Cinta itu bisa didefinisikan tergantung bagaimana kamu mencintai seseorang. Kalau aku pribadi mendefinisikan cinta sebagai sesuatu hal yang rumit. Ia tak punyai alasan yang mendasar, tapi dibalik itu semua tercipta perasaan yang tak menentu, seperti bahagia, sedih, galau, baperan, marah, dan takut akan kehilangan.

Karena cinta merupakan hal yang rumit untuk didefinisikan, sebaliknya patah hati menjadi hal yang sederhana untuk dijelaskan.

Advertisement

Berawal dari hujan 26 Nobember kemarin suasana hatiku sudah mulai tak menentu. Hanya ada perasaan gelisah, cemas, dan gabut. Pada akhirnya perasaan campur aduk itu merupakan petunjuk akan adanya perpisahan antara aku dan kamu. Sore itu aku ingat dengan jelas, tak peduli hujan aku berjalan menuju halte busway dengan perasaan gembira, karena tadi kamu menelpon menyuruhku untuk ke rumahmu. Jalan Jakarta yang macet aku tidak peduli yang penting aku bisa melihat kamu nantinya. Selama perjalanan aku tidak melihat ponselku, hingga sampe di mall sekitar rumahmu aku baru membuka ponsel dan ternyata ada line dari kamu, dan mengatakan maaf aku tidak dirumah, aku lagi keluar dengan mama ke Depok.

Kamu tahu, yang aku rasakan saat itu sedih bercampur kecewa. Ketika beberapa orang mendekatiku dan bertanya kenapa? Hanya air mata yang bisa menjelaskan bahwa aku sedang sedih, kecewa, dan marah. Aku tidak peduli apa yang mereka pikirkan, aku hanya peduli dengan apa yang aku pikirkan. Aku berpikir dan terus berpikir hingga aku memutuskan untuk menyudahi semuanya antara kita.

Aku seperti pengecut yang mengatakan putus melalui pesan singkat, dan aku pun mengatakan itu kepadamu. Perasaanku sangat aneh setiap notifikasi lineku berbunyi aku berharap pesan itu dari kamu, ternyata bukan. Hingga tepat pukul 22:15 WIB kamu menelpon dan mengajak untuk bertemu. Tanpa ragu walaupun nada bicaraku kesal aku tetap mengatakan iya. Berapa menit setelah ditelpon, kamu muncul didepan kosanku. Aku keluar dari kamarku dan menuju halaman kosan. Perasaanku saat itu bukan lagi kecewa tapi rindu, inginku peluk dirimu seperti biasanya saat kita bertemu, tapi perasaan marah yang merubahku saat itu. Moment sekilas didepan kosan sempat kamu membahas persoalan yang harus kamu tanganni.

Advertisement

(Hening sejenak) …

Akupun meminta untuk membahasnya tidak ditempatku, sehingga kamipun bergegas menuju kosan temanku. Disana kamu membahas lagi tentang persoalan bisnis keluargamu yang mengharuskan kamu untuk turun tangan. Keputusan tersebut tentu harus ada yang dikorbankan entah kuliah atau perasaan kita. Hal tersebut memang sulit tapi diharuskan.

Ketika kamu memilih untuk melanjutkan bisnis tersebut, kamu mesti jauh dari aku, bagaimana kehidupan nanti apakah keluargaku akan mendukung kamu untuk menjadi pendamping masa depanku. Aku tahu orang tuaku tidak akan mengizinkan ketika dia melihat bisnis apa yang kamu jalani. Saat itu aku merasa sakit hati dan terpukul seakan masa depan sudah diprediksi lebih awal.

Apa yang aku katakan saat itu kamu juga ternyata memikirkan hal yang sama, hingga kita memutuskan apa yang mesti diputuskan. Bahwa aku tidak bisa LDR dan aku akan biarkan kamu untuk dekat dengan wanita lain. Tapi apa yang kamu katakan saat itu, kalau kamu bisa tunggu aku lebih baik. Dan aku terkejut sekaligus tak percaya kalau akan seperti ini, tetapi kamu tetap memberikan kebebasan untuk aku dekat dengan orang yang pantas didekati. Kata-kata tersebut menyakiti hatiku. Aku tidak ingat setelah itu apalagi yang kami bahas, tapi yang jelas tangisanku dan tangisanmu menyuratkan semuanya, bahwa kami saling sayang, kami saling mencintai, tapi mengapa cinta kami serumit ini. Aku mungkin akan menyalahkan waktu, mengapa semuanya begitu cepat berlalu, sementara aku masih ingin bersama denganmu. Apakah ada pertemuan lagi setelah ada kata berpisah ? Masih samakah perasaanmu saat itu mencintai dan menyayangi aku ? Sejujurnya aku takut mungkin aku akan merindukanmu setiap waktu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya