Ketika peristiwa kebakaran hutan terjadi, banyak pihak yang bertanya-tanya apa pengaruh kabut asap terhadap kesehatan, ekonomi, mata pencaharian masyarakat dan apa yang akan terjadi kemudian. September 2015 lalu, kebakaran besar berkobar di hutan, lahan, dan lahan gambut di provinsi Riau, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan bagian lain wilayah Indonesia. Hasil dari kebakaran besar tersebut, menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia, telah menghanguskan kurang lebih 1,7 juta hektare lahan di Sumatera dan Kalimantan.

Berulangnya kejadian kebakaran di Indonesia, juga bertanggungjawab atas sebaran kabut asap yang merugikan bagi kesehatan dan ekonomi di Asia Tenggara.

Advertisement

Menghitung Kerugian Kebakaran dan Kabut Asap


  • Pada tahun 1997-98, peristiwa El Nino terjadi sangat kuat. Saat itu, kebakaran akibat El Nino telah menghanguskan lebih dari 6 juta hektare di Indonesia sehingga menimbulkan kerugian sedikitnya 8,5 miliar dolar AS, terutama sektor kehutanan dan perkebunan.

  • Kabut asap dari hasil kebakaran tahun 1997-98 diperkirakan menimbulkan kerugian sektor pariwisata sebesar 4,5 miliar dolar AS dan kesehatan jangka pendek di seluruh wilayah.

  • Hasil riset CIFOR menemukan 1,45 miliar dolar AS pada nilai pasar karbon 2005.

  • Dengan harga karbon yang secara jangka panjang akan naik, kebakaran di masa depan akan menimbulkan kerugian lebih besar.

  • Laporan menyebutkan sejauh ini kebakaran telah menimbulkan kerugian 30 miliar dolar AS bagi pemerintah Indonesia.

Kerugian akibat kebakaran lahan dan kabut asap terus meningkat. Akar penyebabnya kompleks. Menemukan solusi jangka panjang untuk mencegah kebakaran masa depan perlu waktu, koordinasi, dan bukti nyata.

Advertisement

Seberapa besar krisis kabut asap menyebabkan kerugian?


  • Kerugian lahan pertanian, kayu, produk hutan non-kayu

  • Besarnya biaya pemadaman

  • Kerusakan infrastruktur

  • Gangguan kesehatan, pariwisata, dan transportasi

  • Kerusakan layanan ekosistem hutan, seperti perlindungan banjir, pengaturan air, proteksi pendangkalan, keragaman hayati serta mitigasi dan adaptasi perubahan iklim

  • Tingginya emisi karbon

  • Penurunan produktivitas kerja

Informasi lain-lain jika melihat kepada peristiwa kebakaran di Asia Tenggara, tentu saja sangat menyesatkan kalau kita memiliki pikiran bahwa “api” merupakan masalah atau menganggapnya sebagai masalah tunggal. Faktor kompleksitas sosioekonomi, ekologis, dan tata pemerintahan terlibat, berarti bahwa masalah dan solusinya berada di atas orang yang sebenarnya menyalakan api– karena memang sebagian besar api sengaja dinyalakan selain karena faktor iklim.

Mengapa orang melakukan pembakaran?


  • Perusahaan besar menggunakan pembakaran untuk membersihkan lahan dalam perkebunan minyak sawit dan kayu, baik di wilayah gambut maupun non-gambut.

  • Bagi masyarakat lokal dan petani kecil, pembakaran merupakan cara termudah dan efektif untuk membersihkan lahan bagi pertanian potong-dan- bakar dan untuk mengakses rawa-rawa.

  • Pembakaran digunakan sebagai “senjata” dalam konfllik tenurial lahan, biasanya antara perusahaan dan masyarakat.

Bagaimana pengaruh iklim dalam hal ini?


  • Kejadian cuaca ekstrim, seperti ENSO (El Nino-Southern Oscillation) dan kekeringan panjang membuat wilayah cenderung mudah terbakar.

  • Pengembangan skala besar, seperti perkebunan minyak sawit dan kayu, juga membuat bentang alam cenderung lebih mudah terbakar, menyusul terjadinya degradasi tanah akibat penebangan dan pengeringan.

  • Ketika lahan gambut dikeringkan berlebihan, lapisan atas mengering dan cenderung mudah terbakar.

  • Vegetasi yang sering terbakar cenderung mudah terbakar saat musim kering.

Apa pun latar belakangnya, api menghasilkan kabut asap beracun dengan dampak negatif yang sangat buruk bagi lingkungan, ekonomi, dan kesehatan manusia.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya