Setiap manusia yang hidup di dunia ini, pasti pernah dihadapkan oleh sebuah pilihan. Pilihan yang menentukan masa depan, terlebih untuk diri sendiri. Mulai dari suka atau tidak suka. Mencintai atau membenci. Menunggu atau berlari. Bahkan bertahan atau melepaskan. Berat rasanya saat diharuskan untuk memilih, hati inginnya ini. Pikiran inginnya itu.

Fresh Graduate, memang tidak mudah untuk mendapatkan pekerjaan yang mapan. Dua tahun yang lalu hanya berbekal ijazah SMA. Aku mencoba untuk menjalani profesi yang sebenarnya bukan impian tapi panggilan diri untuk membuktikan pada dunia. Impian yang dimiliki ibuku dan Tuhan memberikannya padaku. Pekerjaan yang tidak mendapatkan uang lebih, tapi mendapatkan pengalaman yang luar biasa.

Penyiar Radio yang kujalani mulai dari nol, kejadian yang membentuk kepribadian. Mengenal orang yang modus dan tulus. Sampai rasa yang diam-diam mulai datang tanpa permisi dan akhirnya aku dihadapkan bertahan atau melepaskan. Apa iya aku kalah dengan keadaan?

Saat keadaan yang menuntunku, aku tidak berdaya. Alam bawah sadarku hanya menerima kata iya. Orang-orang di sekitarku mendesak untuk aku melepaskan ini. Tapi hati kecilku terus berteriak ingin didengarkan bahwa aku bisa. Aku sadar harapan orang tua ada di dalam diri ini. Mereka ingin aku berdiri di atas kakiku sendiri. Kata hati tak pernah salah, aku bertahan untuk ini.

Masalah cinta? Ah nanti dulu. Ini lebih penting dipikirkan. Tentang cita-cita. Menjalani keduanya? Yang ada hanya cinta yang membuat galau dan cita-cita yang hanya berlalu. Kapan lagi akan bahagiakan orang tua yang sudah mendidik dan membesarkan kita kalau enggak sekarang? Toh, nanti setelah kita mencapai tujuan dan impian, pasti cinta di orang yang tepat akan datang tanpa terlambat.

Advertisement

Mumpung masih muda bahagiakan dulu orangtua. Kalau menunggu nanti, keburu kita disibukkan dengan suami dan anak. Mengurus rumah tangga ditambah tanggungan kerja yang tak kenal waktu. Perbaiki diri untuk semua impianmu dan yakinlah bahwa kamu mampu.