"Say it with flowers!"


Saya yakin banyak yang memegang teguh prinsip ini, mengatakan cinta lewat bunga. Kadang-kadang diganti dengan coklat atau boneka atau bunga deposito. Bagi saya pribadi, cinta bebas dinyatakan dengan apapun asalkan dinyatakan dengan jujur dan tulus, bukan hanya dipendam sampai membuat resah hati. Lebih penting lagi, nyatakan cinta dengan tepat waktu, jangan sampai terlambat dan pernyataan cinta itu jadi tidak ada gunanya lagi.

Advertisement

Selama berkecimpung di dunia medis, banyak sekali situasi yang membuat saya merenungkan tentang cinta dan upaya menyampaikannya. Sebagai seorang dokter, mau tidak mau, suka tidak suka saya pasti bersentuhan dengan situasi yang kurang menyenangkan bagi pasien dan keluarganya, misalnya suasana duka ketika pasien meninggal. Saat seorang pasien meninggal, anggota keluarga yang menemani selalu mengiringi dengan jerit tangis dan deraian air mata. Saya seringkali bertanya-tanya, selain kesedihan, perasaan apalagi yang termanifestasi dalam air mata tersebut. Apakah ada perasaan syukur bahwa sekarang keluarga mereka sudah tidak menderita lagi, apakah ada perasaan takut menghadapi kehidupan tanpa kehadiran anggota keluarga tersebut, ataukah ada perasaan menyesal karena berbagai hal yang belum sempat dilakukan atau disampaikan untuk keluarga tercinta?

Saat saya kuliah ada mata kuliah yang mengajarkan tentang 5 tahapan kesedihan yang dipopulerkan oleh Elisabeth Kubler Ross. Kelima tahap tersebut adalah fase penyangkalan – kemarahan – tawar menawar – depresi - penerimaan. Fase-fase ini tidak selamanya berjalan mulus dan selalu berurutan tetapi seringkali maju mundur tergantung masing-masing pribadi dan proses sampai ke fase kelima atau fase penerimaan bisa sangat singkat tetapi bisa juga memakan waktu berpuluh-puluh tahun. Menjalani proses inilah yang saya anggap sebagai bagian dari serba serbi kehidupan, proses yang menguras begitu banyak energi tetapi menjadikan kita pribadi yang lebih dewasa.

Tahun 2011 saat saya bertugas di salah satu RSUD di Jawa Timur, ada pasien anak usia 8 tahun dilarikan ke UGD setelah ditabrak mobil saat sedang bermain sepeda. Dia datang dalam kondisi tidak sadar dan gagal nafas. Setelah dilakukan penanganan pertama, saya mendampingi sambil memberikan nafas buatan menggunakan ambulatory bag. Ayah pasien baru saya tiba dari tempat kerjanya, terburu-buru mendobrak masuk UGD berteriak-teriak mencari anaknya. Begitu melihat kondisi anaknya, seketika itu juga pria bertubuh besar dengan brewok lengkap tersebut langsung tersungkur dan menangisi anaknya sejadi-jadinya.

Advertisement


"Dok, gimana kondisi anak saya? Kok bisa jadi begini dok? Tadi pagi masih pamit sama saya mau ke sekolah."


Bapak ini baru saja melewati fase penyangkalan, seakan-akan tidak percaya hal seperti ini bisa terjadi pada anaknya. Beberapa menit kemudian setelah menangis tersedu-sedu, tiba-tiba sang bapak berdiri lalu memukuli tubuh anaknya. Inilah fase kemarahan. Petugas medis lain sampai harus turun tangan menghalangi sang bapak memukuli anaknya yang sudah tidak merespon itu.


"Dok setelah dioperasi nanti bisa sembuh kan dok? Bisa normal lagi kan? Kalau butuh darah saya bisa dok, saya panggil juga teman-teman saya untuk sumbang darah. "Sang bapak berusaha tawar-menawar dengan kondisi anaknya sebelum akhirnya kembali ambruk menangis tersedu-sedu "Nak, kok jadi begini? Kamu nggak kasian sama bapakmu ini? Ya Allah, jangan ambil dulu anakku Ya Allah, aku belum bisa menyenangkan dia."


Selama menunggu persiapan operasi, hati sang bapak bimbang di antara keempat fase kesedihan, saya tidak tahu kapan akhirnya bapak itu sampai pada fase kelima yaitu menerima dengan ikhlas situasi yang ada.

Kondisi naik turun perasaan layaknya roller coaster ini sering sekali saya lihat secara nyata, hanya saja bentuk dan durasinya yang berbeda. Selama kita belum sampai pada fase 5, fase menerima dengan ikhlas, kita akan terus berputar di fase 1-4 dan bukan tidak mungkin kita menyakiti orang lain selama fase tersebut dan menjadi rantai kesedihan yang tak berujung.

Saya teringat dengan pengalaman saya saat masih menjadi koas dan sedang jaga di bangsal kanker anak. Saya menjumpai seorang anak yang selama 3 tahun terakhir menjadi langganan di bangsal tersebut, dia rutin kemoterapi untuk kanker kelenjar getah bening yang diidapnya. Suatu kali saya berkesempatan mendampingi persiapan kemoterapinya, lalu saya berbincang singkat dengan dia. Dari ceritanya, saya mengetahui bahwa ayahnya sudah meninggalkan keluarganya sejak mengetahui bahwa dia menderita kanker.

Terlalu sulit untuk mengetahui apa yang menjadi pertimbangan sang ayah meninggalkan anaknya yang sedang sakit, mungkin ada hal-hal yang tidak ingin dihadapi oleh sang ayah, dia tidak menerima dengan ikhlas penyakit anaknya. Tetapi apapun itu, keputusan ayah tersebut memberikan luka yang mendalam bagi anak ini, saya bisa melihatnya dari pancaran wajahnya saat menceritakan hal ini. Tentunya sahabat Hipwee tidak ingin hal seperti ini terjadi pada kita atau siapapun yang kita kenal.

Maka mari kita memperbaiki diri, menjadi lebih baik dalam menerima kesedihan dan menyatakan cinta. Bila kamu rindu dengan seseorang, hubungilah dia. Bila ingin bertemu, undanglah. Bila kamu menyukai sesuatu, katakanlah.


Hidup terlalu singkat untuk memendam semuanya dan berharap segala sesuatu terjadi seperti yang kita harapkan. Kenyataannya tidak semua harapan kita bisa terkabul, tidak semua cita-cita kita tercapai, orang-orang yang kita sayangi tidak hidup selamanya.


Jadi maksimalkanlah waktu yang kita miliki, jangan membuang waktu dengan orang-orang yang tidak menghargai kita, berbuatlah yang terbaik bagi orang-orang di sekitar kita sampai kita yakin bahwa pada saatnya nanti ketika mereka sudah tiada, tidak akan ada penyesalan dalam diri kita bahwa kita belum memberikan yang selayaknya mereka dapatkan dari kita.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya