Sudah cukup lama, sejak terakhir nulis. Alasannya? Nggak ada ide. Atau lebih tepatnya, nggak meluangkan waktu buat duduk sejenak dan nulis apa yang berputar-putar di dalam kepala. Kenapa sekarang mau nulis lagi?

Karena lagi gemay alias gemash bray sama beberapa hal yang sedang jadi topik hangat dan diperbincangkan banyak orang. Tentang apakah itu? Women’s March. Sebuah gerakan yang mengangkat isu-isu tentang hak-hak perempuan dan anak. Mengapa ini menjadi satu hal yang menarik untuk dibahas? Karena, here is the reason.

Advertisement

Beberapa tahun belakangan, keberadaan media sosial menjadi semacam ‘kebutuhan pokok’ untuk masyarakat. Hampir semua orang pegang gadget di mana pun dan kapan pun. Banyak hal yang bisa kita ketahui hanya dalam satu kali klik di layar handphone.

Tinggal search, klik, dan voila, semua tersedia. Info kekinian, gosip artis, bahkan isu-isu yang belum keluar di televisi malah lebih dulu berkembang di media sosial. Ada banyak hal positif yang bisa didapat, namun tidak bisa dipungkiri bahwa banyak pula negatifnya.

Sebut saja, netizen julid. Sebutan yang sudah akrab di telinga mereka-mereka yang rajin berselancar di dunia maya. Kenapa disebut netizen julid? Karena apa yang mereka komentari tentang isu yang beredar seringkali terlalu provokatif dan justru menimbulkan gonjang-ganjing. Sebut saja tentang event Women’s March yang saya sebutkan sebelumnya.

Advertisement

Sejujurnya saya pun bukan aktivis dan feminis yang kemudian ikut serta dalam event tersebut, hanya saja ketika banyak komentator-komentator yang terkesan memprovokasi dan terlalu menyudutkan event yang ada, jadinya gemas juga pengin ikutan berkomentar.

Kegiatan Women’s March sebenarnya menjadi sebuah aktivitas yang menyoroti tentang banyak hal terkait hak-hak asasi perempuan dan anak-anak. Mulai dari pelecehan seksual, diskriminasi, serta menyoroti peraturan perundang-undangan yang seakan menyudutkan dan enggan membela perempuan.

Itu adalah salah satu hal yang baik, bukan? Siapa yang nggak setuju kalau pelaku pelecehan seksual mendapatkan hukuman yang setimpal, bahkan seberat-beratnya? Siapa yang nggak setuju kalau anak-anak mendapatkan perlindungan dari para pedofil-pedofil yang berkeliaran dan merajalela?

Siapa yang nggak setuju kalau pola pikir tentang “wanita harus menjaga cara berpakaian agar tidak memancing nafsu para lelaki hidung belang” dirombak dan diperbaiki? Siapa yang nggak setuju bahwasanya, wanita bukan hanya memiliki kodrat untuk menjadi istri dan ibu, tetapi juga memiliki hak untuk mengembangkan diri dan menuntut ilmu? Kalau ada yang nggak setuju, bahwasanya mungkin dia bukanlah seorang perempuan.

Ada banyak hal yang ingin disoroti dalam event tersebut, namun yang sangat disayangkan adalah ketika dari keseluruhan tujuan baik itu, terselip komentar-komentar yang seakan salah tempat.

Banyak orang yang kemudian lebih menyoroti tentang beberapa jargon yang ada, seperti; “Aurat gue bukan urusan loe” dan “Jangan ajari kami cara berpakaian tetapi ajari mereka untuk menahan nafsu dan pikiran mereka.”

Banyak orag yang kemudian menyangkut-pautkan hal ini dengan agama tertentu dan pada akhirnya menutupi tujuan baik dari event ini sendiri. Rasanya agak kesal. Kenapa? Karena event ini ada bukan untuk menyoroti hal-hal terkait keagamaan dan tidak bertujuan untuk menetang aturan agama tertentu, kan?

Aurat gue bukan urusan loe”, menyoroti kalimat ini, bukan berarti kita menetang perintah agama, bukan? Masalah keimanan adalah hak para pribadi. Entah mereka mau menutup aurat sekarang ataupun nanti, semua tergantung dari kemantapan iman masing-masing diri.

Menjadi tugas kita untuk mengingatkan satu sama lain, tapi mengingatkan bukan berarti menghakimi, bukan?

Jangan ajari kami cara berpakaian tetapi ajari mereka untuk menahan nafsu dan pikiran mereka.” Ini menjadi kutipan yang paling mengena dan membuat saya teringat jika hal ini menjadi satu hal yang menurut saya diagendakan dan ada dalam target dan goal dari program Bapak Jokowi.

Revolusi mental. Perbaiki cara berpikirnya. Refresh mentalnya. Para wanita akan berpakaian sebagaimana seharusnya, di mana para lelaki pun mempunyai kewajiban untuk menjaga pikiran mereka. Toh, para wanita masih punya nalar untuk tidak pergi ke mana-mana hanya dengan underwear saja, kan?

Come on, guys, be smart, please! Persoalan tetang perempuan tidak hanya soal menutup aurat, kan? Ada banyak hal di belakang yang lebih penting untuk dipermasalahkan. Daripada mempermasalahkan tentang menutup aurat perempuan, kenapa tidak lebih mempermasalahkan syahwat para lelaki pedofil yang merusak masa depan anak-anak bangsa?

Kenapa kita bukannya mendukung anak-anak yang bahkan belum bisa bersuara ketimbang berkali-kali berkomentar tentang menutup aurat wanita dewasa yang sebenarnya sudah tau mana yang baik dan buruk untuk diri mereka.

Menutup aurat itu memang penting, untuk menghindarkan kita dari tindakkan yang tidak diinginkan maupun untuk menaati perintah agama, tapi bisakah kita menjadi komentator yang mengkritik apa yang perlu dikritik dan mendukung apa yang selayaknya dan seharusnya mendapat dukungan?

Perihal iman, biarlah semua itu menjadi hak masing-masing pribadi. Boleh saling mengingatkan, tapi haruskah kita menjadi Yang Maha Benar?

Yuk, kawan-kawan, jadi netizen yang menjadikan media sosial sebagai wadah yang positif untuk saling mendukung kegiatan yang baik, bukan malah sebaliknya. Spread the love! Tetap mau, kan, menjadi wanita yang mampu menjadi istri, ibu, dan wanita yang berguna bagi sesama?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya