Lahir pada tanggal 28 Ramadhan membuat kedatangan bulan Ramadhan setiap tahunnya menjadi semakin bertambah istimewa. Karena setiap tanggal 28 Ramadhan kami sekeluarga selalu mengadakan buka bersama di luar rumah. Meskipun saat ini beberapa anggota keluarga merantau ke luar kota tetapi kami selalu mengusahakan pada tanggal tersebut kami sudah tiba di kampung halaman. Tradisi keluarga yang sangat menyenangkan. Selain tradisi di keluarga ada juga tradisi di lingkungan tempat tinggal yang selalu berhasil membuat rindu masa kecilku dulu. 1. Tradisi Sahur Sekitar pukul 02:00 WIB seluruh Mushola dan Masjid melantunkan do'a ketika bangun tidur. Dilanjutkan dengan lirik dan nada yang khas "bangun..bangun..sahur..sahur.." dan sedikit kalimat berbahasa Jawa "dumatheng para Bapak para Ibu sampun wekdalipun sahur..monggo ingkang badhe masak.." bla bla bla. 2. Tradisi Sholat Shubuh Selesai santap sahur kami berbondong-bondong ke Mushola untuk melaksanakan Sholat Shubuh. Selesai Sholat Shubuh kami mendengarkan ceramah (sebenarnya demi buku Ramadhan dari sekolah). Kami merangkum isi ceramah yang biasanya disampaikan oleh ustadz. Setelah itu kami meminta tanda tangan kepada ustadz tersebut sebagai validasi. Kemudian kami pulang ke rumah hanya untuk meletakkan alat sholat lalu kami berbondong-bondong jalan-jalan pagi menuju bukit yang memang menjadi destinasi untuk menikmati sunrise. Bukitnya bernama Bukit Sitanjung. Jaraknya sekitar 1 kilometer dari desa kami. Setelah puas menikmati pemandangan kami pun pulang bersiap-siap berangkat ke sekolah yang hanya setengah hari. 2. Tradisi Ngabuburit Berhubung bulan Ramadhan waktu yang biasanya untuk sekolah TPQ biasanya digunakan untuk tidur siang dan tadarusan. Setelah Ashar biasanya kami berkumpul di lapangan dekat rumah sekedar untuk menunggu waktu Maghrib datang. Bersyukur sekali Ibu-Ibu di lingkungan kami kompak tidak menyuruh kami membantu memasak karena memang kami masih keci takut malah merepotkan. 3. Tradisi Tarawih Selesai buka puasa dan Sholat Maghrib kami langsung ke Mushola untuk tarawih. Kebiasaan buruk pada saat tarawih adalah saling bercanda. Padahal sering kali ditegur oleh orang dewasa tapi yang namanya anak-anak di mana-mana sama saja. Kalau capek pun tanpa pikir panjang langsung tiduran di atas sajadah. Begitu selesai seperti biasa kami antri meminta tanda tangan pada imam sholat untuk buku Ramadhan. Uniknya, setiap anak pasti membawa uang untuk membeli jajan. Banyak sekali tukang jajanan yang berjualan di sekitar Mushola. Dengan diiringi suara petasan kami pun menikmati jajanan. Setelah kenyang (dan uang juga habis) kami pun pulang ke rumah. Begitulah tradisi Ramadhan di tempat tinggal kami.Selama sekitar 30 hari kami hanya menjalani kegiatan seperti itu yang sekarang begitu kami rindukan. Kenangan masa kecil memang sangat berharga bagi siapapun. Ini Ramadhanku, bagaimana Ramadhanmu?