“Kayaknya gara-gara kebanyakan micin deh gw jadi bego”

“Jangan makan micin nak, nanti batuk-batuk”

“Gw habis makan micin nih, jadi pusing terus mual”

Memanglah, semua salah micin.

Mungkin hal-hal tersebut sering kita dengar tentang micin atau vetsin atau secara ilmiah disebut dengan MSG (Monosodium Glutamat). Seringkali terdengar anggapan-anggapan buruk mengenai MSG. Banyak alasan mengenai dampak buruk MSG. Namun, anggapan tersebut agak keliru, MSG tidak seburuk itu. Oleh sebab itu, kami berniat meluruskan anggapan tersebut dengan jurnal yang dapat dipertanggungjawabkan.

Advertisement

Monosodium Glutamat atau MSG adalah garam sodium dari salah satu asam amino yang paling melimpah di alam, yaitu asam glutamat. Glutamat merupakan asam amino non esensial yang dapat diproduksi tubuh. Banyak makanan yang secara alami mengandung glutamat, seperti ikan, daging, susu, sayur dan buah-buahan. Glutamat berfungsi sebagai building blocks dari protein sehingga mampu melakukan fungsinya dengan baik, yaitu sebagai pembentuk sel baru dan pengganti sel yang rusak. Glutamat untuk MSG biasanya diekstrak dari tumbuhan seperti lobak, tebu, ataupun gandum. MSG digunakan sebagai bahan tambahan pangan flavor enhancer yang berfungsi meningkatkan rasa alami dalam produk pangan seperti daging, sayur, atau ikan. Flavor yang dimiliki oleh MSG tidak dimiliki oleh bahan pangan, yaitu umami yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai “savory”.

Penduduk Asia rata-rata mengonsumsi 3-4 gram MSG per hari. Hal ini disebabkan oleh banyak bahan makanan Asia yang mengandung MSG seperti, kecap asin, makanan kecil dan lain-lain. Sejak usia dini penduduk Asia telah terbiasa mengonsumsi MSG sehingga toleransi MSG Asia lebih rendah dibanding di Eropa. Batas aman konsumsi MSG yang dianjurkan oleh US Food and Drug Administration adalah 30 miligram per berat badan per hari.

MSG dalam pencernaan dipecah menjadi Natrium dan Glutamat. Natrium akan berperan sebagai ion dalam tubuh. 95% glutamat akan dimetabolisme oleh usus halus menjadi energi bagi usus halus itu sendiri. Selanjutnya 5% glutamat digunakan sebagai pembangun protein seperti glutathione, arginine, dan proline. Jika terjadi kelebihan maka semua akan dibuang melalui urin.

Advertisement

Lantas, apakah benar MSG dapat membuat bodoh? MSG akan merusak jaringan otak apabila konsumsi dilakukan sangat berlebihan. Namun jika dikonsumsi dalam batas aman maka tidak terjadi gangguan. Glutamat dalam MSG mampu berfungsi sebagai neurotransmitter. Hal tersebut ditunjukkan oleh hasil penelitian yang dilakukan kepada 11 orang dewasa yang diberikan 100 gram perhari selama 42 hari. Hasil menunjukkan bahwa tidak ada struktur maupun fungsi dari sistem saraf mereka. Penelitian lain yang dilakukan oleh Bazzano et al. menunjukkan bahwa konsumsi glutamat dengan dosis 147 g/hari selama 30 hari tidak menimbulkan efek samping kesehatan.

Selanjutnya apakah MSG dapat menimbulkan pusing dan mual? Hal tersebut dinamakan Chinese Restaurant Syndrome (CSR). CSR diakibatkan oleh konsumsi glutamat yang berlebihan pada bahan pangan (tidak hanya dari MSG) dan orang yang mengkonsumsi makanan tersebut merupakan glutamate intolerant sehingga tidak dapat mengonsumsi glutamat secara berlebih. Akibatnya orang tersebut merasa mual dan pusing.

Kelompok anti-MSG menginginkan penggunaan MSG dalam bahan pangan dihentikan, atau setidaknya menambah label peringatan pada produk pangan. Menyoroti hal ini, FDA telah menjalankan studi terkait MSG yang dilakukan oleh Federation of American Societies for Experimental Biology (FASEB). Hasilnya, FASEB memutuskan bahwa MSG tetap dinyatakan aman pada konsumsi normal atau disebut dengan Generally Recognized as Safe (GRAS). Hal ini memberikan kita kesimpulan bahwa konsumsi MSG secara normal tidak akan memberikan dampak negatif pada kesehatan kita.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya