I just don't like to be limited by what local society convened, you know? Not that I'm anti-mainstream or anything -I still go to starbucks and stuff. It's that, I want to think, act, and look without restriction. -Ziggy

Advertisement

Judul : San Francisco

Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Jumlah halaman: 214

Advertisement

ISBN: 978-602-375-592-9

Terbit: Cetakan I, Juli 2016

Penerbit: Grasindo

San Francisco berkisah tentang seorang cowok berbadan ketinggian, suka musik klasik, dan gemar main harpa yang bernama Ansel Summer-Payne. Dia bekerja sukarela di Suicide Prevention Center; bertugas mengangkat telepon.

Di hari pertamanya, dia sudah dihadapkan dengan penelepon aneh yang mengatakan tak jadi bunuh diri kalau Ansel berhasil menebak judul dari lagu yang ia nyanyikan, dan untungnya Ansel tahu. Sejak itu, episode hari-harinya dengan si penelepon aneh -Rani; seorang mahasiswa asal Indonesia- berlanjut.

Novel ini tidak hanya berfokus pada dua tokoh utama, tetapi ada juga beberapa tokoh yang memiliki karakter unik dan kisahnya tidak bosan untuk diikuti, di antaranya ada duo 'gila' Gretchen dan Dexter, Ada Blackburn yang menjadi tambatan hati seorang Ansel, Benji yang tengil tapi genius dan punya perasaan spesial untuk Rani, Maria yang pengertian, dan lain-lain yang namanya silakan dibaca sendiri novelnya, ehehe.

Pertemuan Ansel dan Rani sendiri terjadi di Golden Gate Bridge setelah si cowok rela menunggu di jembatan berwarna mencolok itu berjam-jam lamanya. Setelah pertemuan itu, kisah mereka pun menjadi sedikit pelik. Apa yang terjadi? Sekali lagi, monggo dibaca sendiri novelnya.

Mengapa menarik?

Novel ini menarik dari segi alur cerita, tema musik klasik yang diangkat; yang mana dapat memberi pengetahuan baru bagi pembaca, jadi tidak hanya sekadar tahu bahwa lagu Chorus of The Hebrew Slaves adalah karya pertama Giuseppe Verdi, tapi juga tahu kisah di balik terciptanya lagu tersebut.

Selain itu, Ziggy juga mampu memutar sudut pandang mengenai Golden Gate Bridge yang selama ini dikenal sebagai tempat romantis, ternyata juga mempunyai sisi kelam.

Meskipun bergenre romansa, namun alur ceritanya antimainstream, apalagi novel ini juga mengangkat topik mental illness dan bagaimana penderitanya berjuang untuk terus mempertahankan hidupnya. Di samping itu, walau tinggal di negeri orang dan mulai melebur dengan pola atau gaya hidup orang Barat, namun Rani lebih cinta negaranya, salah satu kutipannya adalah (hal. 119):

"I just don't like to be limited by what local society convened, you know? Not that I'm anti-mainstream or anything -I still go to starbucks and stuff. It's that, I want to think, act, and look without restriction."

"That's the thing about my country, you know? Not really restriction, but an overwhelming set of moral codes on how to be decent. They care so much about what you do, what you think …. You have believe in God, you have to have black hair, you should never have a drop of alcohol. Sort of the reason why I miss it."

Ditambah plot twist yang membuat geregetan yang diwakili oleh kutipan berikut (hal. 210):

"But you know, in story books, you'll know who's gonna end up with who. There's the boy, there's the girl, and there's the horrid third party you can't help but hating. You know who the antagonist is. But real life isn't like that. You got a bunch of characters, yet absolutely no clue. You can end up with someone you never thought you would."

Bagaimana kesan setelah membaca?

Meskipun sempat mengerutkan kening di beberapa part (mungkin karena Ziggy menggambarkan sudut pandang orang Barat yang umumnya memiliki nilai-nilai yang jauh berbeda dengan orang Timur), tapi saya tetap suka mengikuti karyanya, termasuk nove San Francisco ini. Karya Ziggy selalu membuat saya terkesan dan ketagihan untuk terus membaca novel-novelnya.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya