Dalam perdebatan antar relasi, memaafkan menjadi hal yang sukar dilakukan. Kalau bisa membalas, kenapa tidak? Kalau bisa membenci kenapa harus bermaafan? Kalau bisa bertarung kenapa harus mengalah? Dan banyak pertanyaan egois lain yang daftarnya tidak akan pernah habis. Namun pertanyaannya, menuruti hawa nafsu untuk marah apakah membawa keuntungan? Apakah kita langsung mendapat banyak uang dengan membenci seseorang? Sekalipun jawabannya "Iya", lantas apakah uang bisa membuat hati yang benci menjadi tenang? Tidak.

Disakiti tidak harus menyakiti kembali, difitnah tidak harus memfitnah dan dibenci tidak harus dibalas benci kembali. Mengapa? Karena memiliki musuh itu tidak enak. Bayangkan jika kita memaksakan diri untuk membenci karena marah, bagaimana reaksi kita? Pasti tidak tenang, terus-menerus berpikir bagaimana ini bisa terjadi, bagaimana caranya balas dendam, bagaimana caranya membuat orang itu merasakan hal sama dan lain sebagainya. Bukankah hal tersebut justru membawa kerugian bagi diri sendiri?

Advertisement

Bukankah tidak ada yang lebih bodoh dari membiarkan otak dimakan habis oleh perasaan? Apalagi perasaan marah, iri, dengki, benci dan banyak perasaan negatif lain yang akan secara otomatis memunculkan pikiran negatif pula.

Jadilah pemaaf ulung, yang bisa merelakan hatimu yang sakit memberikan pengampunan dengan utuh. Yang bisa melakukannya hanya diri kita sendiri, bukan orang lain. Apa itu artinya memaafkan itu mudah? Tentu tidak, kalau memaafkan itu mudah, tidak akan ada orang mati karena dibunuh.

Maafkan, sekalipun sakit, tetap maafkan. Tidak perlu menciptakan musuh jika bisa dijadikan teman. Kebencianmu itu terbentuk karena kamu tidak mampu merasakan sakit, tidak terima disakiti dan tidak rela terluka. Padahal, kamu tidak akan terus menerus merasakan sakit karena segala sesuatu di dunia ini adalah sementara. Termasuk rasa sakit. Tidak ada yang abadi, kamu tidak akan merasa sakit berkepanjangan, pasti akan selalu ada kebahagiaan dari orang lain lagi.

Advertisement

Salah satu cara menciptakan relasi yang awet adalah melakukan kebaikan terlebih dahulu, lebih dulu memberikan pengampunan dan lebih dulu mengasihi. Tidaklah mudah tapi cobalah satu kali, kemudian dua kali dan tiga kali, maka kamu akan terbiasa.

Kebiasaan yang baik itu berasal dari tindakan yang dilakukan terus menerus, lakukan segala yang baik maka itu otomatis akan menjadi kebiasaanmu.

Memiliki satu musuh saja sudah pasti membuat keindahan harimu berkurang, apalagi lebih dari satu, untuk itu, jangan mencoba menciptakan musuh apapun alasannya, termasuk karena disakiti, dikhianati, difitnah, dibenci dan lain sebagainya.

Jadilah yang pertama memaafkan, jadilah yang pertama menyebarkan kebaikan, jadilah yang pertama menciptakan pertemanan dan jadilah pemaaf ulung yang tidak suka membalas dendam.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya