Teruntuk kamu, yang pernah ada di hati

Ini mungkin ungkapan perasaan pertamaku setelah kita berpisah. Iya, setelah kamu memutuskan untuk meninggalkan aku begitu saja, tanpa ingin mendengar dan mengetahui apa yang aku juga rasakan.

Aku ingin mengucapkan terimakasih, yang mungkin belum sempat aku sampaikan padamu. Tidak, aku tidak akan marah meskipun kamu telah menghancurkan hidupku dan merusak semua mimpi mimpi yang sudah kurangkai. Aku hanya berfikir kamu telah melakukan banyak hal di dalam hidupku, dan aku telah melihat banyak hal yang sudah terjadi telah mendewasakan aku.

Aku mau mengucapkan terimakasih untuk semua hal-hal buruk yang terjadi ketika kamu bersamaku. Meskipun aku tahu, mungkin aku belum bisa memberikan yang terbaik. Tapi apapun yang saat itu aku lakukan, semua tulus dari dalam hati.

Banyak sekali waktu yang sudah dilewati bersama, dan banyak pula rasa bahagia dan sakit, tawa dan airmata yang mewarnai kala itu. Dan aku pun terjatuh, terjatuh dalam, sedalam perasaan ku saat itu. Kamu tak perlu tahu apa yang sudah aku alami, atau bagaimana cerita tentang hari hariku yang sudah terlewat kemarin.

Advertisement

Aku mencoba untuk bangun, meski harus merangkak, tertatih dan hingga akhirnya aku bisa berdiri kembali. Terlalu berlebihan kah? Mungkin iya bagimu, namun tidak untukku. Itu memang yang aku rasakan. Tak terhitung sudah berapa banyak nasihat, dukungan, sindiran bahkan sumpah serapah dari orang lain yang melihat keadaanku saat itu. Tetapi ternyata aku bisa, dengan mengorbankan ribuan hariku. Terimakasih kembali untukmu.

Jika menurutmu aku tidak pernah bisa ikhlas untuk melepasmu, kamu salah. Sungguh salah besar. Aku sudah sangat ikhlas merelakanmu pergi. Aku sudah belajar untuk bisa berlari kembali tanpamu.

Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih untukmu, yang pernah ada di hati.