Saya senang membayangkan manusia sebagai sebuah karya puzzle. Menurut saya, puzzle adalah salah satu gambaran diri manusia yang cukup representatif. Saat baru lahir, kita semua bagaikan puzzle yang berada dalam kotak polos. Kita masih berantakan, tak berbentuk, dan belum diketahui seperti apa hasilnya. Kita tak tahu pula gambar seperti apa yang akan dihasilkan oleh puzzle itu pada akhirnya saat kelak selesai.

Keseluruhan hidup kita di bumi ini bagaikan proses penyusunan puzzle. Saat kita mulai melihat-lihat setiap gambar di keping puzzle yang masih berserakan, perlahan mulai muncul sedikit gambaran tentang diri sendiri. Kita mulai bisa membayangkan bagian-bagian diri kita. Kita mulai mendapat ide sebenarnya karakteristik, kepribadian, dan pemikiran-pemikiran apa yang ada dalam diri sendiri.

Ketika kita sudah makin dewasa, kepingan-kepingan puzzle ini sebagian sudah ada yang tersusun. Bagi orang yang berpikir dengan cepat, mau banyak belajar dan mencoba, mau mengambil risiko untuk salah kemudian mencoba lagi, maka jumlah puzzle yang terususun pasti sudah lebih banyak. Hasilnya, orang ini sudah terlihat lebih jelas tujuan hidupnya, gambaran karakternya, pencapaiannya menyelesaikan bagian-bagian puzzle yang rumit. Ia juga terlihat jauh lebih indah dan menarik ketimbang puzzle lain yang belum banyak digarap dan bakat-bakat mentahnya masih berserakan belum tersusun.

Layaknya manusia, puzzle ada berbagai macam jenis. Ada puzzle konvensional yang setiap kepingnya sama. Ada puzzle kreatif yang tiap kepingnya berbeda dan sudut-sudutnya berbentuk unik. Ada puzzle yang keseluruhannya hanya 100 keping. Apa puzzle yang keseluruhannya mencapai 1000 keping. Begitu juga setiap pribadi manusia. Ada yang hidupnya sederhana, ada yang rumit. Ada yang konvensional, ada yang kreatif.

Sisi menariknya, puzzle yang sederhana (misal hanya 100 keping) akan terlihat sudah cukup bagus dan hampir selesai saat berhasil dikerjakan 80 keping. Sedangkan puzzle yang rumit (misal 1000 keping) masih terlihat mengerikan dan berantakan walau sudah jadi 200 keping. Lucunya lagi, kadang Anda tak terlalu tertarik, terkagum, terinspirasi atau tergerak saat melihat puzzle yang hanya kecil. Namun saat melihat puzzle yang besar dan rumit, walau hasilnya mungkin belum benar-benar sempurna, responnya pasti berbeda karena Anda sudah bisa menduga kelak akan ada gambar besar yang bisa tercipta.

Advertisement

Simpulannya, orang-orang yang hidupnya sederhana dan tujuan hidupnya tak besar mungkin bisa sukses namun dampaknya tidak masif. Berbeda dengan orang yang memiliki mimpi dan porsi besar dalam hidupnya. Mereka harus berjuang berkali-kali lipat lebih keras karena jika berhasil, dampak kesuksesan mereka bisa dirasakan oleh begitu banyak orang.

Sampai di sini, Anda mungkin berpikir bahwa setiap orang harus bisa menghasilkan puzzle yang besar. Namun menurut saya tidak. Seperti yang sudah saya sampaikan di awal, saat lahir, kita datang dalam sebuah kotak. Kita tak pernah tahu apakah kita adalah kotak dengan 100, 500, atau 850 keping puzzle. Setiap orang punya porsi sendiri-sendiri. Anda tak bisa mengatakan orang yang hanya punya 100 keping puzzle itu tak seberapa berharga dibanding orang dengan 700 puzzle. Tidak. Kita semua ada untuk saling melengkapi.

Menurut Anda apa jadinya bila semua orang ingin menjadi puzzle yang besar? Bagaimana bila semua orang ingin bisa sukses, berkuasa, dan menjadi pemimpin? Kita selalu membutuhkan orang yang bisa menjadi penasihat, rakyat, pembela, pembelot, pekerja, bos, produsen, konsumen, dan sebagainya. Tiap orang punya porsi sendiri. Begitu juga setiap puzzle itu unik dan akan memberikan sumbangsih tersendiri bagi masyarakat.

Ada orang yang punya puzzle kecil dan ia sudah cukup bagus untuk menginspirasi orang di desanya. Ada orang yang punya puzzle sedang dan bisa menginspirasi warga di satu kota. Ada orang yang punya puzzle sangat besar dan akhirnya sukses menginspirasi rakyat satu negara. Semua orang punya porsi. Tak perlu kita iri atau merasa ingin mendapatkan porsi yang lebih dari kemampuan dan kapasitas diri sendiri.

Satu-satunya hal yang pasti adalah, selama Anda hidup, keping-kepingan puzzle itu harus disusun. Baik banyak atau sedikit, tak ada puzzle campur aduk yang bermanfaat dan bisa dinikmati. Semua puzzle baru bisa menjadi utuh bila kita mau mencoba dengan sabar menyatukan tiap kepingan yang terserak. Sebanyak atau sesedikit apapun keping puzzlemu, hanya pencipta kita yang tahu. Tugas manusia adalah mengamati setiap keping itu untuk memahami gambar keseluruhan diri kita yang sudah dirancang oleh sang pencipta. Bila ada kemauan untuk memperhatikan dengan seksama dan mendengarkan kata hati, pasti akan ada jawaban atas pencarian setiap manusia atas tujuan hidupnya masing-masing. Kelak saat waktu kita menyusun puzzle itu habis, semoga gambar yang telah disusun selama ini sudah cukup layak bagi-Nya dan dapat menjadi berkat untuk orang lain.