Ini merupakan kisah nyata yang ku alami dalam hidup sebelum usiaku benar-benar genap 24 tahun. Sebuah perjalanan hidup yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Sebuah jalan yang ternyata ini bukan bagian dari doa orang-orang terbaikku. Ini adalah masa yang begitu suram dan belum pernah ku alami sebelumnya.

Ini tentang aku sosok perempuan yang begitu lemah dan tak pernah tahu manis dan pahitnya sebuah "rasa" sebelum pertemuan itu terjadi. Sebelum seseorang yang tak ku kenal sebelumnya memperkenalkannya dan menjadikanku bagian dari penikmat dan penderita satu kata baru "saat itu".

Advertisement

Kamu pernah jatuh hati dan merasakan sakit pada akhirnya? Kamu pernah berharap pada Tuhan namun lebih meninggikan pada manusia yang jelas diakhiri rasa kecewa? Kamu pernah lupa rasa sakit karena kebahagiaan namun pada akhirnya justru lupa bagaimana rasa bahagia?

Aku pernah berada pada kondisi itu. Jatuh hati pada seorang pria yang sejatinya sama sekali tak berhak membuat air mataku menetes. Aku merasa berada pada kondisi terbaik di kala itu. Aku seolah menjadi wanita paling bahagia di muka bumi ini. Ah, itulah rasa sesaat yang lantas mengantarkanku pada kebahagiaan saat itu dan penderitaan di banyak waktu sampai pada hari kemarin (beberapa bulan lalu).

Meskipun tak hanya bahagia namun ada juga rasa khawatir dan kecewa di beberapa waktu, namun semua itu tertutup dengan segala hal baik yang terlihat dari sosoknya. Sesungguhnya tak semua baik namun keburukan sebesar apapun menjadikan mataku buta dan hanya bisa menyaksikan kebaikan meski setipis angin. Mungkin ini yang orang bilang "tahi kucing rasa cokelat".

Advertisement

Tak hanya itu, tepat beberapa bulan setelah perjalanan hidupku di kota rantau ketiga dimulai, aku telah menaruh harapanku pada sosok yang ku kisahkan ini. Tentang keseharianku, tentang detik hari itu, hingga pada persoalan masa depanku nanti. Sungguh ini adalah hal yang tak pantas untuk ku rasakan saat itu.

Namun demikian tuhan mengaturnya sedemikian rupa. Aku tak berhak menyalahkan dan mengutuk apa yang telah terjadi ini. Mungkin dengan cara ini Tuhan memintaku untuk lebih cerdas dalam bergaul, lebih pandai membaca sosok yang ada di hadapanku atau apapun itiu. Yang jelas hikmah harus menjadi akhir dari kisah buruk itu.

Aku benar-benar lupa bagaimana rasa sakit meskipun setiap waktu aku berpeluang merasakannya. Aku seolah lupa bahwa dunia tak hanya soal pelangi namun juga mendung dan awan gelap. Aku hanya tahu bahwa setiap waktu aku bisa membaca kalimat-kalimatnya yang indah. Setiap hari aku bisa menerima kabar darinya meski mungkin tak hanya aku yang mendapatkannya. Ya, karena sosoknya bukan orang yang bisa ku definisikan secara gamblang di beragam tempat.

Namun tak berlangsung selamanya, tapi tak sebentar pula. Sekiranya beberapa tahun aku merasakan hal-hal yang dianggap “bodoh” oleh saudaraku. Seharusnya memang tak begitu. Tapi nyatanya sikap polosku hanya tahu dengan beberapa hal di atas. Akhirnya aku pun benar-benar sedih dan kecewa setelah sekian lama dua hal itu tertutup dari kebodohanku.

Dia memang tak pernah mengumbar janji. Tapi beberapa kalimatnya menandakan bahwa perjuangan adalah hal yang pasti dilakukan untuk sebuah tujuan kebaikan. Ah, semua berubah saat hati tak lagi sama. Karena memang demikian kaidahnya. Bahwa hati itu berbolak-balik, Dialah yang Maha Mengatur segala di muka bumi ini.

Apa yang seharusnya menjadi tindakannya secara jantan dan berani nyatanya tak berwujud. Sesuatu yang seharusnya menjadi panggilan jiwa juga hatinya, tak terbukti dalam tindakannya. Aku marah juga kecewa. Tak hanya itu, sedih seolah mewarnai hari-hari awalku di kota rantau yang ketiga.

Tangisku tak pernah absen dari keseharianku kala itu. Ingatanku terus mengarah padanya, dan tak bisa ku hentikan. Saat itu, aku benar-benar kacau dan pintu masa depan seoalah terkunci dengan rapat. Usaha untuk menemukan kunci bukan tak berhasil, malah tak pernah ku mulai saat itu. Namun akhirnya aku sadar bahwa hidupku tak boleh hanya seperti ini saja. Saat ini masih dalam tahap perbaikan tapi setidaknya aku telah berhasil mengharamkan air mataku menetes karena namanya.

Dari sekian banyak aktifitas dan tempat yang ku kunjungi, juga orang yang menemaniku di masa sulit, aku sadar bahwa waktu adalah penjawab akhir dari semuanya. Aku butuh waktu untuk bisa hidup normal seperti sebelum pertemuan itu terjadi di ujung tempat. Satu bulan tak kan cukup. Tujuh bulan sampai di hari ini pun masih kurang karena meski tak lagi cengeng karenanya, namun beberapa hal masih belum kembali utuh. Kamu tahu bagaimana kejamnya seseorang yang melukai hati? Maka jangan pernah untuk mencoba menjadi seorang subjek dari semuanya.

Seseorang mengatakan ini “semua hanya butuh waktu”. Aku telah membuktikannya. Kendati demikian, pelaku dari skenario lah yang wajib menentukan kehidupan macam apa yang akan dilakukan di masa selanjutnya. Aku kini merasa menjadi lebih baik dari beberapa bulan lalu. Rasa itu masih membekas dan aku bersyukur tak berujung pada rasa dendam. Aku dan seorang temanku selalu menyebut bahwa kita adalah bidadari. Biarlah orang berkat bagaimana karena bagaimanapun kita, kritikan dan omongan dari orang lain tak akan pernah terhenti kan.

Meskipun sakit, kecewa, sedih, juga marah, sekali lagi ku tegaskan aku tak menaruh dendam. Namun demikian, perilakuku untuk orang lain bisa sangat baik tapi untuknya dan semua yang terkait dengannya akan menjadi lebih baik dari saat ini jika apa yang dia lakukan untukku tak pernah terjadi. Ya, demikian adanya dan entah kapan hal ini akan berubah. Bukan menjadi tanda bahwa aku belum bisa beranjak hanya gelas yang pecah tak bisa secara utuh dikembalikan. Apalagi jika tak ada usaha untuk mengembalikannya, semua mustahil bukan? Sekadarnya gelas tersebut akan menampung muatan dan jangan memaksa untuk lebih dari demikian ini.

Selain itu, aku juga tak lupa dengan rasa bahagia yang pernah diciptakan. Karena bagiku tak adil jika keburukannya saja yang kini berada di benak kita. Aku bukan manusia adil hanya berusaha menjadi bijak meskipun itu masih jauh dari batas maksimalnya. Jelas, ini sangat jauh dari hal demikian. Aku juga tak lupa bahwa karenanya aku mencapai sesuatu yang pernah ku dapatkan. Namun tak hanya karenanya tentunya. Ia juga seseorang yang mengenalkanku pada beberapa tempat. Namun karenanya, kebebasanku bersama beberapa orang temanku menjadi terbatas.

Saat ini aku bahagia. Karena sebelum bertemu dengannya aku berada pada kondisi yang sangat baik. Saat bersama, aku baik dan sesudahnya aku juga harus berada pada situasi semula. Aku kini menjadi jauh lebih baik dan bisa secara terbuka melihat dunia berikut dengan isinya. Mungkin di balik tembok itu pula ada sesuatu besar yang kemarin sengaja tak ku lihat karena memilih untuk menutup inderaku. Kini tak akan lagi.

Bersamamu aku bahagia karena satu hal, dan saat tak lagi “mengenalmu”, aku punya banyak alasan untuk tersenyum, semangat, dan menyapa mentari indah di setiap pagi. Sekali lagi terima kasih, telah mengenalkan keindahan dan keburukan di waktu yang sungguh berbeda. Selamat tinggal untuk semuanya dan mari hidup menjadi pribadi yang lebih baik. Aku selalu mengingat bagaimana manusia harus terus berdoa kebaikan terlebih untuk saudaranya seiman. Insya Allah.

Baru ku publish bukan berarti karena baru merasa. Hanya waktunya baru saja tersadarkan untuk membagi pengalaman ini. Terima kasih dan enjoy your life.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya