Kuliah tempat menuntut ilmu dimana kita dipanggil maha, tapi tak semua anak bisa merasakan suka dukanya menjdi mahasiswa. Beruntung bagi kalian yang bisa meraskan menjdi mahasiswa, kalian bisa merasakan bagaimana pusingnya skripsi, kalian juga bisa meraskan berkumpul dengan teman-teman dari berbagai latarblakang dengan satu visi yaitu menjadi sarjana. Diantara mereka yang beruntung aku termasuk satu didalamnya, aku anak desa yang tak pernah menyangka bisa mersakan manis pahitnya menjadi mahasiswa.

Tapi asal kalian tahu, aku kuliah bukan karena aku anak konglomerat tapi karena ada yang inggin melihatku lebih baik daripada mereka, ya mereka adalah orangtuaku, saya sangat bersyukur karena memiliki orang tua yang biak tapi mereka selalu mendukung apapun keputusanku asalkan itu baik.

Advertisement

Oraang tuaku hanyalah seorang petani biasa tapi yang aku kagumi dari mereka adalah mereka slaing mengangkat disaat salah satu terpuruk. Saling mengulurkan tangan ketika salah satu dari mereka jatuh, bapakku yang selalu berusaha membuat suasana rumah menjadi lebih asik dengan candaanya. Dan ibuku, selalu bisa membuat yang pergi inggin cepat cepat pulang karena masakanya yang enak.

Tapi sekarang mereka harus berkerja lebih keras dari pada orangtua temen-temenku disaat orangtua temanku menerima gaji, orangtuaku jutru harus pinter-pinter menyisihkan untuk dikirimkan kepadaku yang sedang menuntut ilmu di kota sebrang.

Aku tahu susah senangnya menjadi seorang petani, aku tahu panas teriknya mentari di siang hari, aku juga tahu dinginya embun di pagi hari. Mereka rela berangkat pagi dan pulang siang, banting tualang untuk masa depan anaknya lebih tepatnya masadepanku, ditambah lagi umur mereka yang semakin menua, bapak yang rambutnya satu persatu berwarna putih, ibu yang dulu kulitnya kencang kini mulai mengeriput harus berususah payah untuk masa depan aku dan adekku yang sekarang duduk dibangku smk.

Advertisement

Aku tahu dan akupaham dibalik senyum mereka, mereka inggin meronta tapi mereka hebat dalam bersandiwara mereka selalu bisa tersenyum ketika mereka didepan anak, padahal aku tahu buk pak kalo kalian memiliki banyak masalah. Sejujurnya akupun malu kalau diusia yang tak lagi muda masih saja merepotkan kalian, tapi aku bakal berusaha semampuku kalo anak lelakimu takkan mengecewakkan kalian. Kalian orang tua hebat bahkan terlallalu hebat untuk menjadi orang tuaku. Terima kasih pak, buk, maafkan aku belum bisa membuat kalian bangga, belum bisa kalian banggakan,tapi aku akan tersu berusaha.

Tapi tolong, kalian tidak boleh pergi sebelum aku bisa membuat kalian bangga memiliki anak sepertiku. Aku inggin kalian merasakan juga kesuksesanku kelak.

Pesanku, hormati orangtua kalian selagi masih bisa kita tak pernah tau kapan mereka pulang. Nasib kita memang berebeda kawan, tapi itulah yang terbaik untuk kita menurut Tuhan bukan menurut kita.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya