Aku pernah menuliskan mimpi-mimpi masa depan dalam berlembar-lembar kertas, dan sekarang entah dengan istilah merangkak, terseok,aku sedang berjuang. Katamu aku manusia paling tabah, saat semua meninggalkanku, aku diam. Kau tahu aku bukan manusia tabah, aku sama sepertimu, sendiri kaku dalam drama yang kuperankan, sudah kubilang aku bukan manusia paling tabah, aku hanya menjalankan peranku,a ku tak memiliki pilihan, aku lelah mengeluhkan yang telah hilang, bukankah yang kulakukan sama seperti kalian.

Katamu aku wanita yang tegar, saat kehilangan menyapa, aku pun diam, aku bukan manusia tegar, aku hanya mencoba tegar, karena berteriak marah pun aku akan tetap kehilangan. Bukankah itu takdirku? Lantas aku bisa apa selain diam sembari menguntai doa ke Sang Maha Punya.

Advertisement

Aku pernah hilang arah, sebelum akhirnya kutemui jalan yang benar, aku pernah berantakan sebelum akhirnya kucoba belajar merapikan hidupku, akupun pernah liar sebelum akhirnya bisa kukendalikan diriku, aku juga pernah rumit seperti benang kusut hingga akhirnya kutemui kesederhanaan, karena bukankah Tuhan meminta kita untuk sederhana, berdoa dan berusaha atas takdirnya?

Kau ingin tahu bagaimana rasanya jadi aku? Temuilah aku kapanpun kau mau, dan rasakan getar-getar itu, gempa bumi yang tiada taranya, dan kau akan rasakan bagaimana aku menahan semua beban yang ada pada hidupku, lagi-lagi kau akan tahu bahwa aku bukan manusia tabah, ataupun tegar, aku sama sepertimu menyembunyikan sebaik mungkin kesakitan yang kualami.

Tak semua kepahitan dan kesedihan masa lalu harus dilupakan, karena sesekali penting juga menoleh ke belakang. Bukankah dari sana kita belajar memaafkan? Bukankah dari sana kita belajar tabah? Bukankah dari sana kita belajar tegar? Hingga akhirnya kita benar-benar mahir, dan kita benar-benar tabah dan tegar menjalani hidup.

Advertisement

Luka lama di masa lalu kini sedang kusulam,karena nanti saat aku memakainya bahkan aku akan terlupa bagaimana pernah mati-matian memaafkannya. Kini aku sedang merapikan hatiku untuk kubawa seserpih demi seserpih meskipun tak akan utuh seperti semula, meski ia pernah hancur dan lebur tapi sedang coba kurekat dengan memberinya keikhlasan terhadap takdir-Nya.

Kuakui jalan menujuNya begitu terjal, jauh berliku dan dipenuhi aral, mungkin aku akan beberapa kali berhenti karena tertusuk duri, mungkin lelah untuk menyeka darah dan melepas lelah, dan aku sudah terlalu payah,hingga perjuanganku menujuMu mungkin akan kalah sebelum sampai. Tapi Tuhan, aku masih berjuang sampai saat ini, aku masih akan tetap memperbaiki semua, bukan,bukan karena aku memperbaiki diri untuk seseorang yang ku inginkan atau aku ingin balas dendam kepada seseorang dan menunjukan bahwa aku bisa lebih baik,buka Tuhan, karena hatiku sudah lelah kecewa dengan manusia, kini aku sadar sebaik-baik pengharapan hanyalah kepada-MU.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya