dengan luas hampir mencapai 2 juta km², jumlah pulau sebanyak lebih dari 17.000 pulau, membentang dari Sabang di provinsi Aceh sampai Merauke di pulau Papua. Negara terbesar dengan nomor urut ke-13 dari seluruh 193 negara yang terdaftar di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Negara kaya yang memiliki berbagai macam sumber daya alam mulai dari emas, gas alam, minyak bumi dan puluhan harta karun dunia yang tidak mungkin bisa disebutkan satu per satu.

Negara yang menjadi rebutan negara-negara besar di dunia saat perang dunia dikarenakan kekayaan sumber daya alamnya. Negara dengan lokasi yang sangat strategis, terletak di antara 2 benua dan di antara 2 samudra. Terletak di posisi silang dan dilewati jalur jalur perdagangan lintas negara. Negara dengan jumlah penduduk lebih dari 260 juta dan dengan tingkat kepadatan penduduk terbesar ke-4 di dunia. Yang sayangnya, jumlah penduduk berbanding terbalik dengan kesejahteraan rakyatnya.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli, hanya 20 persen rakyat Indonesia yang hidupnya dapat benar benar "merasakan" kemerdekaan. 80 persen sisanya menghilang, kabur ditelan gelapnya kehidupan di Indonesia.

Angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kesejahteraan terendah se-Asean. Negara dengan kekayaan yang sangat powerfull, naasnya justru malah menjadi negara yang tak mampu menyejahterakan rakyatnya.

Tapi, kita juga tidak bisa menyalahkan pemerintah. Memang kalau kita tarik semua masalah di Indonesia, tentu saja semua ada hubungannya dengan kebijakan pemerintah yang entah kenapa, sekarang kebijakan pemerintah kian hari kian aneh dan jauh dari logika. Mulai dari kebijakan pemerintah yang anti-kritik, kenaikan harga BBM secara tiba-tiba yang bahkan tidak ada seorang pun selain Tuhan dan pejabat negeri kita tercinta yang sadar bahwa harga BBM telah meningkat, dan beberapa kebijakan-kebijakan aneh lainnya yang tentu saja tidak mungkin disebutkan satu per satu di sini.

Di samping pemerintah beserta kebijakan-kebijakannya yang sepertinya tidak bisa dinalar, tentu tidak bijak jika hanya pemerintah yang disalahkan. Salah satu peribahasa mengatakan bahwa pemimpin adalah cerminan rakyatnya. Kumpulan singa akan dipimpin oleh seorang singa. Kumpulan semut akan dipimpin oleh seorang raja semut. Tidak mungkin sekumpulan singa akan dipimpin oleh seekor semut dan kumpulan semut akan dipimpin oleh seekor singa. Begitu pula jika kita analogikan dengan dinamika kebangsaan di Indonesia. Pemimpin yang lurus adalah cerminan bahwa rakyatnya adalah kumpulan orang orang yang lurus. Pemimpin yang bengkok adalah cerminan bahwa rakyatnya adalah kumpulan orang orang yang "bengkok".

Sayangnya, kebanyakan rakyat Indonesia tidak paham dengan konsep seperti ini. Memang ada sebagian orang yang paham dengan konsep ini, namun mayoritas orang Indonesia kerap menyalahkan pemimpin mereka tanpa ngaca terhadap apa apa yang mereka lakukan. Banyak orang yang kemudian menyalahkan pembuat kebijakan, padahal sebenarnya orang tersebut sama sekali belum melakukan sesuatu untuk bangsa ini.

Kebijakan dikritik, tanpa sekali pun diberi solusi untuk kebaikan bersama. Kritik, kritik, dan kritik, tanpa satu pun solusi.

Perlu ditekankan lagi bahwa memang tidak semua rakyat Indonesia seperti ini. Namun, kebanyakan dari rakyat Indonesia memang memiliki pola pikir seperti itu.

Indonesia diisi oleh orang orang yang lucu. Lucu, karena di saat negara-negara lain sedang sibuk berlomba-lomba untuk menciptakan roket yang mampu terbang jauh menuju luar angkasa, orang Indonesia masih sibuk membahas apakah bumi ini datar atau bulat. Lucu, ketika saat orang di negara-negara lain sedang sibuk mempersiapkan atlet-atlet terbaiknya untuk berkancah di ajang olahraga lintas negara, orang Indonesia masih sibuk saling membunuh, bacok-membacok hanya karena beda tim sepak bola yang didukung.

Terlalu banyak hal "lucu" yang jika kita lihat lebih dalam lagi, justru hanya ketakutan yang kita dapatkan. Terlalu banyak hal sepele yang kalau kita lihat lebih dalam lagi, dampaknya sangatlah besar terhadap eksistensi bangsa ini.

Hanya di Indonesia, di mana bule berkata "nasi goreng", orang Indonesia bangga dan bertepuk tangan layaknya monyet, sedangkan orang Indonesia asli yang salah dalam mengucapkan bahasa inggris dibully sampai habis. Hanya di Indonesia, di mana seorang bocah 10 tahun harus meninggal hanya karena masyarakat yang tidak tahu budaya antre saat pembagian sembako di Monas. Hanya di Indonesia, tempat di mana amoxicillin, obat keras yang memiliki resiko tinggi menyebabkan resistensi, dijual dengan bebas di pasaran, bahkan ada di warung warung di pinggir jalan.

Banyak, terlalu banyak hal yang harus diperbaiki di negara ini. Tapi, tidak ada kata terlambat. Tidak ada kata terlambat untuk mereka yang selalu ingin berusaha dan memperbaiki negeri ini. Negeri ini tidak tertinggal. Rakyat kita tidaklah bodoh. Indonesia diisi dengan orang orang cerdas, yang di mana jika kecerdasannya digunakan di jalan yang benar dapat menjadikan Indonesia sebagai negara nomor 1 di Asia, bahkan di dunia. Banyak orang yang sekarang sudah memulai gerakan-gerakan perubahan, gerakan yang nantinya akan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Gerakan kemahasiswaan kian hari kian merebak, kesadaran rakyat akan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa semakin terlihat. Yang dibutuhkan negara ini, hanyalah munculnya 1 orang penguasa yang dapat memanfaatkan dan memberdayaan berbagai macam sumber daya melimpah yang ada di Indonesia ini. Tugas kita adalah menunggu, berharap, dan bersiap-siap agar apabila saatnya telah tiba, kita dapat ikut serta dalam memajukan negara ini. Tugas kita sekarang hanyalah berusaha memperbaiki diri dan menjadikan diri sebagai contoh warga negara yang ideal yang dapat ditiru oleh orang lain. Memulai perubahan dari diri sendiri dan dari sekarang, itulah langkah awal yang nantinya akan berdampak besar untuk memajukan bangsa yang sama-sama kita cintai ini.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini