Melimpahnya tanaman lidah buaya (Aloe vera) di ujung selatan Jawa Timur, Trenggalek, berhasil dimanfaatkan oleh ke lima mahasiswa Universitas Airlangga. Dengan mengandalkan partisipasi dari kelompok ibu rumah tangga, mereka telah berhasil mengolah tanaman lidah buaya menjadi brownies dan kerupuk.


Ke lima mahasiswa tersebut adalah Rica Naudita Krisna Setioningrum, Kartini, Novia Yudiasari, Zsafidda Afa Mahardika, dan Anak Agung Wantini. Mereka tergabung dalam tim proposal Program Kreativitas Mahasiswa–Pengabdian Masyarakat berjudul “K2P (Kreativitas Ketahanan Pangan) Pemanfaatan Aloevera untuk Melatih Masyarakat Trenggalek dalam Bidang Kewirausahaan”.


Advertisement

Proposal tersebut berhasil lolos seleksi pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tahun 2017. Dalam implementasinya, mereka menyasar anggota kelompok Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di Desa Tumpuk, Kecamatan Tugu, Trenggalek.


“Kami memberikan kuesioner kepada ibu-ibu rumah tangga tentang potensi lidah buaya untuk dijadikan produk makanan. Dari hasil kuesioner tersebut, ternyata banyak dari responden yang belum mengetahui tentang manfaat Aloe vera untuk dijadikan produk makanan, padahal potensi tanaman tersebut di Desa Tumpuk sangatlah melimpah,” tutur Rica.


Setelah hasil kuesioner diketahui, mereka mengajak kelompok PKK setempat untuk mengikuti pelatihan kewirausahaan. Dari situlah, kelima mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat ini membentuk kader-kader yang berasal dari kelompok PKK tersebut untuk menjadi pengurus program kewirausahaan ini.

Advertisement

Guna membentuk usaha yang berkelanjutan, anggota kelompok PKK diajak untuk melewati menerapkan tahapan program kreativitas dan ketahanan pangan. Yakni, go plant, go process product, dan go market.

Pada tahapan go plant, anggota PKK diajari cara menanam dan merawat lidah buaya. Selanjutnya, tahapan go process product, anggota PKK diajari mengolah lidah buaya menjadi brownies dan kerupuk. Pada tahap pemasaran atau go market, kelompok sasaran diajari memasarkan produk melalui media sosial, termasuk offline.


“Kami menerapkan program K2P selama tiga bulan, mulai dari menanam lidah buaya di lahan dekat balai desa juga mempraktikan demo masak brownies dan kerupuk lidah buaya. Kami juga memberikan resep-resep olahan lidah buaya untuk menambah kreativitas ibu-ibu PKK sekaligus mengajari cara memasak yang higienis,” imbuh Rica.


Hasil olahan lidah buaya tersebut diberi merek Broalek (Brownies Aloevera Trenggalek) dan KAT (Kerupuk Aloevera Trenggalek). Harapannya, Broalek dan KAT dapat dijadikan sebagai oleh-oleh kekinian dari Trenggalek, apalagi wilayah yang berbatasan dengan Samudera Hindia itu memiliki destinasi pariwisata yang menarik.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya