Pernah dapat pertanyaan-pertanyaan seperti ini?

1) Saat masih kuliah

X : Gimana IPK nya?
Y : Sibuk banget sama urusan organisasi, emang ga ngaruh sama IPK nya nanti?

Advertisement

Saat kita sedang mempersiapkan diri untuk masa depan karir yang lebih baik–dengan cara aktif di organisasi kemahasiswaan–ada saja yang sibuk ngurusin IPK kita. Padahal IPK kita juga baik-baik saja. Toh apa hubungannya sama dia? Wong itu IPK kita.

2) Mulai skripsian

X : Udah sampe mana?
Y : Udah selesai belum?
Z : Udah seminar belum? Coba deketin temennya yang cepet, biar kerasa paniknya.
A : Kapan sidang? Kok belum selesai juga?

Saat kita sedang jungkir balik memperjuangkan skripsi, sampai rela hanya tidur 2-3 jam sehari, masih saja ada yang sibuk mempermasalahkan kenapa kita belum selesai juga. Memang itu membantu?

3) Sudah lulus sidang skripsi

X : Kapan wisuda?
Y : Kok habis lulus sidang nggak langsung urus wisuda? Nanti tanggal lulusnya jadi mundur dong?
Z : Kok wisudanya lama banget sih?

Advertisement

Saat sudah lulus sidang skripsi, ada saja yang mempermasalahkan jarak waktu antara lulus sidang dan tanggal wisuda. Padahal kita sudah jungkir-balik mengurus sederet persyaratan wisuda, hanya saja kuota di tanggal terdekat tinggal sedikit lagi, sementara itu tidak sebanding dengan banyaknya jumlah calon wisudawan yang juga sedang berjuang mendaftar. Yah padahal tanggal wisuda juga tidak ada pengaruhnya dengan tanggal kelulusan, toh wisuda hanya selebrasi, tidak wisuda juga tidak masalah (sudah dikonfirmasi oleh kampus).

4) Setelah wisuda (masih nganggur)

X : Udah ngelamar-lamar belum?
Y : Udah kerja belum?

Sudah lulus kuliah, saat kita sedang memperjuangkan hidup yang sebenarnya, ada saja yang sibuk mempertanyakan status pekerjaan kita (sudah bekerja atau belum). Padahal apakah itu membantu? Tidak, kecuali memberikan info lowongan pekerjaan yang sesuai, itu membantu.

5) Setelah dapat pekerjaan

X : Kamu katanya kerja di situ ya? Kok bidangnya nggak sesuai jurusan?
Y : Gajinya di situ berapa? Kamu kan S1, kenapa nggak minta segini?
Z : Kamu nggak capek? Pulangnya malem terus. Anak cewek nggak baik pulang malem terus.
A : Sibuk banget sekarang kayaknya. Kapan ada waktu kumpul?

Sudah gerah mendengar pertanyaan kolega mengenai pekerjaan, akhirnya kita bisa menjawab kalau kita sudah bekerja. Ya, ada saja yang mempermasalahkan kesesuaian bidang pekerjaan dengan jurusan kuliah. Hmm.. Apakah bersikap idealis bisa membungkam mulut-mulut penasaran itu? Tidak, bukan? Bukankah seharusnya bersyukur akhirnya orang tersayang mu bisa mempertanggungjawabkan hidupnya secara mandiri sekarang?

Sudah mulai bekerja, sudah suka dengan bidangnya, ada saja yang sibuk mempertanyakan gaji, mempermasalahkan nominalnya, mempermasalahkan aktivitas kita setelah kerja. Apa itu semua urusan kalian? Bukankah itu sangat pribadi? Bagaimana jika kalian yang ditanya?

6) Resign dari kerjaan

X : Kenapa resign? Kan sayang banget. Kenapa nggak coba bertahan? Udah coba diskusi emang sebelumnya?
Y : Gimana sekarang? Ngapain aja sekarang? Udah ngelamar lagi belum? Di mana aja ngelamarnya?

Setelah mempertimbangkan banyak hal, baik dan buruknya dengan matang, akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan dan mencari penggantinya. Ada saja yang sibuk mempertanyakan kesibukan kita saat ini, mempertanyakan ke mana saja kita melamar, dan sederet pertanyaan "KEPO" dalam selang waktu tidak sampai sebulan. Tujuannya apa? Perhatian? Maaf, perhatian bukan berarti melewati batas privasi.

7) Musim kawin

X : Kamu kapan?
Y : Mana calonnya?

Saat orang seusia kita sudah menikah, ada saja yang sibuk mempertanyakan kapan giliran kita. Hey, apa urusanmu? Toh kalau sudah ada tanggal pasti, nanti akan diberi undangan bukan? Kecuali kalau kamu berencana menyumbang untuk biaya gedung/catering sih.

Dan masih banyak lagi rentetan pertanyaan setelah menikah, punya anak, punya cucu, dan seterusnya.

————-

Bagaimana jika kamu yang ditanya?
Yap, serba salah kan?

Coba baca baik-baik pertanyaan-pertanyaan di atas dengan memposisikan kamu sebagai orang yang ditanya. Kadang saat kita yang bertanya, kita bisa berdalih bahwa itu sebuah bentuk perhatian. Tapi bagaimana kalau kita sebagai yang ditanya?

Sudah sadarkah bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan hal yang sangat pribadi? Setiap orang punya privasi masing-masing yang harus dijaga, nggak bisa di-share ke sembarang orang. Pertanyaan-pertanyaan itu nggak ada urusannya sama sekali dengan kita, jadi coba deh kurang-kurangin pertanyaan seperti itu.

Setiap orang memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda. Menurut beberapa orang, pertanyaan seperti itu sangat tidak sopan karena sudah melewati batas privasinya. Bahkan di banyak negara, pertanyaan sepele seperti "hai, mau kemana?" juga termasuk tidak sopan karena hal itu bukan urusan kita. Mungkin di Indonesia–yang memang terbiasa dengan kalimat basa-basi–sudah terbiasa mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan di atas, tapi saya tidak sependapat. Biarkan orang menyimpan sendiri hal-hal pribadinya, tolong hargai kehidupan privasi mereka. Sedekat apa pun kita, jangan melewati "batas" itu.

Jangan mengatasnamakan perhatian sebagai pembelaan. Perhatian bisa dengan cara yang lain bukan? 🙂

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya