Lo pernah mengalami kegalauan yang walaupun pengen banget lo ceritain ke orang lain malah ga jadi? Selamat! Lo baru aja mengalami perkembangan untuk menjadi dewasa. Lebih baik sedih dan sakit ini gue abaikan dan gue istirahat aja, ini hanya sementara, bisa jadi ini yang berada di benak lo saat di kamar menyendiri dan tanpa kerasa… tetesan air mata pun jatuh. Ga masalah sih, nangis dan marah itu boleh… selama itu ga membuat kita menjadi benci kepada Sang Pencipta.

Sebagai seorang dewasa, lo jelas menjadi diberi dan mesti memilih satu atau beberapa dari banyaknya pilihan yang tersedia. Lo bebas menentukan, lo bebas memilih sesuai dengan kesukaan dan kemampuan lo, but it comes at cost. Pilihan-pilihan itu selalu datang bersama konsekuensi dan tanggung jawab.

Advertisement

Bagaimana jika lo harus berkompromi, menerima kenyataan bahwa pilihan yang lo cita-citakan terpaksa jadi angan-angan dan lo mesti memilih jalan alternatif. Sedihkah? Marahkah? Kecewakah? Boleh, tapi jangan lupa untuk memfokuskan pikiran menuju hal-hal yang positif. Mana mungkin Tuhan membiarkan hamba-Nya yang baik menjalani hidup yang ga baik? Mana mungkin Tuhan memberikan cobaan bertubi-tubi padahal Ia sanggup hamba-Nya ga bakalan sanggup? Percayalah, akhir yang baik akan terjadi jika seseorang bisa memaknai proses kehidupannya dengan baik.

Lalu kenapa lo merasa sedih berkepanjangan? Kenapa ada peribahasa dendam kesumat? Kenapa ada istilah gagal move on? Karena manusialah penyebab dari pikiran-pikiran negatif yang pada akhirnya menyakiti dirinya sendiri. Entah itu keluarga, teman, kerabat, sahabat, bahkan pacar apalagi yang udah mantan, pikiran negatif berpotensi mengekang cita-cita dan keinginanmu meskipun maksud mereka sebenarnya baik.

Dan kenapa hari ini gue nulis seperti ini? Kenapa harus hari ini, jam ini? Karena gue barusan dapat pencerahan dan gue ingin apa yang mencerahkan pikiran gue bisa didengar oleh orang lain.

Advertisement

Dua tahun belakangan gue sakit, tapi ibu gue pikir penyakit gue ini ga seberapa. Gue manut-manut aja dengan apa yang dia bilang, sampai akhirnya November ini gue ngerasa sakitnya tambah parah dan ga karuan. Karena ga tahan, gue mulai memberanikan diri untuk negosiasi supaya gue dibawa konsul ke dokter. Awalnya sih respons ibu gue negatif, dia pikir itu cuma guenya aja yang kurang patuh dengan prosedur pengobatan dari ibu gue. Beberapa minggu berlalu dan rasa sakit itu belum hilang… hingga akhirnya dengan setengah memaksa, gue sekali lagi meminta supaya dibawa konsul ke dokter lain.

Rupanya hasil pemeriksaannya ga terlalu bagus. Dokter menyarankan gue ga banyak melakukan aktivitas yang berat, kalau udah capek gue mutlak harus istirahat, ritme aktivitas gue juga ga boleh terlalu tinggi. Bahkan dari sekian banyak saran-sarannya, gue jelas mendapat kesimpulan "Kalau kamu terus-terusan maksa badan kamu ngikutin ritme aktivitas yang tinggi, besar kemungkinannya hidupmu ga akan lama."

Bahkan manusia pun berbuat salah. Ibu gue salah mendiagnosa, gue salah memperlakukan badan gue karena ga tahu kondisi badan gue yang sebenarnya gimana, tapi ga mungkin juga buat nyalahin seseorang, suatu keadaan, atau diri sendiri. Inilah gue yang sebenarnya… yang mungkin hidupnya bisa jadi sisa hidupnya udah ga banyak (ya kalau dokternya salah kan gue jadi berumur panjang).

Buat yang badannya memenuhi standar kesehatan, buat yang kuat begadang sampai berhari-hari, buat yang banyak beraktivitas tapi bukan aktivitas yang berfaedah, please… mulai sekarang pikirkan untuk apa usia kalian habiskan. Bolehlah bersenang-senang asal yang wajib ga terabaikan, bolehlah lo baperan selama akal sehat masih berjalan. Toh, pada akhirnya, masa muda yang kita punya akan lewat… Tanggung jawab yang nyata masih menanti beberapa tahun mendatang.

Berkembanglah sesuai dengan apa yang lo bisa, dengan apa yang lo punya… Bolehlah punya panutan, tapi bukan berarti 100% yang mereka katakan dan lakukan adalah benar. Untuk berkembang dan menjadi dewasa aja kita mesti berhati-hati menentukan cara dan prosesnya, apalagi buat masalah yang lebih kompleks kayak nyari jodoh, nyari kerja, beli rumah, beli mobil, hadeh…

Malam senyap, panas menyengat

Berduaku dengan lantunan lagu boyband Korea

Semakin lengkap dengan episode drama di layar laptop

Menangkis sepi yang bersatu padu dengan dilema

Sedih, sedih tuk menjalani hidup ini

Jika kaki bisa melangkah ke mana saja,

Ku kan pergi menepi, menepi, dan menepi

Selamat tinggal kepada keluarga, kerabat, dan sahabat

Jangan pernah pergi tuk mencari

Keberadaanku

Sia-sia dan terombang-ambing

Terkekang

Oleh opini

Biarkan kupergi, biarkan kuberlari

Walau badan lelah dan sakit,

Walau usiaku mungkin tak sampai menjadi panjang

Asal kubahagia

Menjalani hidup yang singkat

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya