Sudah tidak asing lagi jika bulu tangkis Indonesia disegani di mata dunia. Indonesia berhasil membawa pulang piala Thomas dan Piala Uber yang merupakan penyemangat lahirnya pebulutangkis handal saat ini. Seperti Tontowi Ahmad, Liliyana Natsir. Indonesia yang sedang berbangga karena para atlet berhasil menjuarai di ajang Indonesia Terbuka. Wakil dari Tiongkok harus rela mengakui keunggulan timnas Indonesia di nomor ganda campuran.

Banyak yang mengelu-elukan nama mereka. Namun pernahkah kita berpikir dibalik gemilangnya nama-nama pebulu tangkis saat ini, bagaimana dengan nasib para mantan atlet jaman dulu yang lebih dulu mengharumkan nama bangsa, yang sudah tidak terdengar lagi namanya. Banyak dari mereka yang memilih menjadi pelatih di negeri orang. Bukankah itu cara yang efektif untuk mengalahkan tim kita sendiri. Hal ini terjadi karena kurang perhatiannya pemerintah dan masyarakat kita sendiri akan mereka. Mereka yang dielu-elukan hanya disaat mereka di atas, lalu bagaimana saat mereka di bawah? Apakah kita masih mengingat namanya? Akankah nasib para pebulutangkis andalan kita yang saat ini sedang bersinar akan bernasib sama dengan mereka kelak?

Advertisement

Para atlet yang masih disegani karena nama besarnya, mungkin masih bisa bertahan di kerasnya kehidupan ini, namun bagaimana dengan yang tidak? Denny Thios, angkat besi yang meraih emas di kejuaraan angkat berat di tahun 1990-1993, yang sekarang hanya dikenal sebagai pemilik bengkel las. Tati Sumirah, juara bulu tangkis peraih piala Uber pertama kalinya pada era-70 an harus rela menjadi kasir sebuah apotek. Namun kemudin Rudi Hartato merekrutnya untuk bekerja di perusahannya. Rudi adalah seorang mantan pebulutangkis All England yang meraih juara sebanyak 8 kali. Lenni Heidi, (dayung) peraih 3 medali emas dan 1 medali perak ini pernah dijanjikan kehidupan yang layak oleh KONI. Setelah penantian panjang akhirnya Lenny menerima penghargaan tersebut pada tahun 2013. Namun tidak semua atlet bernasib baik, Soeharto seorang atlet balap sepeda ini, harus menjadi tukang becak untuk menghidupi keluarganya. Hasan Lobubun, atlet tinju ini malah harus mengais sampah untuk meghidupi keluarganya. Lalu untuk apa perjuangan mereka mengharumkan nama negara? Memang benar usia berpengaruh terhadap kualitas atlet, namun alangkah baiknya jika mereka diberi jaminan hidup setelah mereka berhenti nanti. Betapa mirisnya jika mereka yang dulunya telah berjuang mengharumkan nama bangsa sekarang harus terlantar.

Sebaiknya Menpora sedikit lebih perhatian terhadap para atlet, tidak hanya ribut perkara Hambalang atau kisruh orang dalam, mungkin kehidupan mantan atlet lebih terjamin. Seandainya sebagian anggaran dana bisa digunakan untuk kesejahteraan para mantan altet yang telah pensiun. Buakankan lebih baik jika pemerintah lebih perhatian pada atletnya, maka para atlet dan mantan atlet kita tidak akan pergi keluar negeri yang lebih menjamin kehidupan mereka. Banyak atlet pebulu tangkis kita yang akhirnya lebih memilih untuk melatih dan tinggal di luar negeri karena kehidupan mereka disana lebih terjamin. Contohnya pebulu tangkis kita banyak yang melatih di Malaysia. Hal ini akan membuat tim luar negeri tahu gaya permainan kita.

Harapan perhatian pemerintah dan kepeduliaan masyarakat sangat dibutuhkan agar para pengharum nama bangsa ini tidak begitu saja dilupakan, dan mereka tetap bangga terhadap diri mereka sendiri karena telah mengharumkan nama bangsa, dan bangga terhadap negara karena telah memperhatikan mereka, dan perjuangan mereka membela negara terasa tidak sia-sia.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya