Di bulan Oktober 2017, Kementerian Keuangan mempunyai sebuah kegiatan besar yaitu Kemenkeu Mengajar jilid dua. Kemenkeu mengajar merupakan sebuah kegiatan yang melibatkan semua direktorat yang dinaungi oleh Kementerian Keuangan, mengajar siswa SD dengan tujuan untuk memperkenalkan seluruh profesi dan pekerjaan yang dilakukan oleh para pegawai Kementerian Keuangan.

Kegiatan pertama yang saya lakukan untuk berpartisipasi dalam Kemenkeu mengajar ialah melakukan pendaftaran via online sebagai relawan. Saya memilih menjadi relawan mengajar di Kota Manado dengan berbagai pertimbangan, salah satunya penghematan biaya, dikarenakan program Kemenkeu Mengajar tidak menggunakan dana dari kementerian. Ada juga lowongan relawan sebagai sie dokumentasi. Setelah proses seleksi, terpilihlah nama-nama sebagai relawan dan sebelum proses mengajar, diadakan briefing sebagai bekal awal bagi relawan untuk mengajar di sekolah. Perlu diketahui, program ini serentak dilaksanakan di 61 kota di Indonesia. Kebetulan, saya mendapat kesempatan menjadi relawan pengajar di SD 67 Manado.

Tibalah hari yang ditentukan. Dengan memakai seragam dinas, kami berangkat dari kantor pukul 6.15 WITA. Tidak sampai 15 menit kemudian, kami tiba di sekolah. Kami disambut oleh ibu kepala sekolah dan diminta untuk ikut upacara. Mengikuti upacara setelah sekian tahun, menjadi momen yang menyenangkan bagi saya. Apalagi petugas upacaranya siswa SD, antara keluguan dan kelucuan di sepanjang jalannya upacara. Ada satu momen yang membuat saya bingung, yaitu saat menyanyikan lagu wajib nasional. Dua lagu wajib bisa saya ikuti, di lagu ketiga mereka menyanyikan lagu daerah. Hebatnya, hampir semua murid fasih dan hafal lagu itu. Sedangkan kami para relawan Kemenkeu mengajar yang mayoritas berasal dari pulau Jawa, hanya satu orang yang fasih, itu juga karena putra daerah.

Setelah upacara tibalah kami untuk mengajar. Saya pernah mengenyam pendidikan keguruan dengan disiplin ilmu pendidikan ekonomi, sehingga saya percaya diri masuk kelas untuk mengajar. Punya gelar sarjana pendidikan, tidak menjadi jaminan bisa diterapkan di siswa SD, apalagi untuk kelas 1 SD. Saya bingung dan tidak tahu harus melakukan apa untuk mengendalikan siswa-siswa kelas 1 SD tersebut. Bagaimana cara memotivasi, bertanya-jawab, ataupun menghidupkan suasana menjadi cobaan berat buat saya. Untungnya, kami mengajar bertiga untuk satu kelas. Dua rekan saya adalah ibu-ibu, sehingga dengan sifat keibuan mereka, siswa-siswa kelas 1 SD dapat terkendalikan. Kami bercerita tentang siapa kami, apa pekerjaan kami, diselingi dengan menari dan bernyanyi. Sesi pertama kami lalui selama 60 menit.

Sesi pertama telah kami lewati, ada waktu istirahat yang kami gunakan untuk mengembalikan energi. Sesi kedua, tim kami kebagian mengajar di kelas 6. Prediksi saya, penyampaian materi akan lebih mudah disampaikan dan bahasan yang akan kami sampaikan pastinya akan lebih berat.

Advertisement

Kami disambut dengan jargon sekolah saat kami memulai sesi kedua. Materi dimulai dengan penjelasan kami tentang tugas dan fungsi pekerjaan kami. Analogi seperti ayah, di mana kami bekerja menggumpulkan uang guna memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Dilanjutkan dengan menggambar masing-masing siswa dengan rumah dan keluarga sebagai objek gambar. Setelah selesai, secara acak kami tunjuk salah satu siswa untuk presentasi di depan kelas. Kegiatan ketiga ialah menulis cita-cita dan ditempelkan di pohon harapan yang telah dibuat oleh salah satu rekan saya. Tentunya semua kegiatan itu kami selingi dengan senam, bermain dan menari, diantaranya senam jari, tes tulisan dan warna, chicken dance, dan baby shark. Selesai mengajar kelas 6, baju kami basah dengan keringat dikarenakan kami harus menyaingi gerak dari siswa-siswa.

Ada banyak pelajaran yang saya dapatkan dalam program Kemenkeu mengajar. Salah satunya semangat dan fisik guru-guru SD dalam mengajar. Program Kemenkeu mengajar di SD 67 Manado berlangsung setengah hari, tapi capeknya sampai esok hari. Kami bayangkan bagaimana capeknya guru SD yang mengajar setiap hari, bagaimana kuat dan sabarnya mereka dalam mengajar. Ilmu yang guru punya juga tidak hanya keahlian bidang studi, tetapi juga psikologi anak, teknik manajemen waktu agar pelajaran dapat berjalan sesuai dengan RPP (Rencana Program Pembelajaran) yang guru buat.

Setelah acara Kemenkeu mengajar, kami berkumpul melakukan evaluasi kegiatan di hari tersebut. Diharapkan hasil evaluasi menjadi perbaikan untuk program Kemenkeu mengajar selanjutnya.