Seorang wanita cantik dari Brooklyn naik ke atas panggung. Ditemani seorang lelaki berjenggot, ia mengawali petikanya dari balok kedua bagian ujung gitar. Sepuluh jarinya berjalan diantara enam benang senar. Lalu satu judul lagu All Yours mengubah keheningan penonton.

Itulah penampilan duo Widowspeak antara Molly Hamilton dan Robert Earl Thomas ketika menyihir puluhan penonton dari atas stage gigs. Sebuah penampilan yang memberi saya suasana sejuk ditengah hingar bingar panasnya para Kurcaci Pilkada DKI yang terus dandan di layar kaca.

Suara Americana Molly yang dibalut lantunan ayat gitar Thomas membuat musik mereka antik, sekaligus unik. Terus terang kedua musisi ini terbilang mengagumkan karena diusianya yang baru seumur jagung, mereka berhasil membangun karakter rock folk dengan begitu cepat.

Band yang diakui sang frontwoman sangat terinfluence pada duo Santo & Jhonny itu terbentuk pada tahun 2010 lalu di New York negeri paman sam. Meski dalam susunan line up ada nama Pamela Garavano sebagai pembetot Bass. Saya tetap lebih suka dengan penampilan Molly dan Thomas.

Pilihan Mereka pada sirkuit rock folk sangat mewakili saya sebagai kaum minoritas. Bagaimana tidak, di Indonesia tempat saya diami ini, hampir semuan kebanyakan anak muda tengah dibuat mabuk karena dijejali band acakadul karbitan.

Advertisement

Lantas kenapa harus Widowspeak?
Padahal banyak komposer dan band berkualitas yang pantas diulas. Terlebih akses visual televisi terus menyuguhkan kemampuan menarik para musisi yang berlindung dibalik ketiak laba-laba bisnis gurita industri rekaman.

Saya ingin menjawab pertanyaan itu dengan dua kata. Pertama, pantas. Dan kedua perlu. Jadi mereka itu pantas dan perlu menjadi rujukan rekomendasi pendengaran kuping. Selain karena berkualitas, misical mereka juga menawan.

Memang, saya tidak begitu mengulik lebih dalam soal dua orang ini. Tapi setidaknya, mereka layak mendapat medali tepuk tangan dari para penikmat musik. Karenanya, tak berlebihan jika Molly saya pilih untuk bersejajar dengan frontwoman Mazzy Star.

Dari atas panggung, Molly mampu menyihir semua penonton menjadi lebih wembley. Vokalis yang kerap menggunakan kemeja tahun 1950 dengan pashion simpel itu memang pintar. Gayanya selalu atraktif dan yang pasti, kecantikan Molly semakin terpancar.

Perhatikan saja pada single "Harsh Realm" dari album "Widowspeak". Suara lead Molly dijamin bakal menarik dua tangan kamu untuk segera menjejali kuping dengan handsfree, terlebih ia sangat menghayati lirik yang saya yakini bercerita tentang kompleksitas kehidupan itu.

Lalu bagaimna dengan Thomas? Saya kira tanpa lelaki jangkung berambut gondrong itu, Molly juga tak bisa berbuat lebih. Pepatah selalu bilang, bagai sayur tanpa garam, rumah tangga bisa berantakan.

Itulah kenapa kemampuan Molly wajib dilengkapi Thomas yang memiliki kemampuan mengulik seluruh lapisan gitar. Disini, Thomas menjadi poin kunci untuk menghasilkan magnum opus Widowspeak.

Dan jika pembaca artikel ini tak keberatan, kemampuan Thomas itu akan saya sejajarkan dengan Robert Plant. Sebab penampilan tajam dan tegasnya membuat mereka piawai meletakan ritme pada tempat yang pantas. Saya menggambarkan kedua orang itu seperti senyawa hidrokarbon yang memiliki sifat simbiosis mutulisme.

Mendengar Komposisi musik Widowspeak saya juga langsung teringat dengan sebuah band Bandung bernama Mocca. Tak banyak sih yang saya kulik, namun kedua band beda negara itu sama-sama sendu tetapi penuh intelektual dari segala aspek.

Seperti halnya All Yours, ada sesuatu yang lain di pikiran saya. Sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan tulisan ini. Sesuatu yang mungkin bisa terjawab setelah kalian mendengarkan lagunya.

Yang pasti, selama seminggu ini saya memilih Dead Love sebagai lagu pertama yang dicolok kedalam lubang amplifier studio kamar tidur. Dead love, juga saya jadikan teman sehari-hari dalam menempuh perjalanan anatara Jakarta-Bekasi. Disusul "Puritan" untuk mengusir setan penat didalam kepala.

Sesekali, saya juga iseng berteriak "Girls" dengan suara koor bersama teman-teman. Lalu menjejaki penelusuran hits di berbagai aplikasi perangkat Android. Ternyata lagu itu cukup memiliki posisi dihati penikmatnya dengan bertengger di angka 1.699 klikers.

So, musik tak hanya universal, namun ia juga soal rasa dan cinta. Kamu berani mendengar Widowspeak?