Saya cukup lama untuk berpikir, yah meskipun terkadang pikiran saya tidak melulu pada hal yang baik. Tapi untuk yang satu ini seperti nya memang harus dipikir dengan sudut pandang yang lebih etis. Bukan bermaksud elitist tapi berbuat baik tak perlu pengakuan. Begitupun sebaliknya, jadi untuk apa kita merasa bangga dan sangat butuh pengakuan atas kenakalan yang kita lakukan.

Menjadi lebih baik bukan soal agar dilihat orang, menjadi baik itu tentang menghargai diri sendiri atas apa yang telah Tuhan berikan. Dan tidak merugikan orang lain, jika memang dasar niatnya untuk pamer bukan berarti kebaikannya itu tak berguna. Yang perlu dirubah bukan perbuatannya, karena tak ingin dicap pamer lantas kita lebih memilih merubah sikap dengan sering berbuat buruk.

Advertisement


“Dari pada baik tapi tipu tipu, mending jujur apa adanya, buruk ya buruk aja sekalian yang penting ga muka dua”


Nggak tau apa ini yang mendasari semua tingkah buruk kita. Pada kenyataannya keduanya adalah racun yang seharusnya ditinggalkan. Ya jika kita tak mampu atau belum mau untuk melakukan kebaikan, apakah salah jika menahan diri dari berbuat buruk? Kita semua sadar betul bahwa, semua orang bisa berbuat baik, tapi belum tentu semua orang mampu menahan diri untuk tidak berbuat buruk.

“Saya bukan ustadz”

Advertisement

Alasan ini sering kali dijadikan tumbal untuk sebuah kemalasan untuk berbuat baik. Dan merasa wajar untuk bebas melakukan keburukan. Padahal untuk berbuat baik tidak mesti seorang ustadz, dan menahan diri dari keburukan bukan sebuah aib yang ga keren. Berbuat baik bukan berarti sok suci, tapi merupakan kesadaran betul bahwa memang kita ini kotor jadi perlu untuk membasuhi diri dengan “air suci”. Sekali bermain main dikubang lumpur memang menyenangkan tapi apakah kita akan terus berkubang mirip kebo dan babi. Bahkan kebo sendiri sering berendam dikali untuk membersihkan diri.


“Jika saya memang bukan ustadz lantas apakah saya juga harusnya berbuat buruk”


Saya kira banyak hal yang kita lupakan, sering kali ego dalam diri lebih kuat. Memilih bermanja manja dengan sesuatu yang gampang diraih, tanpa berpikir akhir dari semuanya. Mungkin ini bakal terdengar menggurui dan menceramahi tapi yang bisa melihat kesalahan dalam diri kita terkadang bukan kita sendiri. Kita butuh orang lain untuk mengkoreksi.

Entah dirasa atau tidak, tindakan kita dalam menolak suatu kebaikan itu hanyalah kepalsuan, kita sadar betul bahwa kita salah tapi ego tidak pernah memberi kesempatan untuk mengakuinya, dan lihat apa yang terjadi. Memberikan defense yang pada akhirnya menunjukkan bahwa kita memang bebal dan congkak. Merasa bangga hanya dengan segelitir keindahan, merasa syurga sudah digenggam tangan. Ah saya juga tak yakin kita yang sering berlaku buruk dan menolak bersikap lebih etis percaya bahwa surga neraka itu ada. Saya bukan ustadz bukan jaminan untuk bebas berbuat buruk. Karena ustadz pun bisa saja berbuat salah, tapi apakah salah jika menahan diri untuk tidak melanggar norma. Situ masih beragama kan?

Ya percaya atau ga percaya soal keagamaan, yang pasti benar agama ada untuk mengatur yang tidak beraturan. Dan yang kita percaya dan ditanamkan sejak kecil tidak melihat dari apa yang kita punya dan bagaimana bentuk wujud rupa kita. Dan Tuhan hanya melihat segala isi hati dan amalan kita, dan posisi yang paling mulia disisi Nya adalah merega yang memiliki ketaqwaan paling kuat. Dan taqwa memiliki pengaruh rasa takut pada AIlah, sehingga tidak mungkin membuat kita berbuat nakal.

Jika kita merasa tampan maka sempurnakan diri dengan ketaqwaan, jika tuhan menciptakan kita sedikit berbeda makan lengkapi kekurangan itu dengan ketaatan pula. Tentunya tak ada yang mau menjadi manusia paling rugi kan?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya