Tidak ada kata batas di dalam kamus Jimmy Gani, entrepreneur veteran yang berasal dari Lampung. Pria berumur 45 tahun dengan 3 anak ini adalah pria yang sudah mempunyai banyak pengalaman di dunia bisnis, maupun di dalam atau di luar negeri. Jejaknya telah berbekas di berbagai bisnis-bisnis. Sarinah dan Sriboga adalah sedikit dari banyak perusahaan dimana pria ini telah menginjakan kakinya. Dia juga telah memiliki bisnisnya sendiri, Proven Force Indonesia.


Di dalam hidupnya, Jimmy telah mendapatkan banyak penghargaan, seperti gelar "Youngest CEO in Indonesian SOE History" dari MURI. Tak hanya berbisnis, Jimmy juga telah berkerja di dalam banyak profesi. Dia pernah menjadi dosen, konsultan, dan juga pembicara.


Advertisement

Walaupun telah mendapatkan banyak penghargaan dan prestasi, Jimmy tidak pernah berhenti untuk berusaha untuk menjadi lebih baik, supaya dia dapat membuat dampak yang besar untuk Indonesia. Pada tahun 2012, saat Dia sedang berada di puncak karirnya, Jimmy memutuskan untuk pergi bersekolah di Harvard Kennedy School, salah satu sekolah terbaik di dunia. Banyak orang berpikir bahwa itu adalah pilihan yang salah, bahkan sampai pejabat-pejabat seperti Jokowi pun turut mengatakan hal tersebut. Mereka berpikir bahwa sia-sia jika dia, yang waktu itu adalah seorang CEO di Sarinah serta komisaris di Sari Pan Pacific, mundur untuk sekolah.

Namun tekadnya untuk menjadi lebih baik agar dapat membuat kontribusi lebih besar membuatnya tetap mengikuti keputusannya. Karena keputusannya, dia harus keluar dari dunia bisnis Indonesia saat sekolah, namun dengan keputusannya ini, chapter baru di dalam hidupnya pun mulai berjalan. Setelah satu tahun belajar di Harvard Kennedy School, Jimmy pulang ke Indonesia. Karena pencapaian yang ia telah dapatkan, serta menjadi orang yang berhasil lulus dari salah satu sekolah terbaik di dunia, Jimmy Gani menjadi pebisnis yang disegani dan dihormati.

Dia diundang untuk berbicara di berbagai tempat dan juga mendapatkan banyak tawaran kerja sama dan berkerja. Dia merasa sangat senang, mendapatkan tawaran-tawaran ini. Dia sangatlah senang berbicara dan melihat orang lain mendengarkan dan belajar dari apa yang iya katakan dan juga melakukan bisnis di dalam berbagai bidang adalah hal yang ia sukai. Dia selalu melakukan semua hal yang iya lakukan dengan gairah, baik itu berbicara, konsultasi, mengajar, dan juga mengurus bisnis. Tak hanya itu, di waktunya yang sempit iya menyempatkan diri untuk kuliah lagi.

Advertisement


Gairah yang ia milikilah yang membuat banyak orang suka untuk berkerja denganya. Setiap hari dipenuhi dengan hal-hal yang ia sukai. Sungguh, hidupnya ini terlihat sebagai hidup yang sangat nyaman.


Memang hidup yang dimiliki terlihat nyaman dan mudah sekarang, hal ini tidak selalu terjadi seperti itu. Membuat sebuah bisnis adalah hal yang sangat sulit untuk dibuat dan tentunya tidak akan terbuat secara cepat. Saat usaha pertama dibuat, dia berkerja seorang diri. Dia harus mengurus departemen keuangan, marketing, dan juga HRD sendiri. Mencari proyek dan melakukannya sendiri, sungguh tak ada kata yang bisa digunakan untuk menggambarkan kesulitan dan pengurasan tenaganya. Kesabaran yang tinggi dibutuhkan untuk dapat melakukan pekerjaan yang ia lakukan, namun berkat gairahnya dalam berbisnis, dan juga pasangan hidup yang sangat suportif, Jimmy mampu melewati setiap harinya.

Butuh waktu lama sampai akhirnya dia mendapatkan staf-staf keuangan, marketing, HRD, dan juga asisten. Satu persatu departemen mulai mendapatkan staff secara perlahan, bisnis yang ia inginkan akhirnya mulai terbentuk. Tahun demi tahun berlalu, dan sekarang, bisnis yang ia bangun akhirnya memberikan pekerjaan kepada lebih dari 2000 karyawan.


Orang-orang mulai melihatnya sebagai pebisnis yang hebat, yang membuat banyak tawaran perkerjaan diberikan untuknya.


Untuk mengenal tentangnya lebih dalam, saya melakukan wawancara dengannya. Saya menanyakan beberapa pertanyaan untuknya dalam harapan dapat mengerti rahasia di balik kesuksesannya. Dari sepuluh pertanyaan, ada dua yang menurut saya paling penting dalam mengetahuinya.

Pertanyaan pertama yang saya tanyakan adalah mengapa ia memilih menjadi pebisnis. Dia menjawab "Karena melihat ibu saya berdagang, sementara ayah saya berkerja sebagai pegawai negeri sipil di Kementerian Luar Negeri. Ayah saya yang memiliki penghasilan tetap dan karir yang bagus, namun lama untuk mendapatkan penghasilan yang tinggi. Tentunya dibanding dengan peluang menghasilkan uang bagi seorang pengusaha beda. Jadi saya memilih untuk menjadi pengusaha karena melihatnya sebagai peluang dan terinspirasi oleh Ibu dan kakek saya."

Pertanyaan yang kedua saya tanyakan adalah hal yang paling penting dalam berbisnis. Menurutnya, hal yang paling penting dalam berbisnis, dan juga hal yang tidak dapat untuk dihiraukan adalah kejujuran. Di dalam wawancara yang saya lakukan dengannya, dia mengatakan "Karena dari kejujuran nanti kita dapat membangun satu jaringan karena orang percaya sama kita. Jika kepercayaan dicederai, orang tidak akan mau berbisnis dengan kita lagi, padahal berbisnis itu bergantungan pada jaringan."

Dari wawancara yang kita lakukan, saya mengerti bahwa jika ingin berbisnis, melihat bisnis berjalan secara langsung sangatlah penting, karena dengan itu, kita dapat tahu cara bisnis berjalan dan juga hal-hal yang tidak dapat kita lihat atau pelajari di dalam buku. Saya juga belajar bahwa koneksi sangatlah penting. Kita harus membuat banyak koneksi untuk sukses, dan jika kita ingin mempertahankan koneksi tersebut, kita harus jujur.

Tak hanya jawaban, caranya dalam menjawab pun juga penting. Saya melihat di setiap jawaban yang ia jawab, saya melihat antusiasme dalam berbicara. Hal ini membuat pendengar mendengarkan penjelasan-penjelasan yang ia katakan tanpa menjadi bosan, karena kita dapat merasakan bahwa dia menjawab dari hatinya dan sangat peduli dengan topik-topik yang ia katakan. Hal ini lah yang menurut saya membedakan pengusaha yang sukses dan juga pengusaha yang kurang berhasil.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya