Kasus dugaan penipuan umroh murah dari penyelanggara travel ibadah, First Travel belakangan banyak diperbincangkan. Anniesa Hasibuan sebagai sosok publik figur pemilik bisnis travel ibadah tersebut turut menjadi sorotan. Tidak hanya gaya hidupnya yang glamor, mewah, berkelas bahkan "sedikit heboh" yang banyak orang gunjingkan, tapi juga dugaan penggunaan uang jamaah untuk menopang gaya hidupnya tersebutlah yang ramai dipermasalahkan. Tapi, di luar itu perlu juga kita berterimakasih kepada Ibu Anniesa Hasibuan, sebab dari kasus yang menimpanya, rakyat Indonesia akhirnya belajar…

1. Apa artinya "prestasi" kalau diraih dengan cara-cara tidak terpuji?

Awal tahun 2017 lalu, media asing dan masyarakat Indonesia diramaikan oleh berita seorang desainer kenamaan Indonesia, Anniesa Hasibuan yang berhasil masuk di deretan desainer top dunia. Pada ajang New York Fashion Week 2017, Bos First Travel ini menjadi headline berita, fotonya terpajang di mana-mana. Siapa bilang ini bukan prestasi yang membuat bangga, bisa melenggang di pentas Internasional, membawa nama harum Indonesia, dikenal luas sebagai desainer top dunia. Ah, tapi seandainya dugaan tentang penggunaan uang jamaah yang orang-orang katakan itu benar, maka seharusnya kita belajar, apa sih artinya eksistensi kalau dikejar dengan membuat orang lain rugi? Apa pula artinya prestasi kalau diraih dengan cara-cara tidak terpuji?

2. Yang terlihat "kaya" belum tentu benar-benar kaya

Gorden rumah 700 juta, pajangan jam saja setengah milyar harganya. Belum lagi deretan tas mewah, yang harganya bisa membiayai uang pendidikan ratusan orang dari TK sampai kuliah. Bagi orang awam, ini memang tampak luar biasa, siapa pula yang tak tergiur untuk tinggal di rumah mewah bak istana? Menimbun harta sebanyak-banyaknya memang tidak dosa, tidak pula melanggar peraturan negara. Ah, tapi seandainya dugaan tentang penggunaan uang jamaah yang orang-orang katakan itu benar, maka seharusnya kita belajar. Buat apa sih menimbun harta, kalau ternyata itu uang jamaah? Bukankah yang keliatan "kaya" belum tentu benar-benar kaya?

Advertisement

3. Hidup itu seperti roda, tak selamanya kita berada di atas, besok lusa boleh jadi kita terhempas

Dielu-elukan banyak orang, berteman dengan deretan artis dan selebgram, mengisi talkshow, dan seminar kewirausahaan, menjadi panutan pengusaha muda sebagai "senior" yang pengalamannya tak perlu diragukan. Ah, selain harta, tahta memang menggoda, tapi apa sih artinya kalau ini semua hanyalah sementara? Bukankah ini dunia? yang tidak ada keabadian di dalamnya? Dengan ini, maka seharusnya kita belajar, bahwa hidup itu seperti roda. Tak selamanya kita berada di atas, besok lusa boleh jadi kita terhempas.

Terima kasih First Travel, terima kasih Anniesa Hasibuan, dari kasus anda kami belajar.