Halloo sayang! Izinkan aku menulis sepatah dua kata untukmu, untukmu yang kini jauh disana. Sayang.. Kamu ingat? Dulu, sebelum menjadi sepasang kekasih kita adalah sahabat semasa kecil. Kamu adalah teman masa kecil, teman masa kecil yang kini naik level jadi kekasih. Dulu ketika kecil kamu adalah lelaki dengan pipi gembil, seorang bocah lelaki perusuh. Iya, dulu kamu perusuh untukku. Bagaimana tidak? Kamu bocah lelaki yang gemar merusak mainan. Sebagai contoh: Dulu aku gemar bermain boneka kertas, dengan pensil warna sebagai kerangka rumah. Lalu, apa yang kamu lakukan wahai pipi gembil? Dengan sangat mengesalkan, dan tanpa rasa berdosa kamu menendang rumah-rumahan yang sudah aku bangun susah payah.

"Jelek! Aku bisa buat lebih bagus" "Huaaaaaaa.. Ibu!"

Advertisement

Kamu adalah yang paling sering membuat aku menangis ketika kecil, tapi saat dewasa kamu adalah yang paling cepat menghapus air mata di pipi. Sayang.. Aku tidak pernah menyangka jika sahabat kecilku ini diam-diam menyimpan rasa pada sahabat yang sering kamu panggil bongeng ini (bongeng: bocah cengeng). Maafkan aku yang telat menyadarinya.

Jika dulu kamu adalah bocah lelaki dengan pipi gembil, maka lain halnya kini. Karena kini kamu adalah lelaki berprawakan tinggi, dengan badan sedikit berisi. Lelaki beralis tebal, dengan hidung mancung yang selalu mencuri perhatian. Jika dulu ketika kecil kamu adalah si bocah perusuh yang gemar merusak rumah-rumahan mainan yang telah aku bangun susah payah, maka lain halnya kini.

Karena kini kamu adalah si calon Arsitek yang siap merancang rumah masa depan kita nanti. Kamu memang terkadang mengesalkan, tapi kamu adalah yang selalu ada. Kamu memang menyebalkan, tapi kamu adalah yang paling mengerti. Kamu memang rese, tapi kamu adalah yang paling tahu. Kamu bukanlah tipe lelaki yang banyak mengobral kata manis hingga aku tersipu, tapi kamu adalah lelaki dengan tindakan tak terduga yang mampu mengetarkan hati.

Advertisement

Kamu berbeda dari kebanyakan lelaki, kamu adalah lelaki teristimewa yang pernah aku temui. Kamu berbeda, kamu lain dari yang lain. Sayang.. Kini kita memang terpisah jarak. Kamu disana, dan aku disini. Tapi sungguh sejauh apapun kamu, aku masih dapat merasakan kasihmu. Ketulusanmu, kejujuran dimatamu adalah yang membuat aku masih mau tetap bertahan diantara ratusan kilometer jarak bersamamu.

Karenamu aku mengerti apa itu yang dinamakan rindu, karenamu aku kenal rindu. Karenamu aku dapat merasakan sensasi dari rindu itu sendiri. Betapa rindu terkadang membuatku layaknya orang gila yang dapat menangis tersedu-sedu, lalu tersenyum dalam waktu yang bersamaan.

Yah, tersenyum saat bayangan kita berdua melintas. Tersenyum saat mengingat banyolanmu yang terkadang mampu membuatku guling-guling, tersenyum saat mengingat betapa kamu kerap kali rakus bak seorang yang tak makan seminggu saat menyantap masakan yang aku buat dengan tanganku sendiri. Terima kasih, sayang. Karena kamu adalah yang selalu memotivasi, kala aku drop saat masalah datang.

Katamu "Kamu bisa melalui, aku tau kamu bisa." Lalu kamu akhiri dengan kecupan sayang di kening. Aih, sayang! Kata orang kamu lelaki dingin yang tak pernah tersenyum. Tapi bagi diriku kamu adalah lelaki yang lebih dari kata romantis. Terima kasih untuk hari-hari menyenangkan, berjanjilah untuk tetap bersamaku. Berjanjilah jika kamu tak akan menggores lara layaknya dia yang dulu sempat mengisi hati. Kamu lelaki bijak yang tak pernah lelah memahami kurangku, aku mencintaimu.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya