Setiap manusia pasti pernah berbuat salah. Karena memang demikianlah fitrahnya. Keseimbangan dari semesta yang melengkapi adanya kebaikan, akal, hati, serta semua ciptaan-Nya terkait manusia.

Sebuah keniscayaan bahwa kesalahan adalah murni hak manusia. Suatu pilihan dengan berbagai konsekuensi. Sepenuhnya pula menjadi wewenang kita sebagai manusia yang memutuskan akan menjadikannya berbanding lurus dengan sebuah pembelajaran ataukah akan terus berulang. Hebatnya dari “kesalahan” ini adalah adanya janji bahwa Ia akan meninggikan posisi seorang manusia di semesta seandainya yang dipilih kelak merupakan sebuah pembelajaran.

Advertisement

Sebenarnya pada setiap kita sudah lebih dahulu mengerti sesuatu benar dan salah. Kita selalu diajarkan oleh norma masyarakat serta diingatkan melalui penuturan dari orang-orang sekitar. Bahwa hal ini baik, hal ini tidak atau kurang baik. Dan hal yang tidak atau kurang baik itu maka biasa disebut dengan kesalahan. Meski demikian lingkaran “kesalahan” akan terus berulang meski telah ada pengertian dan pemahaman, dan ini kembali pada yang disebut fitrah tadi.

Kesalahan sebenarnya mengandung banyak pembelajaran, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Memang tidak ada satu pun norma yang menghalalkan sebuah kesalahan. Sebuah kondisi yang cukup rumit dan kadang menjebak kita dalam kebingungan pemikiran. Saya sendiri mengalaminya. Menjadi cukup membingungkan karena melalui kesalahan, beberapa nilai-nilai penting kehidupan bisa didapatkan.

Satu contoh cerita tentang yang saya alami sendiri sampai pada akhirnya saya mendapat pembelajaran tentang sesuatu yang bernilai pada kehidupan saya. Singkat cerita saya mendapatkan informasi terkait teman saya bahwa suaminya telah berbuat sesuatu yang kurang baik. Informasi tersebut saya dapat dari teman saya sebut saja Ana. Saat mengisahkan hal ini, Ana tak lupa agar tak memberitahukan hal ini pada siapapun dan saya mengiyakan.

Advertisement

Atas persetujuan saya tadi maka saat saya menceritakan pada orang lain termasuk teman saya yang memiliki suami kurang baik itu, saya anggap sebuah kesalahan. Dan saya sepenuhnya menyadari akan hal ini. Namun entah empati atau kurang berpikir hal itu saya lakukan. Saya bercerita pada teman saya tentang kisah yang dibawa dari Ana. Maka benarlah kesalahan itu berujung pada suatu “masalah”. dan pada akhirnya saya harus mengakui bahwa saya salah dan meminta maaf pada mereka yang saya rugikan.

Jadi yang diperlukan dalam sebuah kesalahan adalah kesiapan kita dalam menghadapi resiko yang mungkin akan kita tanggung. Kesiapan kita dalam mengakui kesalahan, meminta maaf, termasuk konsekuensi menerima hal yang terburuk misalkan saja ditinggalkan orang yang kita kasihi. Dari awal saya mengerti bahwa menceritakannya kepada orang lain adalah sebuah kesalahan dan pada akhirnya saya harus menanggung resikonya termasuk menjadi dibenci. Namun yasudah, nasi telah menjadi bubur. Hal itu sudah menjadi sebuah takdir.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya