Jadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sekarang, mungkin lebih gampang ketimbang dulu. Terutama zaman Orde Baru. Zamannya Pak Harto berkuasa. Sekarang, dengan modal popularitas sudah cukup untuk bisa memikat pemilih dan mendapat tiket ke Senayan.

Hanya dengan modal tenar, partai bisa langsung jatuh cinta untuk kemudian menyorongnya jadi calon legislatif. Karena itu banyak artis yang bisa melenggang ke Senayan. Atau jadi pemimpin di daerah, entah itu kepala daerah atau wakil kepala daerah. Bahkan kerapkali yang dikalahkan adalah politisi 'beneran'. Maksudnya, politisi yang merangkak dari bawah.

Advertisement

Memang tak ada yang salah, artis jadi politisi. Di era demokrasi yang terbuka, siapa saja bisa maju dan melenggang. Tapi bukan berarti tak sepi kritik. Banyak pengamat menyentil partai-partai yang 'hobi' menyorong artis. Kata mereka, partai lebih memilih cara instan, ketimbang membangun sistem kader. Dengan cara instan seperti kader 'kawakan' seperti dinomorduakan. Nomor satunya adalah mereka yang punya modal 'ketenaran'. Walau demikian, tak semua orang 'tenar' hanya modal tampang dan nama. Beberapa punya kualitas dan kemampuan.

Namun begitulah kondisi politik era reformasi. Berbeda dengan era sebelumnya. Terutama di era Orde Baru. Tentang ini, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo punya cerita. Kata dia, dulu ia merasakan betul sulitnya jadi politisi. Bukan hanya jadi politisi, untuk jadi ketua organisasi pun sama sulitnya.

Di era Orde Baru, menurut Tjahjo, ada semacam instrumen penyaring atau filter yang diberlakukan rezim penguasa. Filter itu bernama Litsus atau Penelitian Khusus. Jadi, orang-orang yang hendak masuk jalur politik, atau organisasi harus menjalani Litsus tersebut.

Advertisement

Ia pun kemudian menceritakan ketika dirinya hendak maju sebagai calon Ketua Umum KNPI. Ya, Tjahjo memang pernah jadi Ketua Umum KNPI, organisasi kepemudaan terbesar dan berpengaruh saat itu. Kata dia, ia tak langsung mulus-mulus saja bisa jadi calon. Ada proses yang mesti dilalui, agar 'restu' penguasa di dapat. Di era Orde Baru 'restu' itu seperti jimat. Tanpa itu, orang tak punya 'tuah'.

Ia pun mesti menjalani ritus Litsus. Dan itu tak langsung jadi. Ada jenjang Litsus yang mesti dilalui, mulai dari tingkat daerah, sampai ke pusat di Jakarta. Bahkan, ia juga harus lolos Litsus di badan intelijen, otoritas keamanan, dalam hal ini militer, sampai Presiden. Pokoknya, ia harus jalani Litsus, mulai dari Kodim, Korem, Kodam, Pangab sampai Presiden. Sungguh berliku.

Untungnya ia lolos. Hingga kemudian dianggap 'bersih lingkungan' dan bukan orang yang membahayakan penguasa. Akhirnya, ia pun terpilih jadi Ketua KNPI. Lewat KNPI pula, jalan karirnya sebagai politisi dirintis. Hingga ia masuk Golkar, lalu jadi anggota DPR, puluhan tahu lamanya. Kata dia, ia jadi anggota DPR selama 25 tahun, mulai dari Golkar sampai kemudian hijrah ke PDIP, partainya sekarang.

Jadi kata Tjahjo, dulu ingin jadi anggota DPR penuh liku. Tak bisa sekedar mengandalkan tampang serta ketenaran. Tak lolos Litsus, ya out. Jika lolos, baru bisa bertanding. Tidak seperti zaman sekarang, cukup dengan modal tenar, sudah bisa langsung berlaga. Lain lubuk, lain pakam. Lain ladang, ya lain belalang. Lain dulu, lain pula sekarang.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya