Di era millenial sekarang ini, kemampuan bahasa asing seperti bahasa Inggris sangat diperlukan. Kita telah belajar bahasa Inggris sejak duduk di bangku sekolah dasar, tapi alih-alih cakap berkomunikasi, kita bingung merespon saat seseorang mengajak berbicara dalam bahasa Inggris. Selama bertahun-tahun belajar, idealnya kita sudah lancar berkomunikasi dan tak ragu memulai percakapan jika bertemu orang asing di jalan. Kita juga tak perlu mengeluarkan banyak rupiah untuk mengikuti kelas tambahan bahasa Inggris diluar jam sekolah. Menilik lebih dalam, apa yang menjadi sebab utama hal tersebut terjadi?

1. Rumus Melulu, Tenses Selalu

Advertisement

Saat kita belajar bahasa Inggris, kita akan disajikan banyak rumus tentang bagaimana membuat kalimat berdasarkan perbedaan waktu terjadinya sebuah aktivitas. Tetapi, apakah dengan melulu memberikan rumus pada siswa, proses belajar dapat mencapai tujuannya? Saya rasa tidak. Ahli bahasa menuturkan bahwa Language is a behavioral habit, yang bermakna, Bahasa itu suatu kebiasaan. Jika seorang siswa mampu menghafal semua Tenses bahasa Inggris tanpa meluangkan waktu untuk melatih kemampuan Speaking-nya, barangkali ia belum cakap berbicara bahasa Inggris.

2. Metode Belajar yang Tak Lekang Oleh Waktu, Menghafal

Sebagai seorang yang belum genap setahun terjun di dunia pendidikan, khususnya pengajaran bahasa Inggris, saya mendapati beberapa murid mengeluh sulit dalam menghafal Tenses. Bukan rahasia umum lagi jika metode menghafal sangat diagung-agungkan. Saya pun mengalami sistem pendidikan yang bermetode seperti itu. As we grow up, metode ampuh yang kita tahu sebagai pembelajar adalah menghafal. Kemudian, kita menjadi percaya diri bahwa kita pandai dan sudah menguasai jika kita telah menghafal materi pelajaran secara keseluruhan. Padahal, menghafal hanya bagian kecil dari proses berpikir seseorang, menurut taksonomi Benjamin S. Bloom, yang telah direvisi oleh muridnya yang bernama Lorin Anderson. Metode belajar yang sejak dulu diadopsi para guru dalam kegiatan belajar mengajar adalah metode menghafal.

Advertisement

3. Porsi Pembelajaran Basic Skills yang Timpang

Speaking, Listening, Reading, Writing merupakan empat skill dasar dalam mempelajari suatu bahasa, termasuk bahasa Inggris. Siswa diharapkan mampu menguasai seluruh skill tersebut. Kalimat saya barusan serasa lagi bikin RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), ya? Duh, mohon dimaafkan. Selama ini, meskipun dalam RPP sudah disediakan waktu tersendiri untuk mempelajari masing-masing skill, tetapi hasil pembelajaran belum cukup berhasil membuat anak dikategorikan “cakap” menanggapi pembicaraan dalam bahasa Inggris. Ketika masih duduk dibangku SMP dan SMA, seingat saya porsi untuk Speaking dan Listening amat minim dibandingkan Reading dan Writing. Reading dan Writing di-expose habis-habisan dan dianggap sebagai kecapakan utama dalam berbahasa. Faktanya, memang ujian mid semester dan ujian semester di sekolah meniadakan sesi Listening dan Speaking, kecuali Ujian Akhir Nasional dan Ujian Akhir Sekolah. Itu pengalaman yang saya alami kala itu, sehingga para guru cenderung fokus menyentuh skill yang diperlukan untuk ujian pada tiap tahapan kenaikan kelas tanpa memikirkan apalagi mempertimbangkan the real goal sebuah pembelajaran bahasa. Hanya angka alias nilai yang menjadi sasaran utama untuk berbangga.

4. Orang-orang di sekitar kerap bertanya “Can you speak English?” saat mereka menguji kemampuan bahasa Inggris kita

Para guru barangkali juga lupa akan society’s expectation yang seketika menganggap kecapakan utama berbahasa yaitu speaking. Berhasil tidaknya seseorang menguasai sebuah bahasa, dilihat dari seberapa cas-cis-cus dia berkomunikasi menggunakan bahasa itu. “Orang-orang tidak akan melihat nilai Writing dan Readingmu”, kata salah satu dosen perempuan sewaktu saya belajar dibangku universitas.

5. Tak Usah Pedulikan Apa Kata Mereka, Kejar Targetmu Saja!

Adanya anggapan bahwa jika ngomong bahasa Inggris itu ke-bule-bule-an banget juga mempengaruhi minat dan keberanian seseorang berbicara bahasa Inggris. Banyak orang yang ciut nyalinya jika tiba-tiba di-judge “nggaya” atau “sok”. Mereka kemudian urung praktek dan lupa pada target utamanya untuk bisa berbicara bahasa Inggris dengan lancar. Ah, barangkali kita tak harus selalu memperhatikan apa kata orang, dalam hal ini cuek demi mencapai target memang sangat dianjurkan.

At the end, Speaking merupakan bukti nyata jika kita bisa berbahasa Inggris. Jadi, tak ada resep ampuh lain untuk bisa berbahasa Inggris selain practice. Ini berlaku untuk mempelajari bahasa lain juga tentunya, tidak hanya bahasa Inggris. So, keep practicing English, guys!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya