Ada masa seorang pelajar harus menghadapi ujian akhir, di situ tegangnya bukan main. Apalagi yang kurang serius semasa latihan harian atau dimasa-masa belajarnya. Tapi sebenarnya, ujian itu perlu ga sih? Saya ungkap sedikit berdasarkan beberapa buku tentang filsafat yang pernah saya baca; Ujian adalah hal yang sangat penting, karena disitu letak kualitas seseorang diuji. Dalam ujian, kamu bukan lagi menjadi teman kamu atau menjadi ibumu, tapi kamu jadi dirimu sendiri. Makanya kalau ujiannya nyontek, sebesar apapun nilaimu, kamu ga layak bangga karena membanggakan sesuatu yang bukan milikmu adalah jenis gangguan kejiwaan.

Aku juga pernah diceritakan oleh seorang pengurus salah satu bangunan yang dijadikan sarang burung walet, dia bercerita bagaima seekor induk burung melahirkan anak-anak mereka, merawat mereka, sampai mengajarkan mereka cara terbang. Setelah sekian lama telur dieramnya, telur pun menetas dan mengeluarkan burung kecil, induk merapikan tempat peristirahatannya, diatur sehangat mungkin agar si anak berbalut kenyamanan dan keamanan. Setelah beberapa bulan anak-anak itu dirawat, mulai tumbuh bagian sayapnya, masih kecil.

Di situ induk burung mulai gelisah karena si anak akan bertambah muatan konsumsinya, yang bertanda bahwa si induk harus mencari makanan lebih keras lagi. Sampai pada satu masa dimana sayap si anak mulai sempuna, Si induk menggigit anaknya, dan memindahkannya keluar sangkar dengan posisi sayap menggenggam tepi sangkar agar tidak jatuh, si induk membantu anak agar paruhnya yang menggigit tepi sangkar, sehingga sayapnya dengan leluasa.

Sambil mematok-matok si anak, induk pun terlihat dengan tegas memperlakukan anaknya, si anak kesakitan, sembari berpindah dari tepi sangkar satu ke tepi lainnya demi menghindari patukan induknya. Hal itu dilakukan beberapa menit, sampai si anak kesakitan dan tidak kuat lagi, akhirnya ia pun melepaskan paruhnya dari tepi sangkar dan terjatuh.

Si anak merasakan kesakitan, sang induk mengambilnya dan mengembalikannya pada posisi semula, dan mengulangi ritual yang sama, setelah sekian kali jatuh, si anak pun mampu menguasai instingnya dan dengan lihai mengontrol sayapnya, hingga ia pun dapat terbang bebas dan hidup menjadi seekor burung yang sempurna.

Advertisement

Bayangkan apabila kita menggunakan hati dan tak tega melihat si anak, kemudian dengan alasan kasihan kita jauhkan si anak dari induknya, tentu ia tak akan bisa terbang dan tak akan mampu bertahan hidup lebih lama lagi. Inilah bentuk nikmat yang dikemas dalam siksaan.

Yang harus kita ingat bahwa di dunia ini tidak ada yang gratis, seperti kata Mattie Ross dalam film True Gritt:

“You must pay for everything in this world, one way and another. There is nothing free, except the Grace of God”

Yang perlu kita terima adalah sesuatu yang memang layak kita terima, dan yang hilang dari diri kita adalah sesuatu yang telah seharusnya hilang. Kamu tidak akan pernah bisa lepas dari akumulasi alam, bahwa ketika kamu mendapatkan sesuatu, diwaktu yang bersamaan kamu akan kehilangan sesuatu. Dan begitu juga bila kamu kehilangan sesuatu, di waktu yang bersamaan kamu mendapatkan sesuatu.

Sebagai contoh, teman saya pernah kehilangan jam tangan kesayangannya, selama seminggu dia galau dan menghabiskan malamnya dengan berlinang air mata, membayangkan masa-masa di mana jam tangan itu selalu menemani hari-harinya. Jam tangan itu dibelinya setelah lama menabung.

Jam tangan itu hilang di sebuah daerah di Jakarta Pusat, di dekat terminal, ia lupa persis prosesnya seperti apa. Tapi apa yang ia dapat? Ia mendapatkan sebuah kesadaran baru, bahwa kehati-hatian adalah hal yang sangat penting. Dan saat ini ia bersyukur karena telah menjadi orang yang waspada. Kembali pada “Price” dan “Value”, Jam tangan mewakili “Price” telah hilang, dan Tuhan menggantinya dengan “Value” berupa kesadaran dan kewaspadaan yang secara hakikat, bisa lebih lama menemani diri manusia.

Sebaliknya, kita sering temukan seorang teman atau saudara kita, yang baru mendapatkan kerja atau rejeki dan kemudian berubah menjadi pribadi yang angkuh dan tidak peduli lagi, lupa dengan teman-temannya. Ia mendapatkan sesuatu berupa “Price” tapi dia kehilangan “Value” kerendah-hatian, dalam kaca mata jiwa, ia sangat merugi.

Tuhan, dengan segala misterinya. Selalu mendidik kita agar menjadi pribadi, bukan hanya sekedar tubuh. Agar menjadi seseorang yang mampu bertahan dalam kebaikan, agar mampu mempersembahkan sesuatu kepada orang lain. Tuhan sengaja menciptakan manusia dengan kecendurungan kepada kebaikan ketimbang kejahatan agar tampak, mana yang salah dan mana yang benar.

Jangan mendikte Tuhan untuk menyempurnakan dirimu, karena Ia lebih tau apa yang terbaik untukmu. Jangan ajarkan Tuhan bagaimana cara membahagiakanmu, ada nikmat yang lupa kau raih karena masih berkemas siksa.