etelah sekian lama saya tidak menulis -karena tidak ada ide-, sekarang sudah saatnya saya menulis lagi -karena ada ide-! 🙂

Tadi malam saya menghabiskan sekian menit waktu saya untuk ngobrol dengan mantan Adik Kos dan beberapa anak kos lainnya. Kami bercerita banyak hal, tetapi yang paling banyak kami obrolkan adalah seputar pernikahan -hal yang menarik, tetapi begitu sensitif untuk dibicarakan-.

Advertisement

Setelah bercerita kesana kemari, inti dari obrolan kami adalah bahwa saya dan Adik Kos saya sedang merencanakan menuju jenjang yang "sensitif" itu. Banyak kesamaan kami, diantaranya prosesi yang harus dilewati, cerita yang akan kami lakoni dikemudian hari, dan kesadaran kami bahwasanya kami adalah perempuan yang "biasa" saja.

Iya, perempuan "biasa" ini menjadi topik yang menggelitik. Kami adalah perempuan yang pada dasarnya tidak TERLALU memiliki kelebihan. Kami adalah perempuan yang tidak tinggi langsing, tidak putih, tidak bahenol, tidak berambut panjang -rebonding-, tidak dan tidak lainnya. Ibarat kami sedang jalan dikeramaian pun, kami bukanlah tipikal perempuan yang akan jadi pusat perhatian.

Tapi dibalik itu semua, kami juga bersyukur karena ternyata ada orang yang masih bisa menerima kami apa adanya. Iya, "calon" kami ternyata adalah manusia yang tidak melihat kami dari sisi kebahenolan saja. Tetapi menurut mereka, kami adalah tipe perempuan yang bisa "ada" untuk mereka.

Advertisement

Mereka juga sebenarnya sama dengan kami. Mereka adalah sosok pria yang BIASA saja. Bukan tipikal pria tinggi-kekar, bukan pria berbaju parlente, bukan anak band yang biasanya digandrungi gadis-gadis, bukan pria bermobil, bukan dan bukan lainnya Tetapi mereka istimewa karena menerima kami apa adanya dan kami juga istimewa karena menerima mereka apa adanya -dengan kesederhanaan dan bentuk tanggung jawab mereka-.

Iya, sebenarnya apa sih yang dicari dalam sebuah hubungan? Fisik dan materi? Popularitas dan prestise? Atau mungkin ada unsur keterpaksaan?

Setelah kami berdiskusi, bercerita, dan guyon, akhirnya kami memutuskan untuk menetapkan hati bahwa apa yang kami cari bukanlah sesuatu yang neko-neko. Kami hanya mencari keSEJAHTERAan diri! Sejahtera menurut definisi kami adalah keseimbangan dari dua sisi. Seimbang antara kami dan mereka secara fisik, secara naluri, jasmani dan rohani, jiwa dan raga, dan semoga seimbang dari sisi duniawi sampai nanti di akhirat.

Kami dan mereka memang biasa saja, berarti kami dan mereka harus tahu diri, sadar diri, dan yang pasti harus pandai mengoreksi diri. Tidak perlu begitu banyak pengakuan dan -mungkin- terlalu eksis, karena memang kami biasa saja. Biar saja apa kata orang, yang jelas menurut kami, bahagia -hanya satu sisi saja- tidak bisa disebut sejahtera! Orang lain mau berkata apa, tidak jadi masalah, dan kami tidak terlalu mau ambil pusing, karena kami yang tahu dan kami yang menjalani!

#pasangan

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya