Sejak bertahun–tahun yang lalu hingga saat ini sampah merupakan salah satu pokok permasalah yang pelik bagi Indonesia terutama di daerah perkotaan. Adanya peningkatan sampah dipengaruhi oleh kepadatan penduduk yang semakin menigkat seiring dengan kebutuhan konsumsi yang semakin meningkat juga, dan kapasitas penanganan sampah yang biasa dilakukan oleh Pemerintaah Daerah atau Kota pada umumnya tidak mampu menyesuaikan laju produksi sampah, serta kurangnya kesadaran dan kepedulian masyarakat mengenai lingkungan menjadi penyebab permasalahan sampah di Indonesia tidak kunjung selesai.

Permasalahan sampah yang terbesar sampai saat ini yaitu sampah plastik. Maraknya penggunaan plastik yang semakin meningkat dikarenakan harga plastik yang relatif lebih murah dibandingankan dengan bahan yang lainnya dan plastik merupakan salah satu item yang paling banyak tersedia dipasaran. Dan saat ini plastik digunakan secara berlebihan di Indonesia maupun di dunia yang mengakibatkan semakin meningkatnya limbah plastik di lingkungan.

Advertisement

Menurut Indonesia Solid Waste Association (InSWA) dikutip dari Antara, produksi sampah plastik di Indonesia sekitar 5,4 juta ton per tahun. Sementara berdasarkan data BLPHD, sekitar 13 persen dari sampah di Jakarta merupakan sampah plastik yang mencapai 6.000 ton per hari. Pada tahun 2016, Indonesia merupakan Negara kedua penyumbang sampah plastik terbesar di dunia setelah China.

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya (B3) Tuti Hendrawati Mintarsih mengatakan proyeksi volume sampah rumah tangga dan sejenis sampah rumah tangga pada 2019 mencapai 68 juta ton dan sampah plastik diperkirakan mencapai 9,52 juta ton atau 14 persen dari sampah yang ada.

Peningkatan penggunaan bahan plastik tidak dapat dipungkiri lagi karena kebutuhan hidup kita saat ini sebagian besar bergantung dari produk hasil olahan plastik seperti halnya peralatan rumah tangga, kemasan makan, aksesoris dan sebagainya. Tidak ada salahnya dengan penggunaan plastik karena sebagian besar kebutuhan kita berasal dari produk plastik yang relatif murah dan serba guna sangatlah membantu. Diperkirakan lebih dari satu juta kantong plastik yang digunakan setiap menitnya dan 50 persen plastik tersebut dipakai hanya sekali atau langsung dibuang.

Advertisement

Dari angka tersebut hanya lima persen sampah plastik yang benar – benar didaur ulang saat dibuang. Yang menjadi pokok permasalahannya yakni mengenai cara pembuangan dan pengelolaan sampah plastik yang telah digunakan masih sangatlah minim sehingga sampah plastik dapat menimbulkan permasalahan baru lainnya karena produk yang berasal dari plastik sendiri akan sulit untuk terurai di alam dan butuh waktu puluhan bahkan ratusan tahun agar bisa terurai.

Mengutip data dari Nature.com, indonesia diperkirakan membuang sekitar 200.000 ton plastik ke sungai – sungai terutama di Jawa dan Sumatera dengan jumlah kisaran 1,15 higga 1,41 juta ton sampah plastik dari sungai memasuki lautan tiap tahunnya. Adanya sampah plastik yang bermuara di laut dapat mengancam ekosistem kehidupan di laut.

Tidak hanya mengancam ekosistem di laut, sampah plastik yang menumpuk di tanah juga akan berpengaruh pada tingkat kesuburan tanah dan juga sebagai sumber penyakit jika dibiarkan begitu saja, serta dapat menimbulkan banjir di beberapa daerah perkotaan besar. Hal ini terjadi karena akan kurangnya lahan untuk penampungan sampah yang mana pada akhirnya sampah dibuang disungai, sehingga lambat laun sampah plastik akan menumpuk di sungai dan menyebabkan terhambatnya aliran air saat musim hujan tiba.

Terlepas dari bahaya plastik dan kondisi sampah plastik di Indonesia, perlu adanya penanganan yang diterapkan agar permasalahan sampah plastik ini sedikit demi sedikit dapat terselesaikan. Dimulai dari kebiasaan sehari – hari kita dengan meminimalisir penggunaan kantong plastik seperti halnya kebijakan penggunaan kantong plastik berbayar yang ditujukan untuk mengurangi jumlah penggunaan kantong plastik.

Di beberapa pemerintahan Negara maju telah melarang pembuatan dan penjualan kantong plastik dan diganti dengan menggunakan tas kertas atau tas berbahan baku kain atau bahan yang ramah lingkungan lainnya, dengan cara ini dapat mengurangi penggunaan dan ketergantungan terhadap kantong plastik, memilah jenis sampah di rumah menjadi sampah organik dan sampah non organik dengan pemilahan jenis sampah dapat mengindari tercampurnya sampah yang dapat menimbulkan bau tidak sedap, menerapkan prinsip 4R yaitu replace yang berarti beralih menggunakan bahan atau barang yang ramah lingkungan, reduce yang berarti mengurangi produksi sampah, re-use yaitu cara kreatif agar sampah memiliki nilai guna dan jual, dan recycle yang berarti mendaur ulang sampah plastik.

Implementasi dari prinsip recycle sendiri bisa berupa Bank Sampah. Dengan adanya bank sampah bisa membantu dalam menangani dan mengurangi permasalahan sampah di Indonesia karena bank sampah didirikan untuk mengubah sampah menjadi sesuatu yang lebih berguna dalam masyarakat. Selain memiliki nilai guna di masyarakat adanya bank sampah menjadikan lingkungan semakin lebih bersih, menyadarkan masyarakat akan pentingnya kebersihan dan membuat sampah memiliki nilai ekonomis, bukan hanya sekedar barang yang sudah tidak berguna lagi.

Dengan begitu kita bisa belajar lebih bijak lagi dalam memperlakukan lingkungan alam sekitar. Mungkin tidak salah juga kalau alam ini semakin lama semakin rusak juga karena ulah tangan kita semua, oleh karena itu sudah saatnya kita peduli dengan alam kita dengan melakukan hal-hal kecil setiap hari dengan berkontribusi baik untuk bumi dan generasi kita dimasa yang akan datang.

Dengan caranya mengurangi penggunaan kantong plasktik untuk berbelanja, diganti dengan kantong dari bahan baku yang lebih ramah lingkungan serta mendaur ulang sampah plastik yang sudah tidak digunakan lagi menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat dan memiliki nilai ekonomis yang bisa membantu masyarakat dalam meningkatkan penghasilan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya