Setelah bertahun-tahun berlalu, aku selalu berusaha melupakanmu. Aku menjalin hubungan yang baru, berusaha menyayanginya sepenuh aku menyayangimu. Belajar memperlakukannya sebaik mungkin agar tidak terulang kesalahan-kesalahan saat bersamamu.

Namun, aku gagal. Kemudian, aku berusaha membencimu agar semua tentangmu perlahan dapat memudar. Segala cara kulakukan untuk dapat melakukan itu. Namun setelah aku sadar, aku tetap tak mampu. Hingga pada akhirnya, aku menerimamu.

Advertisement

Ya, aku menerimamu. Sebagai seseorang yang pernah menjadi bagian dari masa laluku. Sebagai bagian dari diriku yang ada pada waktu itu. Aku menerimamu sebagai seseorang yang pernah bahagia bersamaku. Seseorang yang pernah tertawa denganku. Seseorang yang selalu berbagi canda dan dukanya denganku. Satu demi satu, aku dapat kembali pada duniaku.

Aku dapat tertawa lepas di dalamnya tanpa harus selalu bertanya-tanya. Apakah aku tertawa atas diriku? Atau untuk menutupi lukamu? Aku dapat kembali berjalan tanpa takut lagi akan tersandung oleh kenangan dirimu yang kian terbendung. Sampai saat kau kembali datang. Seraya semua ingatan tentangmu datang tanpa pernah aku undang. Begitupun hati yang telah bertahun-tahun kurawat dengan tenang, kini kembali ramai saat kau mengajak berdamai. Seketika itu juga, aku merasa hatiku penuh dan sesak. Aku mencoba mengatasi perasaanku atas dirimu yang mencoba berontak.

Dan setidaknya saat itu aku sadar, bahwa ternyata aku tidak pernah benar-benar melupakanmu. Aku juga tidak pernah benar-benar mengingatmu.

Advertisement

Aku lupa bagaimana caraku memperlakukanmu dahulu. Aku juga lupa apa yang menjadi kesukaanmu. Secara tidak langsung, aku mengingat bagaimana perasaanku padamu sejak pertama kali aku jatuh hati padamu. Dan itu memicu semua seperti saat kita masih bersama. Kau datang, saat terbesit gundah pada hatimu tentang dirinya. Pada awalnya, aku biasa saja.

Meski semua tentangmu sudah kembali merekat, namun aku masih bisa menjaga jarak agar tidak melukainya, sebagaimana aku terluka dulu. Hari itu, kita berjanji untuk bicara melalui telfon. "Tak ingin berjumpa terlebih dahulu", ucapmu.

Kamu membuka pembicaraan tentang bagaimana hari-hari lalumu tanpa diriku. Bagaimana kamu menjalani setiap harinya dengan bahagia. Bagaimana kamu melewati saat-saat yang sulit tanpa aku pernah tau kamu pernah berada di antaranya. Semakin malam, pembicaraan kita semakin dalam.

Kita mengenang hari-hari lalu yang pernah menjadi benalu. Apa-apa yang telah kita lewati satu sama lain, setelah bertahun-tahun tidak bersama.

Malam itu semua menjadi sangat indah, meski hanya mengenang sebuah perasaan yang hampir punah. Secara tidak sadar, aku larut dalam pembicaraan yang seolah membantu hubungan kita kembali terajut.

"Aku rindu bahagia bersamamu. Pulanglah sesegera mungkin jika kamu sudah lelah mencari. Aku masih menunggu, sejak hari itu" ucapku.

Sejenak, suaramu pilu. Terdengar suara nafasmu yang dalam, seolah begitu berat perasaan yang bertahun-tahun kau pendam.

"Aku mau pulang. Beri aku kesempatan untuk berpikir. Karena aku berada di antara sesuatu yang akan menjadi sesal dan andai", ucapmu.

Sejak pembicaraan malam itu. Aku kembali merasakan. Bagaimana indahnya melamun tentangmu, bekerja dan melakukan segala kegiatan dengan semangat yang diberikan oleh senyummu yang masih terekam dibenakku. Beberapa hari setelah pembicaraan itu. Kita bertemu untuk sekedar menyapa dan berbicara.

Kemudian kau mulai bercerita tentang kalian yang tengah berada di ambang kehancuran. Setelah pertemuan singkat di hari itu. Aku mulai memberimu beberapa pertimbangan. Tentang apa yang harus kamu fikirkan. Sebelum memutuskan akan memilih siapa. Tentang aku, yang jika kau pilih. Maka kamu harus rela menunggu sedikit waktu untukku yang sedang berusaha, atau memperbaiki hubungan kalian yang sudah hampir matang.

Saat semua rasa yang dulu kembali datang, aku melupakan sesuatu yang sangat bisa membuatmu bimbang. Saat kau datang dan berkata ingin pulang, saat kau sedang berada di ambang kepiluan. Saat itu pula aku sedang berada di tengah kesibukan dengan hobi yang sedang kujadikan pekerjaan. Aku sangat mengenalmu, bahwa kamu tak terbiasa untuk ditinggal terlalu lama. Sedangkan apa yang aku kerjakan memakan waktu yang sama sekali tidak kau inginkan. Sampai akhirnya, Kita berjanji untuk saling bertemu pada hari itu.

Ya, Kita berjanji untuk bertemu dan mengakhiri semuanya. Apapun pilihanmu, siapapun yang kau pilih. Kita sepakat untuk menyelesaikannya dalam damai. Hari itu, Kita bertemu. Kita memulai percakapan dengan sedikit tawa dan canda seperti biasa. Kemudian, tawamu berangsur memudar.

"Aku, pilih dia," ucapmu.

Kalimat pertama yang kau ucap dalam raut wajah yang penuh gundah. Saat itu, aku merasa kosong. Aku tidak merasakan apapun. Aku tidak merasa sakit, juga tidak terluka.

"Tapi aku ta ingin berpisah denganmu", kembali ucapmu.

Suasana menjadi hening, senyumku berangsur memudar. Hati yang awalnya tidak merasakan apapun, mulai terasa sesak. Perih. Ta terasa, air mata mulai keluar dari mataku. Entah atas apa dan untuk apa. Aku hanya merasa sangat berharga saat itu.

Dan di antaranya, aku merasa sedih. "Kamu, sudah memilihnya. Jangan pernah coba kembali. Jaga perasaannya ya" Kemudian, kita berpisah seperti saling tidak mengenal. Aku, yang sangat ingin kamu untuk pulang. Sekarang benar-benar baru menyadari. Dari segala tawa dan tangisku malam ini. Dari segala hal tentangmu yang sampai kini masih menjadi memori terindah.

Hal yang benar-benar aku inginkan tentangmu adalah membahagiakanmu.

Dan, dialah yang sanggup melakukan itu. Satu-satunya hal yang dapat kulakukan adalah, membantunya untuk mewujudkan itu.

Dan, di antara segala resahku tentang pulangmu, dan datangmu. Aku menyadari, bahwa jauh disana ada seseorang yang juga menunggumu untuk kembali.

Seseorang yang selama aku pergi selalu setia datang dan menemani. Seseorang yang juga sangat menyayangimu. Dan pada akhirnya, Kepadamu seseorang yang "hampir pulang" Kembali aku ucapkan selamat jalan. Berbahagialah dengan rumah barumu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya