Pada tahun 2015 saya lulus dari salah satu universitas paling bergengsi di Indonesia. Banyak harapan dari saya sendiri dan dari orang-orang di sekitar saya agar saya cepat mendapatkan pekerjaan. Namun saya bukan orang yang tergesa-gesa, saya memilih untuk 'enjoy the moment' dan saya menganggap bahwa gap antara waktu kelulusan dan waktu mulai bekerja sangatlah berharga untuk saya menikmati hidup, liburan, dan lain sebagainya. Waktu tersebut sangatlah menyenangkan.

Ketika ditanya 'kapan bekerja?', saya tinggal menjawab, lho 'kan baru lulus.'

Advertisement

Momen berharga tersebut tidak berlangsung lama, tentu saja. Kurang dari sebulan kelulusan saya, saya diterima bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang edukasi. Perusahaan tersebut sangat sesuai dengan kriteria yang saya inginkan: atasan yang friendly, karyawan yang tidak terlalu banyak, rekan kerja yang 'gaul', jam kerja yang santai, dan banyak dinas keluar kota. Gaji biasa saja namun ketika itu tidak masalah untuk saya. Saya masih hidup di bawah atap rumah ibu saya.

Setelah beberapa bulan bekerja, saya menemukan beberapa kekurangan di perusahaan tersebut. Memasuki tahun 2016, saya juga mulai memikirkan apakah saya ingin meneruskan bekerja di perusahaan ini atau tidak. Setelah menimang-nimang, saya memutuskan untuk keluar dengan satu alasan: tidak sesuai dengan passion dan saya tidak memiliki cita-cita di bidang ini.

Sebelum keluar dari perusahaan ini, seperti kebanyakan orang lainnya, saya mencari aman: mencari pekerjaan berikutnya agar tidak lama menjadi pengangguran. Pekerjaan yang saya pilih adalah menjadi guru. Salah satu cita-cita saya sejak kuliah yang sempat saya sembunyikan karena saya ingin tahu bagaimana rasanya bekerja dengan orang dewasa. Saya juga memiliki cita-cita besar di bidang ini: Ingin membangun sekolah sendiri untuk anak-anak yang kurang mampu di Indonesia.

Advertisement

Cita-cita yang sungguh luar biasa. Cita-cita yang tertanam di otak seseorang yang diketahui sebagai orang yang manja, ceroboh, yang meskipun lulusan universitas bergengsi di Indonesia tetapi bukan lulusan terpintar, cita-cita seorang anak mama-papa yang bahkan masih belum fasih menanak nasi. Terkadang kalau saya pikir, berani juga saya bercita-cita seperti itu.

Saya beruntung, saya mendapatkan pekerjaan sebelum benar-benar resign. Saya lebih beruntung lagi karena ada gap waktu 2 bulan sebelum saya memulai pekerjaan sebagai guru, saya bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk liburan.

Ketika waktu untuk bekerja tiba, ketakutan saya tiba-tiba muncul. Saya selalu memiliki ketakutan akan tempat baru; apakah saya akan senang dengan lingkungannya, cocokkah dengan orang-orang di dalamnya, apakah teman-teman saya nantinya ibu-ibu (seperti kebanyakan orang pikir apabila bekerja sebagai guru) atau anak muda, apakah saya bisa sabar dengan anak-anak, dan lain sebagainya.

Singkat cerita, lagi-lagi saya beruntung. Teman-teman sekerja saya sangatlah menyenangkan, muda (rata-rata seumur atau lebih tua beberapa tahun), dan gaul (dalam artian sering nongkrong dan senang traveling). Namun yang paling penting adalah satu passion dengan saya. Dalam waktu yang singkat saya sudah akrab dengan mereka.

Sekilas keberuntungan tersebut tidak ada habisnya. Tapi layaknya dalam suatu cerita, pasti ada masalahnya. Masalah yang saya hadapi adalah dari orang-orang sekitar saya.

Untuk menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan sosial, beberapa kali saya berkumpul dengan teman-teman lama dan keluarga. Pertemuan tersebut biasanya diadakan di tempat makan, rata-rata kelas menengah ke atas, dan diakhiri dengan sesi foto bersama. Dan di dalam pembicaraan, selalu ada obrolan mengenai pekerjaan.

Rata-rata teman saya bekerja di perusahaan. Hanya sedikit yang bekerja menjadi guru. Lalu tentu saja, mereka akan membicarakan dinamika di kantor, teman-teman yang baru, konflik atau gosip yang beredar di kantor, dan sebagainya. Sebagai orang yang tidak bekerja di kantor, saya hanya menjadi penikmat dan pendengar saja. Tidak masalah. Toh semua orang mendapat kesempatan bercerita, meskipun kadang saya merasa tidak nyambung apabila bercerita mengenai pekerjaan.

Masalah muncul ketika teman-teman mulai mempertanyakan mengapa saya memilih pekerjaan ini. Mempertanyakan apa yang saya incar, bukankah gaji sebagai guru itu tidak tinggi, dengan level pendidikan saya apakah itu layak dijadikan profesi, bukankah tidak ada anak muda yang menjadi guru, dan lain sebagainya. Saya sudah bisa ditanyakan pertanyaan tersebut, dan saya sudah tahu jawabannya. Namun di antara beberapa pertanyaan tersebut, ada satu pertanyaan yang menggelitik saya.

"Kok lo bisa sabar sih sama anak-anak? Kalo gue sih nggak bisa, ya."

Jika ditanya pertanyaan tersebut, biasanya saya hanya tertawa dan mengatakan tentu saja bisa, meskipun terkadang saya juga kurang sabar. Namun jika boleh, dan jika tidak mempengaruhi hubungan pertemanan, saya akan menjawab seperti ini.

Just because you don't like it, doesn't mean I don't like it. Just because you think you can't do it, doesn't mean I can't do it. I love kids, no matter how tough it is. Bukan sekedar suka yang 'ih lucu banget ya anak itu, gemesin' tapi kalo dia mulai tantrum kita langsung tinggalin, tapi gue mempelajari kenapa dia tantrum dan apa yang bisa gue lakukan supaya dia nggak tantrum lagi. Mungkin nggak make sense buat lo, tapi gue nggak peduli. This is my life, my happiness, you don't get to define it.

Pertanyaan seperti ini tidak hanya muncul sekali dua kali, namun berkali-kali. Berkali-kali itu juga saya lebih memilih untuk menjawab seadanya dan bersabar. Jika ditanya, sesungguhnya lebih sulit bersabar dengan orang dewasa dibandingkan dengan anak-anak.

Meskipun demikian, pertemuan dengan teman-teman lebih baik dibandingkan dengan pertemuan dengan keluarga. Dengan teman-teman kita bisa mengalihkan topik ke gosip atau pembicaraan seputar masa lalu, namun dengan keluarga besar, kita terjebak dengan beberapa topik yang berbahaya. Apalagi dalam keluarga kita akan menghadapi orang-orang lintas generasi. Topik-topik berbahaya itu adalah karir, kehidupan, dan jodoh.

Di dalam perkumpulan keluarga, selalu ada satu orang yang akan sangat dibangga-banggakan. Lulusan universitas top. Pekerjaan bergengsi. Wajah yang cantik atau ganteng. Berasal dari keluarga terpandang, dan akan lebih menarik lagi apabila orang tersebut single. Om dan tante (mostly tante) berebut mengenalkannya dengan anak si X, anak si Y. Dalam satu keluarga juga ada the ugly duck, yang biasa-biasa saja dan berbeda dari yang lain. Terkadang saya merasa sayalah the ugly duck dalam keluarga. Tapi sejujurnya, saya tidak peduli, karena toh saya punya cita-cita besar dan mulia, hanya saja berbeda dengan cita-cita orang lain.

Selama beberapa waktu saya bisa mengendalikan perasaan saya apabila ditanya hal-hal yang tipikal dalam pekerjaan saya. Mungkin suatu anugerah juga saya memiliki sifat yang cuek dan cenderung heartless. Saya lebih memilih memfokuskan energi saya ke hal lain dibandingkan menyiapkan jawaban-jawaban pintar untuk mematahkan argumen mereka, karena untuk mereka argumen-argumen pintar tidaklah penting, yang penting adalah deret angka di buku tabungan, nama perusahaan, dan jabatan.

Namun tidak bisa dihindari terkadang perasaan sedih itu muncul, mengetahui bahwa ada orang-orang yang tidak bisa memahami pilihan hidup saya. Yang lebih membuat sedih adalah terkadang orang-orang tersebut adalah orang yang sangat dekat dengan saya.

Baru-baru ini saya bertemu dengan salah satu saudara saya. Ia mempertanyakan rencana studi S2 saya ke luar negeri. Saya memang berencana untuk melanjutkan S2 di bidang pendidikan, agar pengetahuan saya nantinya lebih mumpuni ketika membangun sekolah sendiri. Tentunya S2 membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dan saya sendiri tidak akan melanjutkannya apabila tidak mendapat beasiswa. Namun satu pertanyaan yang menohok saya.

"Emang worth it, ya? Nanti nggak balik modal lho dengan pekerjaan begitu."

Setelah refleksi diri yang panjang, curhat panjang lebar dengan orang terdekat saya, akhirnya keputusan saya hanya satu. Dan ini adalah salah satu resolusi saya di tahun 2017.

Apapun yang saya pilih ada konsekuensi dan tantangannya. Let people say what they want to say, they have the right for it. Mereka punya kebahagiaan mereka sendiri, begitu pula dengan saya. Mungkin mereka tidak memahami saya, dan mereka tidak perlu. I don't do things to impress them, I owe them nothing. Yang penting adalah saya akan berusaha lebih keras lagi untuk cita-cita saya, dan apabila nantinya saya berhasil, itu bukan untuk menunjukkan bahwa saya hebat, tapi untuk memenuhi panggilan hidup saya dan untuk memajukan dunia pendidikan di Indonesia.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya