Ada satu pertanyaan yang mewakili beribu tanya lainnya. Pertanyaan yang selalu muncul manakala kau hendak melangkah keluar rumah dengan tas carier besar. Ya, banyak yang menganggap itu hanya perjalanan sia-sia, buang waktu atau apalah. Terserah mereka, namun langkah tetap pada pilihan yang kau tanam dalam benak; ‘Aku tetap harus berjalan’.

Banyak pula yang mencoba memahami, namun nyatanya gagal karena belum sempat berpikir dan kau sudah terlalu jauh melangkah; terlalu jauh untuk di panggil pulang.

Advertisement

Tanpa jawab, tanpa kata, hanya senyuman terlontar manis penuh tanya yang menyisakan kebingungan pada mereka yang terlalu penasaran; untuk apa? kenapa?

***

Perlahan, sangat pelan. Bukan maksud memendam, tapi bila ku jawab, tetap saja kalian tak mengerti! Jadi ku cukupkan jawab untuk diriku sendiri.

Advertisement

Seorang teman pernah berkata, ‘Aku tak bisa menjelaskan kenapa aku mendaki, kenapa aku bertualang karena aku tidak punya jawaban. Namun bila kau ingin tahu kenapa, maka ikutlah denganku dan kau akan mengerti nanti bila pijakanmu sudah melekat di puncak’!

Mungkin itu jawaban yang lebih normal daripada kau memutar kata yang membuat orang lebih bingung lagi.

***

Akan ku beritahu padamu, namun bukan berarti harus ku paksa kau tahu. Ini hanya sekedar berbagi untuk luapan emosional karena ku pikir setiap orang pernah mengalami; tentang pasang-surut hidup yang bisa dan yang tak bisa kau terima. Tentang ingin yang hanya berujung pada harapan 'seandainya' atau tentang apa yang tak bisa kau ceritakan pada siapapun bahwa setiap orang punya rahasia, punya mimpi, punya impian, punya pertanyaan yang bahkan tak satu orang pun bisa memberi jawaban. Mungkin hingga di satu sisi kau terdiam, menatap dinding-dinding kamar yang terlalu bisu untuk sekedar diajak berbincang?

Dan atau lalu, bagaimana tentang impian yang kau cintai namun tak bisa kau jalani? Ku beritahu, Kawan. Aku, dia, kau atau mereka semua punya jawaban sendiri. Entah yang dimengerti atau tidak dimengerti, kau bebas memilih jawaban. Bukankah sama halnya dengan kau bebas memilih jalan?

***

Mungkin di suatu sisi senyummu bisa kau dustakan pada setiap orang, namun tidak dengan dirimu sendiri. Pada akhirnya, kamu lebih memilih mengukur jarak dengan langkah yang bahkan tak dimengerti oleh akal sehat kapan langkah berhenti. Setelah bosan menelusupi ramai kota dengan riuh dentuman musik liar, namun kau tidak bahagia, maka kau pasti akan beranjak pergi. Bukankah begitu sifat manusia? Beranjak bila tak suka dan tinggal bila bahagia?

Kau bebas memilih tempat di mana raga terasa nyaman untuk merebah, seperti kata freya stark; tidak ada kebahagiaan ketika apa yang ada dalam hati berbeda dengan yang kau lakukan.

Kau adalah apa yang kau yakini, bila kau mencintai kota kau harus menjadi ramai, bila kau mencintai gunung kau harus menjelma menjadi tebing. Kau tak harus mengerti tentang apa yang kami jalani, tentang langkah yang terkadang harus di paksa, debu merayap di kulit basah, terik menyengat di tiap jengkal raga, atau dahaga yang terobati oleh keringat asin. Nikmati saja apa yang kau pilih untuk jalani, kawan!

Walau asin tangis harus mampu kau telan sendiri, walau sakit perih harus mampu kau obati dan mau tak mau sepi harus mampu kau kawani, hingga nanti ketika puncak mampu kau tapaki. Nikmatilah! Tentang belaian angin dingin, tentang kopi yang menghangatkan, tentang pelataran senja yang begitu teduh, tentang savana dan rimba yang begitu sunyi atau tentang puncak yang begitu menenangkan.

***

Percayalah, kawan. Tidak ada perjalanan yang sia-sia karena di mana ada awal yang lelah pasti ada akhir yang bahagia. Kau bebas bertanya pada dirimu dan bebas pula menjawab pada dirimu sendiri ke mana nanti aku melangkah atau musim mana yang bisa aku kawani. Karena walau apapun dan bagaimanapun, hidup tetap harus terus berjalan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya