Kehidupan ibarat sebuah benang, bermacam-macam warna dan berbeda-beda jenis. Terlihat lurus dan stabil, namun ringan dan mudah melayang. Saat ditarik sampai panjang, benang itu terlihat bagaikan tali kehidupan yang panjang pula. Sesekali, kita akan coba menarik dan merapikannya, namun benang tersebut terkadang menjadi kusut. Apakah yang akan kau lakukan disaat benangnya kusut?

Terkadang, disaat mencoba meluruskannya, benang malah semakin kusut. Disaat tak tahan akan kekusutannya, sebagian orang akan memotongya, sebagian orang akan mencoba merapihkannya secara perlahan. Serupa dengan benang yang tak selalu lurus, sering kali kehidupan dihadapi oleh lika-liku yang menyulitkan kita.

Advertisement

Sebagai pengguna benang, kita dapat memilih antara menghadapinya dengan kesabaran dan usaha secara perlahan atau mengambil alternatif yang lebih mudah dengan mengorbankan suatu hal.

Analogi tersebut mendeskripsikan kehidupan seluruh umat manusia. Tak terkecuali bagi Badru Bayu, seorang supir pribadi asal Jawa Barat yang pindah ke Jakarta diumur 23 tahun. Badru lahir pada 5 April 1970 di pedalaman wilayah Sukabumi, Jawa Barat. Ia dibesarkan oleh kedua orang tuanya dengan ekonomi yang terpuruk.

Sepanjang masa remajanya, Badru mencoba untuk berkontribusi dalam memecahkan masalah tersebut. Akan tetapi, ia mengaku, bertani yang menjadi sumber ekonomi pedesaan bukanlah satu hal yang ia bisa lakukan.

Advertisement

Alhasil, pada tahun 1985, disaat masih berumur 15 tahun, ia pun memutuskan untuk keluar dari kampung pedalaman dan bekerja di sejumlah pabrik yang letaknya cukup jauh dari kampungnya. Demi kebahagiaan keluarga, Badru rela menghabiskan sebagian besar masa remajanya untuk mencari nafkah.

Selama kurang lebih 8 tahun, Badru mendapatkan banyak pengalaman kerja di pabrik. Menjelang ulang tahunnya yang ke 22, seorang teman menawarkan Badru untuk ikut merantau ke Jakarta dengan tujuan mencari pekerjaan. Pria berumur 47 tahun ini menyebutkan bahwa kesulitan ekonomi yang menimpa keluarganya di desa memaksanya untuk menerima ajakan tersebut.

Dengan membawa modal tekad dan kepercayaan, ia tiba di Jakarta dan bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang car rental dan fleet management, bernama PT. Universal. Tidak lama setelah itu, ia memutuskan untuk bekerja di perusahaan lain, yaitu di PT Unilever pada bagian distribusi.

Setelah lebih dari 15 tahun bekerja untuk PT. Unilever, Badru memiliki tekad untuk merubah kehidupannya. Tak seperti yang kebanyakan orang pikir, uang bukanlah yang ia cari. Meskipun kondisi ekonominya pas-pasan, ia hanya ingin mengambil haluan yang berbeda dari pekerjaan-pekerjaan yang telah ia lakoni.

Pada tahun 2011, ia resmi berhenti bekerja untuk PT. Unilever dan kembali ke Sukabumi untuk melepas rindu dan mempertimbangkan masa depannya yang belum tergambarkan secara jelas.

Beberapa lama kemudian, sekumpulan teman membujuknya utntuk kembali ke Jakarta untuk bekerja di pool taksi Blue Bird di daerah Pondok Cabe. Ia pun kembali ke Jakarta dan bekerja selama beberapa bulan disana. Di suatu saat, ia mengantarkan seorang ibu-ibu ke daerah Pondok Indah.

Setelah sampai ke tujuan, ibu-ibu tersebut menawarkannya pekerjaan menjadi seorang supir pribadi. Dengan alasan ingin mengenali daerah Jakarta secara lebih meluas, Badru pun menerima tawaran ibu tersebut. Usut punya usut, ibu-ibu tadi merupakan istri dari seorang Jendral Kepolisian. Namun, belum lama bekerja, Badru mengaku merasa tidak cocok dengan sang Jendral yang ia sebut “arogan”.

Peribahasanya ya agak arogan gitu lah, jadi yang tidak kecocokan sama Mang Badru, cuma itu aja lah, karena ga seneng lah, misalnya dikata-katain yang kasar-kasar lah, kurang seneng (saya).” ujar nya

Badru pun akhirnya memilih untuk memundurkan diri meskipun ia akui gaji bulanan yang diberikan jumlahnya “lumayan”. Akhirnya, ia memutuskan untuk berpindah-pindah tempat di “pinggiran” Jakarta dan bekerja di sejumlah tempat.

Kemudian, ia kembali bekerja di Blue Bird untuk beberapa bulan hingga kemudian bertemu dengan “Kakak Rommy”, kakak saya yang kebetulan saat itu sedang mencari seorang supir pribadi. Sejak saat itu, ia pun bekerja untuk keluarga saya sampai sekarang.

Pengalaman kerja Badru yang cukup panjang mengajarkannya moral yang berbeda-beda. Badru menyebut kedisiplinan menjadi satu hal penting yang ia pelajari, terutama saat bekerja di pabrik. Adanya target membuatnya lebih menghargai waktu dan bekerja keras demi mencapainya. Ia pun beryukur karena dapat bekerja di kota yang peluang kerjanya jauh lebih banyak dari pada di kampung asalnya.

Meskipun merasa senang bekerja di Jakarta, Badru mengungkapkan bahwa di sela-sela berjalannya waktu, ia sesekali berpikir untuk kembali dan menetap di kampung untuk masa tuanya. Umurnya yang sudah mencapai 47 tahun dihiasi dengan 25 tahun berkelana di wilayah Jakarta yang letaknya jauh dari keluarga.

Anaknya yang kini berumur 16 tahun melalui seumur hidupnya hampir tanpa kehadiran sang ayah yang kian menghabiskan waktunya mencari nafkah untuk menghidupi keluarga, Kekurangan ekonomi keluarga kembali menjadi alasan utama menetapnya Badru di Jakarta. Melihat senyum di wajah anak dan istrinya menjadi motivasi terpenting bagi Badru untuk terus bekerja hingga saat ini.

Selain anak dan istrinya, Badru menganggap “bos-bos” nya sebagai peranan yang besar dalam kehidupannya. Bahkan, ia tak segan untuk menyebut bos-bosnya bagaikan “Dewa Penolong”. Jika butuh pertolongan, Badru selalu mencoba untuk menguraikannya kepada bos-bosnya. Disaat menghadapi masalah, ia pun terkadang malu untuk meminta bantuan. Namun, ia mencoba untuk seterbuka mungkin terhadap orang-orang disekitarnya, bos-bosnya tak terkecuali.

Kehidupan Badru dari pelosok desa ke tengah kota Jakarta membuka banyak peluang untuk hidupnya yang ditimpa berbagai macam kesulitan, terutama pada aspek ekonomi. Dalam beberapa tahun kedepan, ia pun mengungkapkan akan terus bekerja demi menafkahi keluarganya hingga tak sanggup nanti.

Sekarang, Badru merasa nyaman dengan pekerjaannya sebagai seorang supir. Bahkan ia mengaku tak pernah melihat isi amplop yang diberikan bosnya. Disaat hari gajian tiba, ia langsung mengirimkan amplop ke istrinya di kampung. Sehari-harinya, Badru menggunakan uang saku yang diberikan secara harian. Jumlah yang tak banyak, namun untuknya cukup untuk bertahan hidup. Menurutnya, kenyamanan jauh lebih bernilai dibandingkan jumlah uang yang kita miliki.

Seperti benang, kehidupan Badru memiliki satu warna dan sesekali, benangnya akam mengalami kekusutan. Terkadang, ia memilih untuk merapikannya, namun ketika sudah terlalu kusut, ia pun memotongnya. Itulah kehidupannya, terkadang pasang, terkadang surut.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya