Aku kira kisah kita telah berakhir 7 tahun yang lalu. Tapi sepertinya takdir berkata yang sebaliknya.

7 tahun sudah berlalu, 7 tahun sudah kepergianmu ke negeri seberang mencari ilmu. 7 tahun sudah aku melepaskan kamu, melepaskan kita. Masih ingatkah kamu akan kita? Ya. Kita. Kita yang berjanji setia. Kita yang saling menguatkan dan mengatakan semua akan baik-baik saja. Kita yang sedang dimabuk cinta. Dulu, orangtuaku sering menasihatiku agar mendengarkan mereka karena mereka sudah makan manis pahit asamnya hidup, tapi aku memilih mendegarkan kamu.

Aku tidak ingin membahas dan memperhitungkan segala yang sudah aku lakukan kepadamu, segala usaha yang sudah aku tempuh untuk bertemu denganmu ketika aku mengetahui kamu kembali ke kota kita tanpa memberitahu aku. Tapi segala yang sudah aku lakukan berakhir dengan sia-sia. Kamu tidak mau bertemu denganku tanpa aku tahu alasan apa dan kesalahan apa yang aku perbuat.

Sampai akhirnya, mungkin jiwa pengecutmu sudah enyah dan kamu berani menghadapi aku walau hanya sebatas layar laptop. Sekian lama aku menunggu melihatmu, sekian lama aku menantikan suaramu, sekian lama aku menangis merindukanmu, kamu muncul di hadapan layarku dengan meminta untuk mengakhiri hubungan kita. Aku sedih, tapi tidak lagi menangis.

Aku sakit, tapi tidak lagi meraung. Aku sesak, tapi tidak lagi tertekan. Aku lega. Aku lega atas kejelasan hubungan kita. Aku kira semua sudah berakhir 7 tahun lalu. Aku sudah mendengar kamu menemukan wanita lain yang sepadan di sana, dan aku tau kamu sangat mencintai dia. Sampai akhirnya, aku bermimpi tentangmu malam itu, membuatku ingin menyapamu walau hanya sebentar dan sebagai teman lama. Dan kesalahan terbesarku adalah ketika aku kembali menyapamu siang itu di layar laptopku.

Advertisement

Kenangan 7 tahun lalu kembali merasuk, menggerogoti hatiku, berputar didalam kepalaku seperti film singkat yang diputar didalam otakku. Aku kira semua sudah berakhir 7 tahun lalu, namun aku sadar di dalam hati paling dalam, aku masih memiliki 1 pertanyaan untukmu. Maukah kau menjawabnya untukku?

Berulang kali aku berlibur ke negaramu dan berharap aku punya cukup keberanian menghubungimu dan menanyakan langsung. Tapi aku adalah wanita pengecut, bukan wanita kuat. Berulang kali aku hendak mengetikkan pertanyaan itu kepadamu, tapi tanganku terasa ngilu dan kaku sampai aku tidak bisa mengetik. Mengapa kamu menghilang tiba-tiba saat itu apa dosa dan kesalahan yang sudah aku perbuat?

Biarlah waktu yang akan menjawabnya dengan caranya sendiri dan yang aku lakukan tetap menjalani hidup. Kalau sampai pada akhir masaku, aku tetap tidak mengetahui jawaban itu, Tuhan sendiri lah yang akan membisikkannya kepadaku di surga nanti.