Akhir-akhir ini kita sering disuguhi tontonan program televisi yang mengedepankan unsur komedi. Hal ini bukan tanpa alasan, Bisa jadi semua ini dilakukan demi rating dan share. Maklum selama ini program TV di Indonesia masih memegang teguh budaya latah. Sehingga apabila respon pemirsa dari salah satu acara bagus, beramai-ramai seluruh stasiun televisi ikut-ikut buat program serupa.

Beberapa tahun terakhir, bisa dikatakan kembalinya era keemasan dunia komedi di Indonesia. Semua itu tidak terlepas dari muncul dan menjamurnya program pencarian bakat di tv yang berbau komedi. Bahkan sampai akutnya demam latah, kadang terlanjur khilaf semua acara disisipi komedi. Sampai yang paling terkini banyak artis yang alih profesi menjadi komedian dadakan.

Alhasil sudah bisa ditebak endingnya. Tanpa dasar pengetauan dan teknik berkomedi. Ya syukur Alhamdulilah kalau tidak berujung bui.

Bagian seni pentas yang bermuara pada tawa penikmatnya yang sedang booming terakhir ini adalah Stand up Comedy. Konsep komedi yang ditawarkan terbilang masih fresh. Stand Up Comedy memberikan warna baru dalam dunia komedi di Indonesia yang selama ini asal lucu, tidak peduli bahas itu aib atau bukan yang penting penonton tertawa. Namun, terkadang masih sering kita jumpai bullying yang dilakukan untuk memancing tawa atau istilah lainnya roasting.

Bully yang sering dilontarkan untuk memancing tawa tidak hanya sebatas kata-kata kasar, bahkan ada yang sampai mengarah ke adegan kekerasan. Bahkan meskipun dengan dalil pembenaran "properti yang digunakan aman". Lalu, pertanyaanya "jadi boleh melakukan hal seperti itu?". Bagaimanapun segala macam bentuk bullying tidak bisa dibiarkan.

Advertisement

Jika dilihat dampak buruk dari bully verbal dalam bentuk kalimat mungkin tidak tampak, tapi secara tidak langsung dapat berdampak buruk pada perkembangan emosinya. Kebanyakan mereka yang jadi korban bully akan muncul dendam dan berusaha membully. Namun, tidak menutup kemungkinan korban bully akan memilih diam. Sehingga menjadi pribadi yang pemalu dan sulit bersosialisasi. Bayangkan jika korban bully itu sodara kalian atau bahkan kalian sendiri.

Untuk menghindari bully dapat dimulai dari lingkungan terdekat kita. Jika melihat teman atau orang lain sedang dibully jangan ikut-ikut membully. Apa lagi menambah-nambahi menjadi reaktor yang menyebabkan dia semakin dibully habis-habisan. Setiap muncul keinginan membully baik fisik maupun verbal, bayangkan kalian sekarang di posisi orang yang sedang dibully. Tentu, sudah pasti kalian merasa tidak nyaman.

Cara terbaik dalam menghidupkan suasana saat ngobrol adalah menjadi pendengar dan pembicara sesuai dengan porsinya.

Hindari bully dengan mulai mentertawakan diri sendiri.

Untuk menghindari bully bukan berarti kita harus mengurangi kumpul dan ngobrol. Namun, lebih baik jika materi obrolan yang dibahas bermanfaat. Seperti diskusi mengenai tugas, berbagi cerita dan pengalaman seru dll. Hindari membully karena pada dasarnya setiap dari kita memiliki kekuranganya masing-masing. Di dunia ini ada dua hal yang paling sensitif untuk dijadikan barang bercandaan: pertama masalah pribadi mencangkup urusan keluarga, status hubungan. Kedua adalah hal-hal yang berhubungan dengan kondisi fisik. Kalau kalian mentertawakan kondisi fisik seseorang sama halnya kalian mentertawakan karya Tuhan. Terus masih pantaskah kondisi fisik dijadikan bahan becandaan.

"Jangan mentertawakan kekurangan fisik seseorang,

yang dia sendiri tidak dapat megubahnya." (Raditya Dika)

Terus, kalau begitu kita tidak diperbolehkan becanda untuk sekedar lucu-lucuan? Bercanda sah-sah saja selama tidak ada yang dirugikan dengan candaan kita. Seperti halnya peribahasa dalamnya laut dapat diukur, namun dalamnya hati siapa kira? Ya begitulah ibarat kuas untuk menggambarkan tidak ada yang bisa mengetaui isi hati seseorang. Meskipun karena candaan kita di depan dia ikut tertawa namun di dasar hatinya timbul perasaan sakit hati. Siapa yang tahu.

Jadi, alangkah baiknya kita berhati-hati dalam membuat joke atau lelucon dalam kondisi apa pun. Agar nantinya tidak ada yang merasa dirugikan. Solusinya bisa dengan "mentertawakan diri sendiri". Meminjam kalimatnya Gus Dur "gitu aja kok repot". Kadar selera humor masing-masing orang berbeda. Jadi,Jangan jadikan bully sebagai hobby.