Apa kabar?

Lama tidak melihatmu. Meski bukan berarti aku tidak memahamimu. Yakinlah, sebenarnya aku mengerti apa yang kau rasakan. Aku telah mematahkan hatimu, merusak rencana-rencanamu, dan menyia-nyiakan apa yang paling berharga darimu — kesetiaan.

Kepada semua hal yang telah merugikanmu, aku minta maaf.

Aku telah menggantungkan perasaanmu. Tampar aku. Aku layak mendapatkannya.

Aku telah melambungkan harapanmu tentang hubungan kita setinggi awan. Lalu, membantingnya ke palung terdalam — tanpa merasa bersalah.

Advertisement

Aku pun pernah menemui kedua orang tuamu. Sebagai tanda keseriusanku. Meski sebenarnya masih ada keraguan dalam hatiku.

Karena itulah, aku tidak memilihmu.

Mungkin.

Karena bisa jadi, aku meninggalkanmu karena kau pun meninggalkan jati dirimu yang dulu pernah membuatku jatuh cinta. Bisa jadi, karena kita mulai jauh. Aku tahu kita pun tetap beberapa kali bertemu. Aku memahami upayamu untuk memotong jarak itu. Tapi maaf, ada ruang kecil di hatiku yang semakin lama semakin besar. Ruang inilah yang membuat kita tanpa sadar semakin menjauh seperti timur dan barat. Ruang hati, yang diisi olehnya.

Ya, akhirnya aku mengakuinya.

Aku lebih menyayanginya. Hal yang tak kukira sebelumnya. Kupikir, kisah cinta kita akan berjalan sesuai rencana. Tapi benar katamu yang mengutip Sujiwo Tejo. Kita bisa merencanakan menikahi siapa, tapi tak bisa merencanakan akan mencintai siapa.

Ya, akhirnya aku mengakuinya.

Setelah berkali-kali aku menutupinya. Setiap kau menanyakan alasan,"Kenapa kamu meninggalkanku?", aku memberi jawaban-jawaban yang — takkan pernah memuaskan keingintahuanmu. Kau wanita cerdas. Tak bisa dibohongi oleh lelaki payah sepertiku. Kau terus mengejar. Apa alasan sebenarnya aku lebih memilihnya.

Kau pun menduga-duga. Karena dia lebih cantik? Lebih cerdas? Lebih dekat? Lebih penurut? Atau yang cukup konyol — lebih langsing? Aku tahu. Rasa sakit karena tidak dipilih itu tidak mudah dihapus. Oleh waktu sekalipun. Sadarlah, cantikku. Semakin kau mencari (jawaban itu), semakin kau kehilangan.

Kecuali setelah kusebutkan alasan yang satu itu.

Hingga akhirnya kamu pun sepertiku — menyerah mempertahankan hubungan ini. Kita lalu sepakat untuk saling menjauh. Alih-alih memberi kabar, kita mulai memberi jarak. Tapi, ini jaman sosial media. Tidak melihatku, tidak berarti tidak memikirkanku, bukan? Kau mulai menganalisa. Kapan aku dan dia berteman di Facebook. Kau menafsirkan setiap like, love, dan kutipan yang kau kira untukmu. Kau menduga-duga kapan aku mengupload foto bersamanya. Kau menyimpulkan sendiri seberapa dekat aku dengannya; sudah direstui keluargakah, sudah bermain ke mana sajakah, sudah sejauh apakah.

Ini juga era googling

Selain mendengar saran dari teman-temanmu, kau mungkin menemukan artikel-artikel yang memintamu untuk melakukan hal ini:

1. Unfriend, unfollow, delcont, di semua media sosial. Entah itu facebook, instagram, twitter, path, BBM.

2. Putuskan jalur komunikasi denganku. Jangan jawab 1 pesan pun dariku. Blokir WA dan nomorku kalau perlu.

3. Sadari bahwa dirimu memang lebih baik tanpaku

4. Berhenti kepo si wanita yang kupilih.

5. Olah raga. Diet.

6. Baca buku. Alihkan pikiranmu dariku.

7. Perbanyak me-time

8. Fokus pada masa depanmu.

9. Ingat-ingat kekuranganku

10. Kalau kau sudah ada pengganti, ingat-ingat kelebihannya.

11. Cari-cari kekurangan wanita yang kupilih.

12. Tonjolkan kelebihanmu dibanding wanita yang kupilih.

Kamu akan mengikuti sebagian atau semua langkah ini hingga menyadari; Cara-cara ini tidak akan berpengaruh! Setidaknya untuk benar-benar membuatmu mampu mengikhlaskanku. Hingga akhirnya, kau pun kembali memasrahkan segalanya padaNya. Susah, memang. Tapi bisa.

Karena aku pun, tak sebahagia yang kau duga.

Karena aku pun, masih menyayangimu.

Karena aku pun, menyesal meninggalkanmu.

Dan mungkin bertentangan dengan apa yang kau percaya. Waktu akan cepat berlalu. Kau akan cepat temukan penggantiku. Yang lebih mengerti kebutuhanmu. Tidak sepertiku yang memahami keinginanmu saja masih terbata-bata. Kau kan temukan dia yang mampu memberimu kepastian. Tidak sepertiku yang masih kepayahan untuk memberi kepastian pada diriku sendiri. Aku masih ragu pada pilihan-pilihanku. Aku sering gagal memastikan datang tepat waktu. Aku belum mampu mewujudkan mimpi-mimpiku, apalagi mimpimu. Dan pria seperti ini, tidak layak bersanding denganmu.

Yakinlah, akan datang lelaki yang membuatmu ingin bertanya,"Sayang, kenapa lelaki sehebat dirimu memilih aku?"

Tapi, kau kan urungkan niat itu karena ketulusan cintanya telah membuatmu yakin: "Inilah lelaki yang aku cari selama ini. Bukan dia." Sembari menunggu itu tiba, kau tak perlu mencoba melupakanmu. Buka saja hatimu. Seberat apapun itu. Dan aku, akan dengan mudah kau lupakan.

Ingatkah kamu saat lebaran di rumahku? Di situ ada toples yang lubangnya kurang besar. Kau bisa memasukkan tanganmu ke dalamnya. Tapi, bila tanganmu menggenggam makanan, tanganmu tak bisa dikeluarkan. Agar tanganmu bisa kembali bebas, kau harus melepaskan genggamanmu.

Seperti itulah, untuk kembali bebas, kau harus merelakan.

Susah, tapi bisa.

Semoga.