Papa tercinta,

Tiga hari lagi adalah tepat 60 hari kepergianmu. Aku tidak yakin apakah papa akan mengenali bagaimana cara anakmu menjalani hidupnya sekarang.

Advertisement

Aku sendirian, Pa.

Bahkan saat-saat kalah seperti ini, Aku begitu rindu berbincang-bincang denganmu. Menemukan alasan untuk bertahan dalam sulit yang terlampau seperti ini.

Pa, beberapa hari ini aku merasa kalah. Atau lebih tepatnya aku menyerah untuk kalah. Kalah pada segala kenyataan yang membuatku diselubungi kecemasan. Rasa-rasanya Aku tidak menemukan siapapun untuk tempat merebahkan lelahku sebentar saja, Pa. Apa kali ini Tuhan masih menguji ketabahan-ketabahan yang tak lagi mampu aku kuatkan?

Advertisement

Tempat yang dulu terisi. Kini masing kosong tak berpenghuni.

Maaf, pa. Sekali lagi Maaf. Anakmu kembali iri pada orang-orang yang mendapatkan kasih sayang yang masih utuh. Maaf, Pa. Anakmu menjadi begitu iri pada usia yang tidak memihak padamu.

Tahukah kau, Pa.

karena rindu yang terlampau seperti ini, Aku menekan nomor yang menghubungkanku denganmu. Aku berharap hanya sebentar saja kudapati suara beratmu disana. walau aku tahu tidak akan pernah ada suaramu lagi. Namun anakmu masih saja terbiasa mencari-cari adamu.

Pa,

Hari-hariku tak sama lagi. Aku telah kehilangan separuh rasa ingin dan rasa yakin pada kehidupan yang sedang aku jalani. Kadang, aku menjadi suka mengeluh. Menyalahkan Tuhan atas segalanya. Aku menjadi bukan diriku lagi.

Entahlah, Pa.

Aku merasa telah mendekati sebuah masa di mana aku telah menjalani lebih banyak kehidupan tanpamu. Rasanya bejana kasihku telah berkurang seiring kau tak ada. Tak ada yang mengisinya lagi, Pa. Kosong dan hampa.

Aku tertawa. Aku bercanda ria. Aku menyibukan diriku dengan perkara2 baik yang membuatku menjadi lupa pada lobang di dada. Namun, ketika rindu bermuara dalam kepala. Aku mengingatmu bagai aliran sungai yg tak mampu aku bendung alirannya. Sungguh, dalam keadaan kalah seperti ini, Pa. Aku membutuhkanmu.

.

Setelah kau pergi menemui Tuhan, Pa. Aku menghindari semua barang maupun orang-orang yang mengenalmu. Bahkan ketika aku melihat anak-anak perempuan yang sedang bermain dan dipeluk manja ayahnya, tanpa kusadari airmata mengalir di pipi. Aku kehilangan kendali atas diri. Rasa-rasanya aku belum terlalu lama mendapatkan kasihmu. Maaf, sungguh aku iri. Pa.

Lalu aku mencari-carimu ke mana pun aku pergi; dalam mimpiku, aku berharap dapat menemukanmu setiap hari.

Pada pria yang bermain bersama anak-anak kecil, aku menemukanmu disana.

Pada bengkel mobil, oli serta minyak yang dulu akrab denganmu, Aku pun menemukanmu di sana.

Dalam suara dan wajah dari adik dan kakakmu, Aku menemukan semua wajah dan dirimu di sana.

Terlalu menyakitkan untuk berbicara dan menatap mereka untuk waktu yang lama. Ya. Mereka bukan kamu Pa, aku tahu itu. Aku berusaha untuk sepenuh penerimaan akan hal itu.

Papa tercinta.

Aku tidak akan pernah lupa dengan kebaikan yang papa berikan kepada sesama, di sepanjang usiaku bersamamu, kau tidak mengeluhkan besar kecil upah jerih payah yang mereka berikan padamu. Kau menerimanya dengan senyum bahagia. Bahkan kau tak peduli jauh dan dekat yang kau tempuh hanya untuk membantu mereka. Kadang ketika kudapati kau tidur, begitu banyak oli dan minyak yang membuatmu semakin menua.

Namun bagiku kau akan selalu terlihat gagah, Pa. Lelaki yang selalu mengetahui suara-suara yang tak pernah kulisankan. Duh, pa sungguh rindu sekali padamu.

Maka dalam kehidupanku saat ini, aku tetap berusaha membuatmu selalu merasa bangga. Aku berjuang dalam segala hal kembali. Mencoba terbiasa melalui kesulitan-kesulitan yang menghampiri. Menjadi orang baik yang bermanfaat seperti yang kau ajarkan padaku dulu.

Pa.

Nanti atau Suatu hari, apakah dapat kutemukan bejana kasihku lagi?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya