1. #MerdekaTapi masih peduli terhadap penilaian orang lain

Masih banyak orang yang kepercayaan dirinya menurun hanya karena penilaian atau judge dari lingkungan sekitar. Contohnya, ketika seseorang menilai Anda dari penampilan fisik saja. Seperti terlalu gemuk, kurus, tidak cantik, hitam, dan sebagainya. Ketika seseorang mendapati dirinya dinilai berdasarkan penampilan fisik mereka, tentunya ia akan berusaha untuk merubah dirinya menjadi seperti yang diidamkan masyarakat.

Advertisement

Tujuannya, agar ia dapat diterima di lingkungan sosialnya. Berbagai upaya pun dilakukan seperti salah satunya diet ekstrem. Tak jarang pula seseorang menjadi stres karenanya hingga ingin mengakhiri hidupnya. Ini membuktikan adanya jati diri yang masih terkekang oleh tekanan masyarakat. Ia tidak bisa menampilkan dirinya sesuai dengan apa yang telah diberikan oleh Sang Maha Pencipta.

Advertisement
  1. #MerdekaTapi masih sulit mengekspresikan diri

Di era teknologi dan informasi yang semakin berkembang ini, peran sosial media sangatlah besar bagi individu. Semua orang pasti memiliki berbagai akun sosial media, baik Instagram, Facebook, Twitter, Path, dan lain sebagainya. Warganet berusaha membuat profil mereka semenarik mungkin.

Mereka akan mengunggah foto maupun video yang dinilai menarik. Bahkan, apapun mereka lakukan hanya untuk mendapatkan ‘like’ dari warganet lainnya. Apapun akan mereka lakukan agar unggahannya tersebut menjadi viral. Seperti ketika tren foto bertemakan ‘I woke up like this’ muncul. Warganet berlomba-lomba untuk menghasilkan foto terbaik.

Tak jarang yang malah berdandan dulu sebelum mengambil foto. Hal ini jelas tak sesuai dengan tema yang diusung. Selain itu, fenomena ‘biar bokek tapi tetep gaul’ pun mulai muncul di kalangan remaja. Mereka rela untuk ‘nongkrong’ di cafe yang cukup mahal hanya untuk sebuah foto yang akan diunggah ke sosial media. Ini jelas bahwa saat ini seseorang lebih mementingkan pencitraan dibanding menampakkan jati dirinya.

  1. #MerdekaTapi masih pesimis dan merasa insecure

Perasaan yang belum merdeka akan melahirkan rasa pesimis dan insecure. Ini banyak terjadi di kalangan anak muda khususnya yang sedang bersekolah maupun mencari pekerjaan. Bagi pelajar, mendapat nilai tertinggi adalah tujuan utama mereka. Segala hal akan mereka lakukan. Menyontek ataupun bekerjasama ketika ulangan misalnya.

Bahkan yang lebih parahnya lagi, banyak siswa yang membeli kunci jawaban Ujian Nasional (UN) yang padahal sumbernya saja tidak jelas. Mereka menjadi insecure terhadap nilai yang akan diperoleh. Padahal inti dari belajar itu bukanlah semata-mata mendapatkan nilai tinggi, melainkan mendapatkan ilmu dan pemahaman baru.

Sedangkan bagi pencari kerja, terkadang mereka merasa pesimis akan kemampuannya sendiri. Seperti contoh, merasa bahwa Daftar Riwayat Hidup atau Curriculum Vitae (CV) kurang dalam hal pengalaman kurang. Banyaknya saingan pelamar kerja pun menjadi alasan para pencari kerja merasa pesimis dalam usahanya untuk mendapatkan pekerjaan.

Akhirnya, ketika menjalani tes-tes kerja ia tidak bisa memberikan hasil yang optimal. Padahal pikiran-pikiran tersebut hanyalah sugesti. Hal terpenting yang harusnya mereka lakukan adalah terus berusaha. Karena yakinlah, usaha yang besar akan memberi hasil yang terbaik.

Beberapa hal yang telah dipaparkan di atas menggambarkan bahwa hal-hal kecil yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari ini berdampak pada upaya individu untuk mencapai kemerdekaannya.

Dalam euforia kemerdekaan Indonesia yang ke-73 ini kiranya dapat dijadikan sebagai motivasi untuk mencapai kemerdekaan individu. Karena kemerdekaan suatu bangsa itu dimiliki ketika individunya pun mendapatkan dan merasakan kebebasan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya