Akan ada saatnya ketika tawa yang kita keluarkan tidak mengartikan apa-apa. Akan ada waktunya ketika pembicaraan yang kita lontarkan hanya menjadi sebuah sapaan. Akan ada saatnya ketika pesan-pesan yang diterima tidak menyatakan bahwa perhatian itu ada. Akan ada masanya ketika obrolan panjang kita yang dulu ada, sekarang hanya menjadi obrolan singkat yang tidak berlangsung lama

Dan ketika semua itu terjadi, semua masa-masa kita yang telah lalu hanya akan menjadi sebuah kenangan yang hanya bisa dikenang. Disaat semua itu terjadi, jarak di antara kita semakin panjang. Setiap kata yang terucap, setiap kalimat yang terlontar hanya akan menjadi seperti sebuah senja di tepian sore, datang dengan indahnya, lalu kemudian pergi meninggalkan gelap yang pasti.

Advertisement

Aku hanyalah manusia yang menantikan cahaya terang menyinari angkasa. Sementara kau adalah mentari yang memberikanku cahaya itu. Kau buatku bahagia dengan sinarmu, kau membuat aktivitasku jadi lebih mudah di setiap hariku, kau memberikanku cahaya agar aku bisa terus percaya, dan di saat aku sudah begitu percaya, lalu kemudian kau pergi memberikan kegelapan demi mencari manusia lain di belahan bumi lain, dan memberi cahayamu kepada orang lain.

Memang, akan ada saatnya kita akan kembali seperti kita yang belum bertemu dulu. Namun, melupakanmu seakan aku tidak mengenalmu itu tidak mungkin bagiku. Tapi tenanglah, ketika sinarmu hilang di telan kegelapan malam, akan datang bulan dan bintang yang juga akan memberikan sinarnya -meskipun tidak seindah sinarmu. Dan aku, akan menunggu. Menunggu kapan akan datangnya bulan ataupun bintangku – meskipun tiap harinya akan bertemu denganmu.

Melepasmu, Aku akan.

Advertisement


"Perbaiki dirimu saja dulu, kelak juga akan ada yang akan ikut memperbaikimu"


Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya