Dalam hidup kita selalu diberikan berjuta pilihan. Termasuk dalam suatu hubungan, mengenai itu status antara laki-laki dan perempuan sangatlah dibutuhkan. Seperti hubungan kita saat ini, sebenarnya sangat sederhana sekali untuk diketahui. Namun, aku sendiri masih melihat dari sisi lain. Kau dan aku sudah lama saling mengenal, sudah sejak dari bangku SMA atau bisa disebutkan 6 tahun yang lalu kita saling mengenal.

Melihat dari cerita awal pertama kali kita bertemu, sangat menarik sekali. Pada saat itu kau datang ke kelasku sebagai murid pindahan baru, kau datang dengan rasa malu lalu kau duduk di samping kiri bangkuku. Aku sendiri awalnya biasa saja tapi saat itu kau datang bertepatan dengan Ujian Tengah Semester (UTS), yang pastinya kau pasti terkejut karena kau datang sebagai murid pindahan baru lalu disambut dengan ujian itu. Tanpa rasa malu, kau bertanya tentang soal yang telah diberikan oleh pengawas pada saat itu, dalam hatiku bertanya "apabila aku beri dia tahu jawaban soal ujian itu. Maka pengawas di depan akan menindak tegas karena tidak boleh membocorkan jawaban soal. Tapi, dengan diam-diam aku punya cara sendiri lalu memberitahu jawabannya". Pada saat itulah awal dari kepedulianku terhadapmu.

Waktu pun terus berjalan, kau nampaknya sedang memiliki sebuah masalah besar. Tanpa ragu, aku bertanya langsung padamu dan kamu sendiri menceritakan segala kesedihanmu tentang hidup, cinta, keluarga, dan masih banyak hal lainnya. Aku sendiri sangat terharu pada saat itu, kepedulianku kepadamu kini semakin bertambah lagi. Aku sendiri bahkan tidak mengharapkan suatu balasan baik itu dari segi materi atau segi lainnya. Karena yang aku tahu, hidup ini harus saling berbagi terhadap sesama dan kepedulian kita harus di pupuk sejak dini.

Kepedulian seorang lelaki tidak dapat di nilai oleh materi atau sefi lainnya.

Setahun berlalu kita berteman, kini rasa kepedulianku nggak tau kenapa aku sendiri tidak dapat memahaminya, aku mulai menyukaimu. Namun, aku sendiri belum tahu apa yang kamu suka dan apa yang kamu tidak suka. Ternyata setelah kita banyak bicara apa yang kamu inginkan itu sangatlah sederhana. Cukup dengan membuatmu selalu bahagia, itu sudah memenuhi keinginan hati. Tapi dibalik itu, aku selalu sadar diri karena selain percaya diri, sadar diri itu tak kalah penting. Aku ini orang yang nggak punya, cukup banyak kekuranganku dibandingkan denganmu dan hal yang paling penting adalah kita ini pernah berucap janji bahwa kita cukup dengan bersahabat karena sahabat nggak akan pernah hilang sampai matipun.

Advertisement

Jika persahabatan jauh lebih indah. Apa boleh buat, karena hidup itu harus bahagia dan sumber bahagia bukankah salahsatunya dari persahabatan?

Kini aku menyadari bahwa kita cukuplah bersahabat karena dulu sebelum ini kamu pernah menjalin kasih dengan salahsatu dari persahabatn kita yang ujungnya hanya meninggalkan luka. Cukup itu saja yang pernah terjadi diantara persahabatn ini dan jangan ada lagi.

Jangan lupa untuk bahagia! Semboyan itulah yang menjadikanku untuk selalu berbahagia.

Jakarta, 15 Oktober 2016