Jika kamu pernah mendengar perihal kepribadian manusia yang dibedakan menjadi empat macam, tentu kata ‘Melankolis’ tak asing terdengar oleh indra pendengaranmu, bukan? Tiga kepribadian lainnya, yaitu Sanguinis, Plegmatis, dan Koleris.

Apa yang paling orang tahu tentang dia? Dia yang dimaksud adalah si Melankolis tentunya.

Sensitif! Penyendiri! Menyukai kesunyian! Nyaman bekerja sendiri! Hidupnya penuh aturan! Selalu ingin dianggap benar! Dan masih banyak lagi.

Advertisement


Citra melankolis yang paling melekat pada dirinya ialah sifat perfeksionisnya yang terkadang sulit dimengerti oleh kebanyakan orang.


Apakah jelek memiliki kepribadian Melankolis? Apakah berdosa terlahir menjadi seseorang yang sensitif? Apakah suatu kejahatan menjadi seseorang yang menjalani hidup dengan penuh aturan? Jawabannya adalah TIDAK!


Jika menjadi seseorang yang terlahir memiliki kepribadian Melankolis adalah salah, lalu kenapa kata ‘Melankolis’ itu sendiri tercipta?


Tinggal bagaimana cara kita tetap melanjutkan hidup dengan menyandang ‘gelar’ tersebut.


Sensitif itu adalah sifat seseorang yang mudah merasa akan sesuatu.


Sering sekali orang berkata, "Sensitif banget, sih!" dan "Peka, dong!"

Jika kita melihatnya dengan saksama, kedua kata yang kita pikir berbeda tersebut ternyata adalah kata yang serupa. Jadi, suatu kesalahan besar ketika seseorang mengucapkan kedua kata itu secara bersamaan pada satu kalimat, "Sensitif amat, sih! Peka, dong!". Dan kalimat tersebut sering sekali terdengar oleh si Melankolis yang hatinya amat sensitif. Kenapa memiliki hati yang sensitif adalah sebuah kesalahan? Justru yang hatinya tak sensitiflah yang mesti dipertanyakan.


Bukankah hati diciptakan sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan perasaan?


Adalah suatu kesalahan besar ketika seseorang menyalahkan hati yang terlahir sensitif.

Si Melankolis menyukai kesunyian karena terkadang keramaian justru adalah tempat banyak orang menyimpan permasalahan atau kesedihan.


Tidak semua wajah yang memperlihatkan keceriaan, hatinya turut ceria. Pun, hati yang ceria tidak serta merta mesti diperlihatkan melalui raut wajah.


Dan, bukankah setiap orang memang mesti memiliki waktu untuk sendiri? Atau, kamu tidak? Kalau begitu, hal itu terserah kamu.

Terkadang, seseorang ingin menyendiri bukan karena ia tak ingin didekati oleh orang lain. Melainkan, terciptanya rasa nyaman ketika melakukan suatu hal sendirian. Hal ini tidak hanya berlaku bagi si Melankolis, orang-orang yang notabene memiliki banyak teman seperti si Koleris pun pasti menyisipkan waktu ketika ia ingin sendirian, mengadu hanya kepada Tuhan.


Karena ketika kita sudah tak mampu lagi bersuara, hatilah yang membantu kita untuk menyampaikan kata.


Lalu, si Melankolis lebih nyaman bekerja sendiri karena ia memiliki aturan tertentu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Orang lain cenderung menganggapnya sebagai sikap sok dan pada akhirnya si Melankolis menjadi orang yang dianggap tidak bisa bekerja sama dengan orang lain. Hai, kamu! Iya, kamu! Bekerja sama itu bukan berarti harus beriringan dalam menyelesaikan suatu hal, bukan? Bekerja sama itu adalah adil dalam membagi pekerjaan pada dua orang atau lebih agar selesai tepat pada waktunya.


Ada dua sifat manusia perihal menyelesaikan suatu pekerjaan; (1) Adalah orang yang bekerja keras, dan (2) Adalah orang yang bekerja cerdas.


Kamu yang mana?

Si Melankolis selalu ingin dianggap benar. Cenderung orang Melankolis memang sulit menerima jika sesuatu yang ia lakukan dianggap salah oleh orang lain. Tapi, bukan berarti ia tidak mau menerima kritikan bahkan saran dari seseorang. Ia hanya sukar mencerna kritikan yang dilontarkan dengan padanan kata yang menyakiti hatinya. Terkadang, pengkritik memberikan opini lebih terdengar seperti kecaman bukan sebuah tanggapan.

Satu hal lagi yang mendasari seseorang dikatakan Melankolis adalah ketika ia menunjukkan sifat perfeksionisnya. Bukan tanpa dasar si Melankolis ingin menyelesaikan segala hal dengan sempurna karena tidak ada salahnya jika seseorang all out dalam mengerjakan sesuatu, apalagi sempurna, dan bonusnya adalah mendapatkan hasil yang memuaskan. Si Melankolis akan merasa puas ketika ia melakukan sesuatu dengan sempurna.


Hal atau pekerjaan sekecil apa pun harus dilakukan atau diselesaikan dengan sebaik mungkin. Seseorang dengan jabatan tinggi sekalipun akan terlihat biasa saja jika melakukan tugasnya dengan setengah-setengah.


Masih banyak sekali sifat si Melankolis yang dapat menjadi pembahasan. Namun, tidak akan cukup ruang jika seluruh sifatnya dirangkum dalam satu judul bahasan yang isinya mesti dicerna matang-matang. Intinya, dibalik sifat negatif seseorang, pasti tersimpan sifat positif yang dapat dijadikan pelajaran. Perlu kita ketahui bahwa sifat buruk akan selalu berdampingan dengan sifat baik. Jalani hidup sebagaimana yang kamu inginkan. Jangan sampai terhalang oleh kecaman orang lain yang bahkan baru mengenalmu beberapa waktu yang lalu.