Artikel merupakan kiriman dari pembaca Hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Aku sudah berpengalaman dalam kehilangan. Cukup berpengalaman untuk menyadari bahwa menghitung hari tidak sama dengan mengobati. Aku lupa ini hari keberapa semenjak aku dipaksa berhenti menyebutmu cinta. Tapi yang aku tahu, 2 tahun sangatlah lama bagi manusia biasa. Dan rasanya tetap sama.

Advertisement

Tak perlu kujelaskan lagi sakitnya karena sampai kapanpun kamu takkan tahu rasanya. Mungkin yang perlu kamu tahu, hanya bahwa aku belum pernah punya rekor satu minggu tanpa air mata. Dan doa.. dan namamu yang mungkin membuat pemilik semesta menguap bosan mendengarnya.

Aku tidak (mau) berharap kamu kembali, sungguh. Aku tidak akan pernah mau kehilanganmu untuk kedua kalinya. Merasakan lagi malam-malam itu. Malam-malam di mana menutup mata hanya melipatgandakan sesak dada. Malam-malam saat doaku tentang kita hanyalah doaku, tentang kita. Malam-malam di mana aku tak tahu harus menjawab apa jika Tuhan menanyakan pendo(s)a satunya.

Kini, aku bahkan tak bisa membayangkan seandainya kamu tidak pernah pergi. Rasanya terlalu mahal untuk mencintaimu setiap hari. Untuk tetesan cintamu dan harga yang harus kubayar; dengan ketakutan kehilanganmu, sesak memikirkan hari-hariku kelak tanpamu, membaca godaan-godaan dan kemarahan dari mantan pacarmu yang kubilang gila, namun kini teramat kumengerti perasaannya.

Advertisement

Ah, sayang. Aku tidak pernah menyesal mengenalmu. Melewati malam-malam berdua tanpa diketahui sesiapa. Saling kecup setiap mereka mengalihkan pandangannya. Saling rindu saat mereka berpikir aku hanya bersama hidupku, begitupun kamu.

Aku rindu. Tapi rindu apa yang penderitanya takut untuk bertemu? Aku takut, bahkan hanya untuk melihat namamu. Aku takut pada sesaknya, pada kenangan kita yang berkelibat dalam hitungan detik membabibuta setelah aku tak sengaja melihat namamu di media sosial. Sayang, aku tau kamu sekarang berbahagia. Dan begitulah seharusnya. Begitulah yang aku inginkan saat aku merebutmu dari dia. Kamu yang mengajarkanku tentang ketidakegoisan, berhak berenang, bahkan ditenggelamkan kebahagiaan.

Kini, mungkin aku tidak lagi jadi nama yang ada di note harianmu, yang dulu selalu kau sembunyikan dariku karena malu. Aku mungkin tidak lagi jadi objek gambar-gambar digital buatanmu. Aku mungkin bukan lagi orang yang kau tangisi dengan mempertaruhkan tangguhmu. Dan untuk yang terakhir itu, aku berharap teman hidup barumu tidak akan membuatmu begitu.

Padamu, aku harus lupa. Tapi aku belum bisa. Belum mau, tepatnya. Dan bukankah lupa memang bukan untuk disengaja? Aku tidak tau harus apa. Rindu ini mungkin mau ku pelihara, dan ku bungkam setiap dia mulai nakal menusuki dada, atau menendang-nendang kenangan kita yang kutaruh rapi dalam kepala.

Selamat berbahagia dengan yang baru, lebahku. Selamat memelihara lagi kupu-kupu di perutmu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya